witnessday

Berdamai dengan Si Tukang Kritik

Teman-teman, coba deh bayangin, ada 1 orang yang selalu mengkritik apapun yang kamu kerjakan. Mau itu hasilnya baik ataupun buruk, kurang ataupun cukup, semuanya dikritik. Rasanya selalu ada saja hal yang salah, kurang, cacat ketika kita melakukan sesuatu.

Jika kamu bertemu orang seperti itu, apa yang akan kamu lakukan? Menegurnya? Mengabaikannya? Atau meninggalkannya?

Nah bagaimana jika Si Tukang Kritik ini adalah dirimu sendiri? Suara dari dalam diri yang terus menerus mengkritik apapun yang kamu lakukan.. Apa yang akan kamu lakukan?

Meski kedengeran kejam, sebenarnya inner critic juga bisa berwujud dalam kalimat yang terdengar biasa saja seperti “Aduh, harusnya aku tadi ngelakuin A tuh! Sekarang jadi salah deh..” atau seperti “Yah.. Kan.. Jadi telat deh. Makanya tadi lebih baik gak usah makan dulu.” Terdengar biasa saja dan harmless, kan? Namun nyatanya, inner critic yang terdengar harmless itu juga berperan dalam membentuk diri kita.

Inner critic akan meninggalkan rasa malu, rasa bersalah pada diri kita. Inner critic yang muncul menjelaskan seakan-akan apapun yang terjadi pada kita semata-mata terjadi karena diri kita sendiri. “Siapa suruh telat bangun?”, “Makanya, makan terus sih..”, “Aduh lagi-lagi saya lupa..” Padahal di luar diri kita sendiri ada banyak hal yang saling mempengaruhi dan menggenapi suatu kejadian.

Maka dari itu, semakin sering inner critic tersebut muncul, maka kita akan menjadi semakin minder, penakut dan juga tidak percaya diri.

Jika kita tumbuh besar di lingkungan yang sering mengkritisi apapun yang kita lakukan dan putuskan, tidak mengherankan jika kita selalu merasa apa yang kita lakukan tidak pernah cukup. Bahkan, bisa jadi kita malah kurang mengenal kehangatan dan penerimaan. Kita jadi merasa sulit untuk menerima hal yang tidak sempurna dan juga kesalahan; baik yang dilakukan diri sendiri ataupun orang lain.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk berdamai dengan  inner critic ini? Biasanya saya akan meresponnya dengan beberapa pertanyaan berikut:

  • Inner Critic, sebenarnya apa yang kamu takutkan? Kamu mau melindungi aku dari apa?
  • Inner Critic, apakah kamu sedang merasa tidak bersemangat? Apakah kamu menginginkan kesempurnaan?
  • Inner Critic, apakah kamu merasa tidak bisa dipercaya? Apakah kamu membutuhkan keteguhan dan pelaksanaan?
  • Apakah kamu sedang bosan dan sedang ingin mengekespresikan diri?
  • Apakah kamu sedang merasa marah? Atau ingin kesuksesan?
  • Apakah kritik ini membuat kita merasa putus asa dan mengharapkan agar bisa berkontribusi lebih?
  • Apakah saat ini kamu sedang merasa sedih? Apakah kamu merasa perlu untuk dicintai apa adanya?
  • Apakah kamu merasa panik dan putus asa sehingga membutuhkan ‘pegangan’ untuk bertahan?
  • Apakah kamu merasa kesepian? Butuh keikutsertaan dan cinta?

Ketika kita aware apa yang sebenarnya dirasakan dan dibutuhkan oleh si Inner Critic, kita bisa mengajak dia untuk berhenti terus berkata kasar dan mengkritik diri sendiri. Kita bisa merawat, menenangkan, dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh perasaan terdalam kita, inner child kita sehingga kita sebagai orang dewasanya bisa memegang kendali terhadap situasi. Menjalankan hidup yang memang kita inginkan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah contoh pertanyaan yang bisa digunakan untuk merespon setiap inner critic yang muncul. Silakan dicoba dan jangan ragu untuk menambahkan atau memilih pertanyaan mana yang cocok untuk kamu gunakan.

Selamat mencoba!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter