witnessday

Bertanggungjawab Terhadap (Kebahagiaan) Diri Sendiri

Banyak orang bijak berkata bahwa kita tidak dapat mengontrol keadaan di luar diri kita, namun kita adalah pemegang kendali penuh atas diri kita; jadi segala emosi, pikiran, keputusan, tindakan yang kita lakukan adalah sepenuhnya tanggung jawab diri kita sendiri, bukan orang lain.

Hal seperti ini mudah dimengerti sebagai teori, tapi prakteknya tidak selalu gampang. Bahkan terkadang, sangat sangat berat. Walaupun sudah paham, bukan berarti kita akan serta merta terima kalau keinginan kita tidak terkabul atau harapan kita tidak terpenuhi. Saya jadi ingat beberapa kejadian.  Waktu kecil misalnya, ketika orang tua saya membatalkan acara jalan-jalan keluarga ke luar kota, saya bisa sangat ngambek dan bete ketika diajak bicara.  Begitu dewasa pun sama, ketika pacar melakukan hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi, saya kembali ngambek, kecewa dan marah. Bahkan tidak selesai sampai di sana, semakin saya ngambek dan kesal, semakin saya tidak suka dengan diri sendiri. Hubungan jadinya penuh dengan pengharapan dan tuntutan. Pernah merasakan hal yang sama?

Seiring dengan berjalannya waktu dan juga bertambahnya pengalaman, saya menyadari berharap dan menggantungkan kebahagiaan pada orang lain sungguh hanya bikin kecewa saja. Kitanya sakit, orang lain yang kena dampratnya juga sakit. Akhirnya hubungan makin renggang dan penuh dengan pertengkaran. Ini bukan yang kita mau dalam hidup, kan?! Ketika saya merasa tersakiti, sebenarnya saya bisa saja memilih untuk tetap tenang daripada marah-marah dan menyakiti orang lain. Namun memang, butuh waktu dan proses yang panjang untuk bisa memilih dengan sadar apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Dan dengan kesadaran itulah, kita bisa mulai terbiasa untuk lebih bertanggung jawab atas diri sendiri, bagaimana kita memandang kehidupan dan juga kesejahteraan diri sendiri. Nah, bagaimana caranya?

1. Hiduplah di Sini, Saat Ini

Saya rasa ini adalah topik yang sudah sering saya bahas di berbagai artikel. Namun, memang inilah kuncinya. Ketika marah, kita terlalu fokus dan terlarut pada emosi kita. Diri kita disetir sedemikian rupa oleh perasaan yang muncul. Kita menjadi reaktif dan mengabaikan realita; sebenarnya apa sih yang sedang terjadi saat ini?

Ketika emosi-emosi tersebut muncul, coba amati tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, tanpa memberikan reaksi atau penghakiman apapun. Coba tanya kepada diri sendiri: apa sih yang sebenarnya membuat saya marah? Apa yang sebenarnya saya butuhkan? Dengan begitu kita bisa menjadi lebih tenang dan semakin memahami diri sendiri. Selain itu, kita juga jadi semakin mengerti hal-hal apa saja yang bisa kita kendalikan agar kita merasa bahagia.

2. Menjadi Jujur

Bagi sebagian orang, jujur merupakan hal yang sulit. Misalnya saja, ketika kita merasa begitu marah dengan pasangan kita, daripada memilih untuk menyampaikan perasaan kita yang sebenarnya, seringkali kita memilih untuk berkata, “aku nggak papa”, bukan?

Hal tersebut biasanya timbul dari rasa takut dan khawatir jika tidak diterima atau menyakiti lawan bicara kita. Padahal, ada banyak cara untuk menyampaikan sesuatu secara jujur tanpa harus menyerang orang yang kita sayangi. Misalnya, ketimbang berkata “Kamu kok nggak peduli banget sih, harus aku terus yang urusin anak-anak!”, kita bisa berkata, “Sayang, aku lagi kecapean dan merasa kurang dukungan lho.. kamu bisa bantu aku untuk cek PRnya anak-anak?”

Dengan demikian, kamu tetap bisa mengutarakan perasaan kamu dengan jujur, memberitahu apa yang bisa membuatmu merasa didukung tanpa harus menyerang atau menyakiti siapapun. Bisa dicoba kan?

3. Tahu Apa yang Kita Inginkan

Seperti cerita saya sebelumnya, waktu kecil, saya pernah uring-uringan karena orang tua saya membatalkan acara jalan-jalan keluar kota. Saya kesal dan ngambek sejadi-jadinya kepada mereka. Menggunakan tips di poin nomor satu, di saat seperti ini kita bisa bertanya kepada diri sendiri: Sebenarnya kenapa sih saya kesal? Apa yang sebetulnya saya inginkan? Dengan mendengarkan jawaban yang datang dari dalam hati, saya jadi paham bahwa yang saya harapkan bukan soal tempat yang harusnya kita jadi kunjungi itu. Yang saya harapkan adalah komitmen dari orangtua untuk bisa jalan-jalan dan berlibur bersama. Kalau mau dilihat lebih dalam lagi, yang saya butuhkan sebenarnya “hanyalah” kebersamaan dengan mereka, tanpa ada beban tugas sekolah atau kerja seperti kalau sedang ada di Jakarta.

Jika sekarang kamu masih belum menemukan, mengetahui atau menyadari apa yang kamu inginkan dalam hidup atau terhadap hubunganmu dengan seseorang misalnya, tidak apa-apa. Ada yang namanya proses dalam eksplorasi diri. Coba deh ingat-ingat kembali momen apa yang membuatmu menjadi sangat kecewa dan telusuri seperti cara saya di atas apa yang sebenarnya menjadi isu di balik hal tersebut. Dan ingat, terbukalah dan jujur pada dirimu sendiri. Dengan begitu kamu jadi lebih memahami bagaimana caranya untuk menyikapi situasi yang ada sehingga kamu bisa fokus pada apa yang membuatmu bahagia.

4. Selalu Bermain Win-Win

Jika hidup diibaratkan sebagai permainan, permainan apakah yang akan kamu lakukan? Apakah permainan win-win atau win-lose? Idealnya, kita bisa memainkan permainan win-win. Memang betul, permainan tidak harus dimenangkan sendirian. Dan jika kita selalu menerapkan prinsip ini pada banyak atau bahkan seluruh aspek dalam kehidupan kita, kita akan menyadari bahwa kita tidak kekurangan, bahkan kitaselalu memiliki lebih untuk berbagi dan menang bersama.

Ketika pasangan kita berselingkuh misalnya. Kita bisa memilih untukmenangis, marah, menuntut untuk berpisah, atau kita bisa memilih untuk membicarakan hubungan yang sedang berlangsung, apa yang kurang, apa yang perlu dikerjakan bersama. Memang ini terdengar sulit, namun dengan menerapkan prinsip ini dalam kehidupan, akan menjadi lebih mudah bagi kita untuk membuka berbagai kemungkinan, memilih kemungkinan terbaik yang ada dengan sadar, dan hidup berbahagia dengan pilihan tersebut.

5. Pegang Erat Komitmen untuk Berkembang

Dengan berkomitmen untuk bisa terus bertumbuh, kita akan berjanji kepada diri sendiri bahwa kita akan terus berupaya dan mengembangkan diri. Walaupun itu artinya kita perlu berubah dan melakukan sesuatu di luar zona nyaman kita. Misalnya, begitu kita tahu bahwa yang kita inginkan adalah kebersamaan keluarga, cobalah berkomitmen untuk meluangkan waktu untuk keluarga. Tidak perlu gengsi dan nunggu anggota keluarga kita mulai. Sadarilah bahwa kita tidak bisa menuntut orang lain membahagiakan kita. Hanya diri sendirilah yang bisa mengusahakannya.

Coba terapkan komitmen tersebut dalam wujud kegiatan sehari-hari; misalnya dengan meluangkan waktu untuk dinner di rumah seminggu sekali atau mungkin setiap hari. Rasakan bagaimana rasanya menepati janji terhadap diri sendiri, menjadi bertanggungjawab atas apa yang kita rencanakan.

 

Sekali lagi, pada akhirnya, kebahagiaan adalah pilihan dan tanggung jawab kita masing-masing. Mengharapkan orang lain untuk membahagiakan kita adalah tindakan yang bodoh, bagaikan mengisi air ke lubang tanpa ujung. Tidak akan pernah puas. Tiap orang unik dan berproses dengan caranya masing-masing, sehingga mustahil untuk meminta orang bisa tunduk dan ikut 100% kemauan kita. Yang bisa kita lakukan adalah menerima orang lain dan diri sendiri apa adanya, dan memberikan diri sendiri apa yang kita butuhkan. Give yourself what you need. Hanya kamu yang benar-benar paham dirimu sendiri kan, maka berikanlah dirimu apa yang kamu mau. Bukan minta dan menarik-narik dari orang lain.

Dengan melakukan kelima tips di atas, saya mengajak kita semua untuk bisa lebih sadar untuk bertanggungjawab terhadap kebahagiaan diri sendiri. Nah pertanyaannya, nomor berapa saja yang sudah dijalankan? Selamat mencoba!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter