witnessday

4 Cara Berikutnya untuk Bekerja dengan Penuh Kesadaran

a

 

Bekerja dengan penuh kesadaran bukan hanya memberikan dampak yang baik pada kinerja kita; namun juga pada kesehatan dan kesejahteraan diri. Tekanan yang datang jadi terasa lebih ringan, tugas-tugas menumpuk bisa ditangani dengan lebih baik, bahkan hubungan kita dengan orang-orang yang bekerja di sekitar kita pun bisa tetap dalam keadaan yang baik.

 

“Mindfulness is the aware, balanced acceptance of the present experience. It isn’t more complicated than that. It is opening to or receiving the present moment, pleasant or unpleasant, just as it is, without either clinging to it or rejecting it.” – Sylvia Boorstein

 

Pada 2 artikel sebelumnya, saya sudah menjelaskan berbagai cara untuk bekerja dengan penuh kesadaran. Pada kesempatan kali ini, saya akan menjabarkan 4 cara berikutnya untuk bekerja dengan penuh kesadaran. Berikut adalah keempat cara tersebut:

 

1. Menetralkan Penilaian Negatif

 

Manusia memiliki kecenderungan untuk memberikan penilaian negatif secara otomatis; di mana kita jadi lebih sering mencurigai, berpikiran buruk terhadap sesuatu dan tanpa kita sadari, kita tenggelam di dalam penilaian negatif tersebut. Hal ini tentu tidak baik karena kita akan menilai sesuatu dengan tidak apa adanya dan cenderung berlebihan. Salah satu cara untuk mengurangi munculnya penilaian negatif tersebut adalah dengan bersyukur. Banyak peneliti yang membuktikan bahwa praktek bersyukur yang dijalankan secara aktif akan membuat kita merasa lebih baik, memberikan dampak yang positif pada kreativitas, kesehatan, hubungan kerja dan juga kualitas kerja.

Misalnya, ketika kita harus berhadapan terhadap kritik yang diberikan atasan, penilaian negatif ini sangatlah mungkin untuk muncul. Kemungkinan munculnya penilaian negatif terhadap atasan kita adalah besar; bisa jadi kita malah menilai bahwa dia membenci kita secara personal, atau menganggap bahwa atasan kita hanya sengaja mencari kesalahan kita. Dengan munculnya pemikiran tersebut, kita jadi sulit untuk bekerjasama dengan atasan kita di kemudian hari. Timbul rasa curiga dan benci; padahal semuanya hanya ada di dalam pikiran kita.

Akan menjadi berbeda ceritanya jika kita menanggapi kritik tersebut dengan rasa syukur, “Untung beliau memberikan tegurannya dengan jelas, jadi kita semua tahu hal apa yang salah dan ada kesempatan untuk memperbaikinya.” Dengan terus menerus mencari hal yang bisa disyukuri setiap saat, kamu akan menyadari apa saja yang sudah berjalan dengan baik di dalam kehidupanmu dan hal tersebut akan mengembangkan ‘daya tahanmu’. Daripada membiarkan pikiranmu terus menerus cemas atau bahkan tenggelam dalam mood yang jelek karena penilaian negatif di dalam pikiranmu yang mana tidak selalu sesuai dengan kenyataannya.

Meski begitu, kamu tetap harus bisa menjaga batasan sehat. Bukan berarti dengan bersyukur kamu jadi sangat pasif dan menerima apa saja yang sudah tersedia tanpa ada keinginan untuk berkembang. Dalam konteks pekerjaan, jikalau kamu sampai sulit untuk mengembangkan potensi diri, keputusan untuk mencari pekerjaan lain bukanlah suatu hal yang salah. Dengan melatih diri untuk terus bersyukur, setidaknya kamu sudah berada dalam keadaan mental yang positif sehingga kamu bisa memilih pekerjaan dengan posisi yang sesuai. Performa saat interview pun akan menjadi baik sehingga kemungkinan kamu untuk direkrut menjadi lebih tinggi.

 

 

2. Kembangkan Kerendahan Hati

 

Humility (kerendahan hati) berasal dari kata Latin ‘humilis’, yang berarti membumi. Orang yang rendah hati memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan tidak membutuhkan apresiasi dari orang lain terus menerus. Kerendahan hati mungkin terlihat sebagai kebalikan dari budaya kita yang terbiasa untuk menglorifikasi pencapaian diri secara terus menerus.

Pada salah satu buku Jim Collin yang populer Good to Great, ia mengidentifikasi pemimpin yang berhasil membawa perusahaan ke dalam kondisi yang lebih baik. Ia menemukan bahwa perusahaan yang memiliki kesuksesan jangka panjang (setidaknya berkembang secara terus menerus selama 15 tahun) memiliki pemimpin yang biasa saja. Namun mereka memiliki 1 kualitas tambahan, yaitu kerendahan hati.

Mereka mau untuk bekerja keras, namun bukan untuk diri mereka sendiri ataupun untuk perusahaan; namun untuk proses pertumbuhan, pengembangan dan pembelajaran bersama.  Jika ada sesuatu yang salah, mereka tidak akan mencari kambing hitam untuk melindungi diri mereka sendiri. Selain itu, ketika segalanya berjalan dengan mulus, mereka akan menunjuk orang lain untuk memberikan ucapan selamat. Mereka adalah pemimpin yang tidak memiliki ego besar yang perlu untuk dilindungi setiap saat.

Kerendahan hati sering disalahartikan sebagai menjadi penurut atau pemalu. Sayangnya ketiga hal tersebut sangatlah berbeda. Kerendahan hati bukan berarti melihat diri sendiri sebagai sosok yang inferior, lemah dan tidak berdaya; malah sebaliknya. Rendah hati adalah kondisi di mana seseorang menjadi sadar akan ketergantungan kepada orang lain secara alamiah dan menyadari berbagai kesamaan diri dengan orang di sekitar.

Bagaimana kerendahan hati bisa dihubungkan dengan kesadaran? Menjadi sadar adalah perihal bagaimana kita bisa menerima diri kita apa adanya, dan menjadi terbuka untuk mendengarkan dan belajar dari orang lain. Berkesadaran juga sama dengan bersyukur – kita memberikan apresiasi setiap bantuan yang telah diberikan. Dan seseorang yang bersyukur atas kontribusi yang diberikan orang lain adalah seseorang yang sangat rendah hati.

 

3. Terima Segala Hal yang Tidak Bisa Diubah

 

 

Penerimaan adalah aspek terpenting dari kesadaran. Menjadi sadar berarti bisa menerima momen saat ini sebagaimana adanya. Dan hal ini juga berarti menerima diri sendiri, sebagaimana adanya. Namun, bukan berarti menjadi pasrah. Tetapi lebih kepada menyadari kenyataan mengenai apa yang ada saat ini sebelum mencoba memberi penilaian atau bahkan mengubah apapun.

Di saat kamu menggunakan uang melebihi budget yang disediakan, itulah faktanya. Hal tersebut sudah terlanjur terjadi. Begitu kamu menerimanya, kamu bisa langsung mengambil langkah untuk menghadapi dan mengatasi situasi tersebut. Namun jika kamu sulit untuk menerima kenyataan, kamu bisa menjadi denial (mungkin akan menyebabkan kamu lanjut belanja melebihi budget lagi) atau menghindar (kamu akan terus melewatkan meeting dengan atasan secara sengaja) atau agresi (kamu menyalurkan kemarahan yang tak semestinya kepada anggota tim, sehingga mempengaruhi hubungan). Daripada seperti itu, kamu bisa melihat situasi apa adanya, menerimanya sebagai bagian dari kenyataan yang harus dihadapi sehingga bisa mendiskusikannya dengan kepala dingin. Penerimaan akan membawamu menuju perubahan yang lebih baik.

t

Ketika kamu menerima dirimu, kamu akan menghentikan kebiasaan mengkritik diri sendiri secara berlebihan. Kamu akan menjadi lebih dapat menikmati kesuksesanmu dan menerima setiap kekuranganmu.

 

 

4. Biasakan Tumbuh dengan Growth Mindset

 

Menurut Carol Dwek dan timnya di peneliti Universitas Stanford, orang biasanya mengikuti salah satu dari 2 pola pikir – fixed mindset atau growth mindset. Seseorang dengan fixed mindset percaya bahwa kualitas dasar mereka, seperti kecerdasan dan bakat mereka, adalah hal yang tetap. Daripada mengembangkan kecerdasan dan bakat mereka, mereka hanya akan berharap bahwa apa yang mereka miliki bisa membawa mereka menuju kesuksesan. Mereka tidak berminat untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Sedangkan seseorang dengan growth mindset percaya bahwa mereka dapat mengembangkan kecerdasan dan bakatnya dengan berusaha dan kerja keras. Mereka menganggap kecerdasan dan bakat yang dimiliki sebagai modal yang perlu diolah dengan kerja keras dan keinginan untuk berkembang yang kuat. Orang dengan mindset seperti ini memiliki kecintaan pada proses pembelajaran dan menunjukkan kekokohan tekad yang lebih kuat. Kesuksesan di berbagai bidang (terutama karir) sangatlah bergantung pada kepemilikan growth mindset seseorang.

Kesadaran bisa diterapkan pada banyak hal; salah satunya adalah pada mindset. Bagaimana kita bisa memberikan perhatian pada kecerdasan dan bakat yang kita miliki saat ini tanpa memberikan penghakiman terhadapnya. Namun, kita tetap dapat terbuka pada berbagai kemungkinan baru. Ketika kita menerapkan growth mindset pada apa yang sedang dikerjakan, kita tidak akan bermasalah dengan kritik yang muncul karena kita akan dapat memandangnya sebagai kesempatan untuk belajar hal baru.

Kita akan lebih siap menerima tanggung jawab baru. Akan muncul harapan di mana kita bisa bergerak maju menghadapi tantangan, melihat tantangan dan masalah sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri. Itulah esensi dari kesadaran; percaya bahwa kita dapat berkembang dengan pengalaman, tegar menghadapi rintangan, hidup di saat ini dan menemukan hal baru mengenai dirimu sendiri dan orang lain.

Seiring dengan berjalannya waktu, kamu akan menyadari kalau kamu sudah terbiasa berkembang dengan growth mindset, dan membawamu menuju kesuksesan yang lebih besar dan kemampuan yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Tanpa kita sadari ternyata ada banyak sekali aspek yang berpengaruh ketika kita menjadi sadar; baik dari bagaimana kita memberikan penilaian pada suatu kejadian, kerendahan hati, kemampuan untuk menerima hingga mindset yang kita miliki. Berbagai hal tersebut memberikan dampak yang luar biasa terhadap kehidupan kita, terutama pekerjaan kita.

Dengan 3 artikel ini, maka sudah 10 cara yang bisa kamu coba dan latih setiap harinya agar bisa bekerja dengan penuh kesadaran. Dari 10 cara tersebut, cara yang mana yang menurutmu paling sulit untuk dilakukan dan mengapa? Yuk share pendapatmu di kolom komentar!

 

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter