witnessday

Yuk Duduk Bersama Ketidaknyamanan

Kita terbiasa untuk lari, untuk menghindar dari apapun yang membuat kita merasa tidak nyaman, rasa sakit, ataupun kesulitan yang kita hadapi. Itu adalah hal yang wajar, karena memang itu adalah salah satu bentuk dari mekanisme pertahanan diri kita sehingga pada saat itu, kita bisa merasa sedikit lebih lega.

Namun, seringkali kita menjadikan momen menghindar untuk lari dari keadaan. Memalingkan kita dari kenyataan yang ada di depan kita. Kita membuat diri kita tetap sibuk, namun tidak pernah belajar untuk menghadapinya. Menghindar bukan lagi menjadi momen untuk menenangkan diri. Menghindar seringkali dianggap sebagai solusi.

Nyatanya, masalah apa sih yang bisa diselesaikan dengan terus menghindar? Bayangkan jika semua orang menghindar dari masalah, apakah masalahnya bisa selesai? Yang ada malah sebuah ”harga” yang nantinya terpaksa kita bayar jika kita terus menerus menghindari hal tersebut.
Sama seperti sakit gigi. Ketika kita menolak ke dokter gigi di awal kita merasa sakit, tentu kita akan merasa lebih aman karena tidak perlu menghadapi mesin-mesin yang bikin ngilu. Tetapi jika kita terus menghindari kunjungan ke dokter gigi, sebulan dua bulan mungkin tidak ada perbedaan berarti. Namun dalam jangka waktu menahun, yang ada sakitnya semakin parah. Dan yang dihadapi mungkin bukan mesin-mesin biasa. Bisa jadi malah operasi yang lebih menakutkan. Nah sekarang, bagaimana jika menghindar selalu menjadi cara kita ketika dihadapkan dengan kesulitan hidup?


Pada awalnya, menghindar bukan hal yang buruk jika dilakukan hanya untuk menenangkan diri. Namun, seringkali kita malah jadi merasa nyaman dan akhirnya terus menerus melakukannya sehingga menjadi sulit bagi kita untuk mulai berdiri tegar menghadapi masalah tersebut.

Namun, saya cukup yakin kita semua bisa mulai menghadapi itu semua dengan cara:

1. Tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang sedang saya lakukan?”
Ketika sedang beraktivitas kita seringkali tidak sadar akan setiap aktivitas kita. Saat kita scrolling layar hp, seringkali kita lupa apa tujuan kita sebenarnya. Di lain waktu, ketika kita dihadapkan dengan suatu masalah, mungkin kita sudah secara otomatis untuk melakukan hal lain yang tidak berhubungan dengan masalah tersebut. Misalnya ketika kita berdebat dengan pasangan, mungkin kita sudah secara otomatis mengeluarkan hp dari dalam tas.
Coba sadari gerak gerik kita, keputusan kita, pikiran kita. Bagaimana tubuh kita memberikan reaksi ketika hal yang tidak nyaman hadir. Dengan begitu kita akan mengerti momen-momen apa saja yang membuat kita tidak nyaman.

2. Lanjutkan dengan, “Apa yang sebenarnya saya hindari?”
Terkadang alasan kita untuk menghindar terdengar begitu simple, “Malas berdebat”, “Gak pengen denger apa-apa lagi dari dia”, “Masih banyak yang lebih penting” dan lain sebagainya.

Tapi sadarkah kamu bahwa sebenarnya ada hal lain di balik itu semua? Kenapa malas berdebat? Apakah karena kamu mudah terbawa emosi? Ataukah karena diam-diam semua yang dikatakannya benar dan kamu terlalu nyaman untuk mau berubah?

3. Coba ‘duduk’ bersama masalah tersebut
Ketika kamu baca artikel ini, mungkin saja kamu sudah berada pada momen di mana masalah sudah semakin besar dan semakin runyam. Kamu tidak nyaman untuk terus menghindar, namun juga tidak memiliki keberanian untuk mulai melakukan sesuatu.

Salah satu hal terbaik adalah dengan ‘duduk’ bersama masalah tersebut. Ketika pasanganmu marah-marah, coba untuk dengarkan keluh kesahnya. Coba kontrol diri untuk tidak mengambil hp dan mengalihkan pikiranmu. Tidak perlu memberikan respon terlebih dahulu, coba dengarkan, jika tidak bisa sampai selesai, cukup coba sejenak saja.

Dengan ‘duduk’ bersama masalah tersebut, kita akan semakin familiar dengan rasa tidak nyaman yang muncul. Kita semakin mengenal dan merasakan benar-benar dari mana munculnya rasa tidak nyaman tersebut dan perlahan-lahan kita sudah bisa menerima rasa tidak nyaman tersebut.

4. Ambil langkah pertama
Pada kasus-kasus seperti kekerasan dalam pacaran, ada banyak korbannya yang terus menghindar ketika teman-temannya mencoba menasihatinya untuk berpisah dengan pasangannya yang kasar. Seringkali itu terjadi bukan karena ia tidak mau mendengar nasihat temannya, namun karena terlalu takut untuk melakukannya. Meski ia tau bahwa meninggalkan pasangannya yang kasar adalah pilihan logis yang baik untuk dirinya.

Tentu akan sulit jika kita harus langsung mengambil langkah besar. Namun, kita bisa mencoba dari langkah kecil terlebih dahulu. Daripada menghindar, lebih baik ungkapkan perasaanmu. Bisa kepada teman, keluarga atau pun ditulis di atas kertas. Dengan begitu satu per satu lapisan dalam diri bisa terbuka dan semakin ada petunjuk-petunjuk kecil yang bisa dilakukan untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut.

 

Tentu tidak semua masalah akan selesai begitu saja begitu menjalankan cara ini. Namun saya dapat memastikan bahwa kamu akan mendapatkan berbagai sudut panadng baru begitu mulai mencoba cara ini. Perlahan-lahan kamu akan mulai dapat berhadapan dengan rasa tidak nyaman dan terbiasa dengan perasaan tidak nyaman ini.


Selain itu, kamu juga akan lebih sadar akan saat ini dan distraksi pun mulai berkurang. Memang tidak dalam waktu sehari, namun dengan latihan yang konsisten. Mungkin saat ini kamu ingin menunda melakukan beberapa cara di atas. Sadarilah bahwa itu juga bagian dari menghindar. Yuk kita coba bersama-sama hadapi rasa tidak nyaman ini!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter