witnessday

5 Cara untuk Berhadapan dengan Kehilangan

Saat ini, Indonesia sedang berduka atas terjadinya gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala, Palu beberapa hari yang lalu. Banyak di antara kita yang mengungkapkan keprihatinan, kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, bahkan mungkin duka yang mendalam. Semua emosi tersebut terasa, bukan hanya saat bertatap muka dengan teman dan keluarga kita, namun juga di social media, televisi dan berbagai media komunikasi lainnya.

“Grief is in two parts. The first is loss. The second is the remaking of life.” – Anne Roiphe

Bagi sebagian dari kita, masa-masa ini adalah masa yang sangat sulit dan terasa begitu lama untuk dilewati. Rasa khawatir, ketakutan, kesedihan terus menghantui. Dan seringkali kita merasa bahwa kita belum siap, merasa bahwa ini semua tidak adil, merasa begitu khawatir dengan bagaimana kita bisa melanjutkan hidup ini. Saya sangat relate dengan perasaan-perasaan tersebut.

Meski kita semua paham bahwa ada banyak hal yang berada di luar kontrol diri, namun keadaan seperti ini sangatlah sulit untuk bisa diterima dalam waktu singkat. Bayangkan saja, ketika kamu tiba-tiba kehilangan seorang teman atau keluarga dengan begitu saja. Apa yang kamu rasakan? Campur aduk, bukan? Perasaan bersalah, menyesal, takut, khawatir, atau bahkan keinginan-keinginan yang tidak seharusnya pun bisa ikut muncul.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa melalui keadaan ini?

#1 Biarkan Perasaan Tersebut Muncul

Ketika kita dihadapkan dengan kehilangan, biasanya emosi akan muncul meluap-luap. Akan ada saat di mana lebih dari satu emosi muncul secara bersamaan; marah sekaligus sedih, kecewa sekaligus khawatir.. Rasanya seperti harmpir gila.

Keadaan-keadaan tersebut sangatlah normal dan alamiah. Tidak ada yang salah dari kemunculan perasan-perasaan tersebut. Terus ingatkan dirimu bahwa perasaan tersebut adalah wajar, dan memang butuh waktu untuk secara perlahan keluar dari emosi-emosi tersebut.

 

#2 Kumpulkan Dukungan

Ketika kita merasa sedih dan khawatir, ada kalanya kita ingin sendirian. Namun, riset yang dilakukan selama 3 dekade menunjukan bahwa seseorang yang memiliki teman baik, lebih mampu untuk bertahan di berbagai kejadian-kejadian traumatis seperti perceraian, kehilangan pekerjaan dan lain-lain. Selain itu, Carlin Flora melalui bukunya, Friendfluence, mengatakan bahwa pertemanan memiliki berbagai manfaat yang bersifat evolusioner. “Ketika kita berada di dalam grup yang sulit untuk bertahan hidup, kamu akan membutuhkan orang terpercaya untuk memberikan tali bantuannya kepada kita”.

Jadi, alangkah lebih baiknya jika kita memiliki orang-orang yang dapat memberikan dukungan di saat tersebut. Teman, saudara, keluarga.. Siapapun yang terpikirkan olehmu. Kamu juga bisa menghubungi konselor seperti saya untuk membantumu selama menghadapi keadaan tersebut.

 

#3 Biarkan Duka Berproses

Duka yang kita alami adalah sebuah proses, dan penting bagi kita untuk mengetahui bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengatasi kedukaannya, dan sangatlah sulit untuk memberikan batasan waktu pada kedukaan tersebut.

Elisabeth Kubler-Ross, penulis buku On Death and Dying menekankan adanya 5 tahap berduka. Setiap tahap unik dan tidak selalu dialami secara berurutan. Bahkan, ada kalanya tahap tersebut terjadi lagi meski sudah dilewati. Tahap-tahap tersebut adalah:

  • Denial: Perasaan di mana kita merasa sulit untuk mempercayai atau bahkan menolak bahwa kejadian/keadaan tersebut nyata adanya.
  • Kemarahan: Rasa marah yang muncul bisa tertuju kepada siapa saja; dokter, diri sendiri atau bahkan Tuhan sekalipun karena membiarkan hal tersebut terjadi.
  • Tawar menawar: Tidaklah aneh bagi kita untuk menghadapi rasa duka dengan mencoba bernegosiasi dengan sesuatu yang dianggap lebih tinggi, lebih suci aau lebih kuat dari dirinya agar keadaan bisa berbalik sesuai dengan keinginan kita.
  • Depresi: Kesedihan yang dirasakan membuat kita terpuruk dan sulit untuk fokus menjalankan kegiatan sehari-hari dalam jangka waktu tertentu.
  • Penerimaan: Keadaan di mana kita dapat kembali melanjutkan kehidupan kita dan menerima kenyataan yang ada.

Penerimaan bisa saja menjadi tahap akhir, namun bukan berarti kita tidak akan merasakan tahap lain suatu hari nanti meski kita sudah menerima kenyataan yang ada. Biarkan kedukaan tersebut berproses dari waktu ke waktu sehingga kita bisa lebih siap ketika menghadapi hal lain dalam hidup.

 

#4 Olahraga

The Mayo Clinic menyatakan bahwa olahraga dapat membantu mengurangi rasa cemas melalui 3 cara; mengeluarkan zat endorfin, meningkatkan sistem imun sehingga mengurangi kemungkinan depresi, dan meningkatkan suhu tubuh yang membantu seseorang untuk menjadi lebih tenang.

 

#5 Berlatih Meditasi Mindfulness

Sebuah analisa dari 47 studi di tahun 2013 dengan lebih dari 3,000 peserta, menemukan bahwa “meditasi mindfulness” bisa membantu untuk mengatasi kecemasan, depresi dan rasa sakit.

Tidak melulu harus duduk diam sambil bermeditasi. Kamu bisa memulainya dengan melakukan aktivitas sederhana seperti bernapas, makan, menyapu, mengetik, dan berbagai kegiatan lainnya dengan penuh kesadaran.

Rasa takut, khawatir, kesedihan, dan berbagai emosi yang meluap-luap lainnya sangatlah wajar untuk dirasakan. Namun, kapanpun kamu membutuhkan bantuan orang lain, bahu untuk bersandar atau ingin menumpahkan emosi yang tertahan, jangan ragu untuk menghubungi teman, keluarga atau bahkan konselor yang kamu percayai.

Apakah kamu sedang merasa sedih atau khawatir? Ataukah artikel ini mengingatkan kamu akan seseorang yang sedang berada pada posisi sulit? Jika ya, jangan ragu untuk bagikan artikel ini, atau berikan semangat dan dukunganmu di kolom komentar.

 

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter