witnessday

Apa Bedanya Spiritual dan Agamis?

Belakangan ini istilah “spiritual” sudah semakin sering terdengar. Hal baru yang dekat dengan agama namun tidak benar-benar sama. Tetapi jika dikatakan bertolak belakang pun, mereka sangat dekat dan memiliki kemiripan. Lalu bagaimana membedakannya?

Selama keberadaannya, manusia selalu mencari kebenaran, jawaban dari semua pertanyaan yang ada pada hidup dan dunia seperti “Siapa sebenarnya saya?”, “Apa tujuan hidup saya?”, dan “Apa arti kehidupan?”

Dalam perspektif jiwa, ada 2 rute yang dapat mengantarkan kita kepada kenyataan: agama dan spiritualisme. Secara pengertiannya, agama seperti sebuah sistem yang mengatur tindakan, kepercayaan dan praktek keagamaan itu sendiri; biasanya dalam bentuk mengagungkan dan memberikan pelayanan kepada Tuhan. Sedangkan spiritualisme sendiri lebih dekat dengan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari kita tanpa memandang atau memuja suatu sosok.

Agama sangat dengan suatu figur atau sosok yang kita jadikan sebagai panutan; mulai dai bagaimana ia menjalankan hidupnya, pengajarannya dan juga apa yang ia percayai. Umat Kristiani menjadikan Yesus sebagai sosok panutannya, sedangkan Umat Islam menjadikan Nabi Muhammad sebagai panutannya. Sedangkan spiritualisme sendiri lebih menekankan pada aplikasi pengajarannya.

Maka dari itu pasti kita sering bertemu dengan orang yang sangat religius, rajin beribadah, namun tidak terlalu mengamalkan ajaran agamanya, sedangkan ada orang lain yang melakukan kebalikannya. Hal seperti ini sangat lumrah terlihat di sekitar kita.

Namun perlu saya tekankan bahwa artikel ini tidak dimaksudkan untuk menyatakan mana yang lebih baik atau lebih valid. Namun artikel ini ingin mengajak kamu untuk melakukan eksplorasi dari 2 sudut pandang berbeda dalam mencari kebenaran.

Agama adalah salah sistem yang memiliki bentuk, teroganisir. Sedangkan spiritualisme seperti tanpa bentuk, bebas mengalir ke mana saja. Ibarat bermain bola; Pada agama kita akan bermain bola lengkap dengan peraturan, lapangan, wasit dan sebagainya. Namun secara spiritualisme, kita dibebaskan untuk bermain bola dengan cara apapun, ke arah manapun dan dimanapun.

Bagi saya sendiri, agama dan spritualisme bisa dijalankan bersamaan dan malah bisa menjadi suatu harmoni yang baik. Bayangkan jika kita bermain bola dengan sebuah peraturan, namun kita tetap dapat merasa bebas dalam memainkannya? Bukankah permainan akan menjadi lebih seru.

Spiritualisme dan agama bukan sesuatu yang diibaratkan sebagai hitam dan putih. Keduanya bercampur dalam kehidupan kita. Namun memang pada prakteknya, kita memiliki kecenderungan yang berbeda.

Bagaimanakah dengan kamu? Apakah kamu lebih banyak menyalurkan energi pada kegiatan pemujuaan dan juga pelayanan kepada Tuhan? Ataukah kamu lebih banyak mengamalkan kebaikan tanpa berpatokan dengan sosok atau ajaran manapun? Yuk jawab di kolom komentar!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter