witnessday

Depresi: Memahami Gejala dan Penyebabnya

Dalam beberapa periode ini, kita seringkali mendengar berbagai kasus bunuh diri yang terjadi karena depresi. Mulai dari kematian musisi ternama Chris Cornell, lalu Chester Bennington. Dan beberapa hari yang lalu, kita juga baru saja menerima kabar duka serupa dari seorang fashion designer ternama, Kate Spade, dan juga professional chef, Anthony Bourdain.

Mungkin di antara teman-teman ada yang bingung dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin sosok yang terkenal, bertalenta, dan juga tidak kekurangan apapun bisa depresi hingga memutuskan untuk bunuh diri?

 

“Depression is an illness. It is not a ticket to genius. It is not an interesting personality quirk. It is horrible and all-consuming and really hurts.” – Matt Haig

 

Depresi adalah kelainan pada mood yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan ketertarikan akan berbagai hal secara terus menerus. Hal ini mempengaruhi bagaimana penderitanya merasakan sesuatu, berpikir dan bertingkah laku sehingga bisa menjurus ke berbagai masalah lainnya; baik masalah pada emosi maupun fisik. Penderita depresi akan merasakan kesulitan dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari dan mungkin akan merasakan bahwa hidup ini tidak ada gunanya lagi.

Gejala yang muncul setiap penderitanya berbeda-beda; ada yang merasa sangat sedih hingga mengurung atau menarik diri dari lingkungannya, ada juga yang merasa sangat sulit dalam mengontrol emosinya; mulai menangis selama beberapa saat tanpa alasan yang jelas, atau bahkan menjadi lebih mudah marah sehingga tak jarang membuat hubungannya dengan orang lain menjadi buruk.

Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, depresi juga memberikan berbagai kesulitan yang berdampak hingga dimensi fisik. Penderita depresi biasanya memiliki kesulitan untuk konsentrasi dan mengingat sesuatu. Selain itu, penderita depresi seringkali merasakan nyeri pada bagian tubuhnya, atau maag. Rasa lelah yang berlebihan juga seringkali menghantui mereka sehingga sulit bagi para penderita depresi untuk tidur lelap atau bahkan sulit untuk merasa telah istirahat dengan cukup meski sudah tidur lebih dari 8 jam dalam sehari.

Dalam sudut pandang spiritual sendiri, depresi adalah momen di mana seseorang sedang mengalami masa kegelapan dan absennya cahaya. Depresi terjadi karena rasa sakit, hal negatif, pengalaman buruk, emosi masa lalu, luka lama, kesulitan yang dihadapi saat ini dan kekhawatiran akan masa depan yang menumpuk di dalam diri.

Emosi yang begitu pekat, berat dan gelap ini terus menerus menumpuk di dalam tubuh, memberikan beban berat, meredupkan cahaya yang dimiliki dan membuatmu semakin sulit untuk menanganinya. Depresi bagaikan energi pekat berlebih yang muncul ketika emosi, perasaan dan pengalaman yang menyakitkan belum dilepaskan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harvard Medical School, beberapa penyebab depresi di antaranya adalah karena adanya perbedaan biologis, unsur kimia pada otak, hormon dan juga keturunan. Namun, secara sederhana penyebab timbulnya depresi ini bisa dibagi menjadi 2; dari emosi dalam diri, atau emosi yang terserap dari luar.

Emosi dari Dalam diri

Tak bisa dipungkiri, banyak sekali di antara kita yang masih percaya bahwa dengan meraih kesuksesan material; menjadi kaya, memiliki karir yang baik, menjadi cantik/ganteng sesuai dengan standar kecantikan pada umumnya, maka otomatis akan membuat diri kita menjadi bahagia. Coba deh kita tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita diam-diam, secara tidak sadar, masih memegang kepercayaan tersebut?

Riset yang dilakukan oleh Dr. Joanne Dickson, dari University of Liverpool’s Institute of Psychology, Health and Society, menemukan bahwa penderita depresi cenderung membuat lebih banyak tujuan hidup yang lebih ‘umum’ dibandingkan orang lain yang tidak mengalami depresi. Daftar tujuan hidup yang dibuat seringkali tidak fokus dan kurang mendetail sehingga sulit untuk mencapainya dan menyebabkan spiral pikiran negatif; kian memburuk setiap kali merasa gagal untuk mencapai tujuan hidup.

Setiap kali kita merasa gagal dalam mencapai sesuatu, kita cenderung akan merasa tidak berharga, merasa bersalah, menghakimi diri sendiri sebagai pemalas atau tidak bermanfaat. Kita malah mengabaikan fakta bahwa dengan ‘hadir dan berada pada saat ini’ sudahlah cukup untuk menjalani kehidupan. Kita tidak memerlukan semua pencapaian palsu tersebut.

Belum lagi ketika kita harus dihadapkan dengan hal yang kita tidak bisa hindari; perubahan besar dalam hidup, permasalahan seputar kematian dan kelahiran, putusnya sebuah hubungan, hilangnya pekerjaan dan masalah pada kesehatan. Perasaan gagal permanen dan tidak berdaya ini benar-benar menjauhkan kita dari cahaya dan juga kebahagiaan dari hidup kita. Bisa bayangkan dong, betapa beratnya menjalani kehidupan dengan keadaan mental seperti ini? Maka dari itu tidak heran jika banyak di antara kita yang terjebak dan tenggelam dalam emosi, negativitas yang meluap-luap.

Emosi yang Terserap dari Luar

Sebuah studi dari British Psychological Society menemukan bahwa 46% psikolog dan psikoterapis mengalami depresi dan 49,5% dari mereka merasakan kegagalan. Penyebab utamanya adalah burnout, low morale dan tingginya stress (70%) dan tekanan pekerjaan yang secara tidak langsung memberikan para praktisi tanggungjawab untuk memperbaiki kesehatan mental publik.

Penemuan ini tidaklah mengejutkan; berbagai ekspektasi dan harapan klien agar keadaannya bisa membaik atau mungkin sembuh sesegera mungkin setelah konsultasi secara tidak langsung akan memberikan beban tersendiri kepada praktisi. Jika harapan klien belum terpenuhi, perasaan bersalah cenderung akan muncul dalam diri praktisi. Maka dari itu, saya sendiri juga sadar bahwa profesi yang sedang dijalankan ini sangat rentan untuk membuat saya merasa burnout.

Di sela-sela kesibukan saya, saya selalu menyempatkan diri untuk me time, kontemplasi, meditasi dan juga menjaga jarak yang sehat. Itulah alasan mengapa ada saatnya ketika saya telat membalas pesan/email; karena memang sedang tidak bisa atau moodnya sedang kurang baik.

Berbagai ekspektasi dan tekanan tersebut juga bisa dirasakan ketika berada di kantor ataupun di rumah; ketika kita belum mencapai target, belum bisa memenuhi ekspektasi pasangan, anak, orangtua, atasan, meskipun mereka tidak menyampaikannya, kita juga bisa merasakan perasaan yang sama. Apalagi masyarakat kita cenderung membuat pembicaraan mengenai kesedihan, luka batin, dan perasaan kurang menjadi tabu. Hal ini membuat kita menjadi memendam perasaan tersebut sendirian dan membiarkannya menyerang diri kita sendiri, sesuai seperti apa yang dikemukakan Sigmund Freud, salah satu neurologis ternama, mengenai penyebab depresi.

Bayangkan saja, para praktisi kesehatan mental yang sudah mengerti bagaimana menjaga kesehatan mental saja bisa mengalami depresi, apalagi orang biasa yang selama ini belum pernah mendapatkan pengetahuan bagaimana cara mengelola stress?

 

“Though this may not immediately be apparent to the self in the midst of pain, grief or sorrow, what has limitation on the one side, offers the possibility for learning and for greater life on the other.”

 

Depresi tampak begitu menyeramkan; ia tidak pandang bulu. Siapapun bisa mengalaminya; pebisnis sukses, relawan, karyawan, penulis atau bahkan saya sekalipun. Maka dari itu penting bagi kita untuk mulai menjalani hidup dengan penuh kesadaran; kita jadi lebih memahami diri kita sendiri; kita dapat mengetahui apa saja yang menjadi pemicu pikiran negatif dan bagaimana cara untuk mengembalikan fokus kepada apa yang terjadi saat ini.

Bagaimana dengan kamu? Apa saja beban masa lalu yang masih kamu bawa dan terpikirkan hingga saat ini? Hal apa saja yang membuatmu khawatir akan masa depan? Silakan share apa yang kamu rasakan dengan menghubungi saya di sini 🙂

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter