witnessday

Curcol Boleh, Nyalahin Jangan!

 

Minggu ini semua orang sudah kembali beraktivitas seperti semula. Ada yang kembali bekerja, ada yang kembali berkuliah, ada juga yang kembali ke kegiatan rumah tangganya. Masih dikelilingi aura liburan, rasanya pasti malas sekali untuk kembali ke rutinitas dan juga berat sekali untuk catch up dengan berbagai hal yang tertunda selama lebaran.

Tenang, kamu gak sendirian kok. Banyak juga yang mengalaminya. Saya belakangan ini banyak sekali mendengar curhatan dan keluh kesah di minggu pertama bekerja teman-teman dan juga klien. Tapi, hati-hati, jangan sampai kebablasan jadi menyalahkan pihak lain.

“Duh banyak banget kerjaan.. Dia sih gak kerja, kerjaannya malah ditumpuk di sini.”, “Capek banget ngurusin banyak hal karena Si Kecil terus aja ngeberantakin kamar.”. Keluhan tak kunjung habis, dan selalu ada saja yang disalahkan.

Banyak orang yang bilang bahwa curcol bukanlah kebiasaan yang baik. Namun menurut saya, curcol adalah bagian dari proses menyalurkan energi. Dan curcol adalah salah satu cara untuk mengeluarkan uneg-uneg yang sehat, dan jujur apa adanya. Namun memang, tidak semua orang curcol dengan cara yang baik. Seringkali orang curcol sambil menyalahkan orang lain. Curcol seringkali bukan menjadi ajang untuk mengeluarkan uneg-uneg, tetapi malah untuk menyudutkan pihak lain; memperlihatkan bahwa saya adalah korban, dan orang lain adalah penyebab saya menderita.

Padahal, sadar gak sih kalau kita malah mengabaikan kekuatan kita untuk memberikan perubahan?

Setiap orang terlahir pasti memiliki kekuatan; untuk berkembang, untuk menyuarakan pendapatnya, dan bahkan untuk membuat perubahan. Dengan kita terus menerus fokus pada “siapa yang bisa disalahkan” pada setiap kejadian, kita tidak menyelesaikan masalah; yang ada malah membuat masalah menjadi runyam. Kepada siapapun kesalahan tersebut dibebankan; kepada orang lain ataupun diri sendiri, tentu ini menjadi kurang tepat.

Untuk menyelesaikan masalah, kita harus bisa tenang terlebih dahulu, mencoba fokus untuk mencari penyebab utama dan mengurai benang kusut. Jika penyebabnya adalah ketidak-telitian seseorang, hindari untuk menunjuk orang tersebut sebagai penyebabnya. Namun, cobalah mengambil sudut pandang yang lebih bijak. Sehingga kita bisa menyediakan jalan keluar yang lebih solutif.

Misalnya, ketika rekan kerja kamu tidak teliti sehingga salah melakukan perhitungan, daripada terus menerus mengatakan bahwa rekan kerja kamu yang harus bertanggung jawab, lebih baik fokus dengan bagaimana kita bisa memperbaiki hasil yang ada dan mencegah agar ketidak-telitian itu tidak terjadi lagi. Entah dengan melakukan cross-check bersama, atau dengan memberikan poin penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan perhitungan.

Saya paham, kita semua pasti juga bisa merasa lelah. Setelah berjuang sedemikian keras, ada saja berbagai hal yang terjadi di luar kehendak kita. Dan seringkali hal di luar kehendak itu jauh dari apa yang kita harapkan. Maka dari itu sangatlah wajar dan manusiawi jika kita curcol. Namun, curcol-lah dengan mindful. Sampaikan apa yang dirasakan; fokus pada apa yang dirasakan diri sendiri, bukan fokus pada siapa yang salah. Bukan hanya itu, feel free untuk curcol ketika semuanya terasa berat, namun bukan curcol setiap saat.

Hindari menyalahkan, yuk mulai curcol dengan sehat!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter