witnessday

5 Mitos Lain dalam Bermeditasi yang Harus Dibongkar

 

Selain memberikan ketenangan dan menurunkan tingkatan stress, meditasi secara rutin juga terbukti memiliki manfaat di berbagai aspek kehidupanmu lainnya; salah satunya adalah membantu memperbaiki hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu. Menurut journal of marital and family therapy, orang yang bermeditasi secara rutin memiliki empati yang lebih tinggi, dan juga memiliki kemampuan yang lebih tajam dalam menerka perasaan orang lain.

Namun, meski meditasi memberikan dampak yang luar biasa dalam kehidupan, bukan berarti mampu menghapus semua mitos yang beredar seputar meditasi. Minggu lalu saya sempat membongkar mengenai 5 mitos yang beredar mengenai bermeditasi. Namun sebenarnya, masih ada berbagai mitos seputar bermeditasi lainnya yang perlu dibongkar. Berikut adalah kelima mitos lainnya:

Mitos #1: Meditasi adalah Kegiatan Mengosongkan Pikiran

Kegiatan meditasi sama sekali bukan kegiatan yang mengajak kita untuk mengosongkan pikiran. Malah sebaliknya; kita disarankan untuk fokus karena seluruh kegiatan meditasi ditujukan untuk meningkatkan kesadaran (awareness).  Maka dari itu, biasanya pada setiap sesi meditasi, kita diajak untuk menentukan objek meditasi kita; bisa dengan pernapasan, perasaan, masalah, atau bahkan dengan chanting mantra tertentu. Selanjutnya, kita akan melatih diri kita untuk dapat fokus terhadap objek meditasi kita tersebut.

Mitos #2: Meditasi bisa Menyebabkan Kerasukan Setan

Ini adalah salah satu mitos yang paling sering saya dengar, “Jangan kebanyakan meditasi, nanti kamu bisa kerasukan, lho!”. Dan biasanya, mitos ini disampaikan secara berdampingan dengan mitos yang pertama; karena meditasi dianggap sebagai kegiatan mengosongkan pikiran, jadi tidak heran bahwa kita bisa kerasukan setan selagi pikiran kita kosong.

Pada saat bermeditasi, kita fokus kepada apa yang menjadi objek meditasi kita. Dengan kondisi yang fokus ini, sangat mungkin bagi kita untuk mencapai gelombang alpha dan theta. Di mana pada saat gelombang otak kita mencapai tahap theta, kita bisa mencapai pemahaman tertentu seperti mendapatkan insight dan kebijaksanaan. Maka dari itu tidak heran jika ada yang pernah mendapatkan enlightment kecil setelah bermeditasi.

Namun di sisi lain, ketika gelombang otak mencapai tahap theta pun memungkinkan untuk terjadi halusinasi. Halusinasi ini kadang memunculkan figur atau suara tertentu dari benak kita. Bisa jadi itu benar adanya, namun bisa jadi juga hal itu hanya sekedar halusinasi. Jadi apa yang dimaksud dengan kerasukan setan bukanlah hal yang benar.

Mitos #3: Meditasi Hanya Boleh Dilakukan Jika Ada Gurunya

“Meditasi jangan sendirian, nanti kalau ada apa-apa gak ada yang bisa nolongin..” Seberapa sering kamu mendengar nasihat seperti ini? Banyak orang yang beranggapan bahwa meditasi adalah kegiatan yang berbahaya jika dilakukan sendirian. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, meditasi adalah kegiatan melatih fokus sehingga sangat aman untuk dilakukan baik sendirian atau pun bersama-sama.

Meskipun begitu, saya tidak mengingkari bahwa akan lebih baik jika pada saat bermeditasi kita dipandu oleh mentor atau guru meditasi. Dengan adanya sosok mentor/guru meditasi, kita bisa sharing berbagai pengalaman dan juga hambatan yang kita rasakan saat bermeditasi sehingga ia bisa memberikan solusi-solusi praktis yang bisa dipraktekkan.

Mitos #4: Meditasi Hanya Diperuntukkan Orang dengan Gangguan Jiwa

Sebagian orang beranggapan bahwa meditasi hanya ditujukan kepada orang-orang yang memiliki masalah psikologis/kejiwaan seperti stress, depresi, dan berbagai gangguan kejiwaan lainnya. Padahal ini sama sekali tidak benar.

Meditasi memiliki berbagai manfaat baik; meningkatkan fokus dan kesadaran (awareness), memberbaiki gaya hidup, memperlambat penuaan dan juga membuat kita menjadi lebih rileks. Dengan berbagai manfaat tersebut, apakah meditasi bisa digolongkan hanya untuk orang-orang yang memiliki gangguan psikologis/kejiwaan? Hm… Kayaknya sih enggak, ya 😊

Mitos #5: Meditasi Sangat Sulit Karena Pikiran Tidak Boleh Berkeliaran

Banyak orang yang beranggapan bahwa meditasi sangat sulit karena pikirannya harus diam terkendali. Seringkali orang merasa gagal bermeditasi dan tidak mau mencoba lagi karena merasa tidak berhasil mengatur/menjinakkan pikirannya. Padahal pikiran yang sering loncat ke satu hal dan hal lainnya adalah hal yang lumrah.

Meditasi justru terlaksana dengan baik ketika kita berhasil menyadari bahwa kita sedang memikirkan sesuatu dan menyadari setiap perpindahan pikiran kita. Justru melalui meditasi itulah kita belajar sedikit demi sedikit cara untuk mengamati bagaimana muncul, lenyap, dan berpindahnya pikiran kita. Namun, sama seperti latihan lainnya, kondisi saat bermeditasi pun bisa naik turun; kadang tenang, kadang damai, kadang bisa juga kacau balau.

Itulah lima mitos lain seputar meditasi yang seringkali disampaikan orang-orang di sekitar saya. Dengan adanya artikel ini, saya berharap akan ada semakin banyak orang yang paham, dan mau mencoba untuk bermeditasi. Apakah kamu salah satunya? Atau apakah kamu masih ragu untuk coba bermeditasi? Yuk sampaikan kekhawatiran dan keraguanmu dalam bermeditasi di kolom komentar!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter