Wawancara saya dengan Yongey Mingyur Rinpoche

Posted on Posted in witnessday

 

 

witnessday

 

Selasa 18 Oktober lalu saya merasa menjadi orang paling beruntung sejagat raya karena berkesempatan mewawancara tokoh spiritual kelas dunia, Yongey Mingyur Rinpoche. Berhasil menyembuhkan rasa panik akutnya lewat meditasi, Mingyur Rinpoche kemudian membagikan kebaikan meditasi dan pentingnya hidup dalam kesadaran lewat komunitas meditasi ‘Tergar’ dan beberapa buku yang ia tulis, seperti The Joy of Living: Unlocking the Secret and Science of Happiness.

 

Di tahun 2002, Mingyur Rinpoche dan beberapa meditator senior lainnya diundang ke Waisman Laboratory for Brain Imaging and Behaviour di University of Wisconsin-Madison, di mana Richard Davidson, Antoine Lutz, dan beberapa ilmuwan meneliti efek yang ditimbulkan meditasi pada otak dari para meditator senior ini. Hasil dari penelitian penting ini dilaporkan di banyak publikasi papan atas, termasuk National Geographic dan Times. Ia kemudian dijuluki sebagai orang paling bahagia sedunia.

 

Datang ke Surabaya dan Jakarta untuk membawakan kelas publik dan kelas meditasi, saya yang baru pertama kali ini bertemu dengan Mingyur Rinpoche langsung jatuh hati! Beliau amat sangat humoris, rendah hati, santai, dan sekaligus juga amat sangat cerdas, bijaksana, dan penuh kasih. Malam sebelum wawancara, saya jadi seperti anak SMA mau pergi ngedate… ngobrol sama teman mau pakai baju apa, celana apa, dan-dannya gimana, rambut mau diapain… 🙂 Thank you so much Sutar Soemitro and Buddhazine for making this come true..!

 

img-20161022-wa0007

 

Dari sepuluh pertanyaan yang sudah disiapkan, ada sekitar delapan pertanyaan yang terjawab sesuai slot waktu yang kita punya. Dan salah satu pertanyaan dan jawaban terpenting yang saya terima di hari itu (yang sebenarnya juga sangat personal), saking bagus dan mencerahkannya, ingin saya bagikan hari ini kepada kita semua.

 

A: Di zaman sekarang ini, banyak orang tidak lagi percaya pada institusi pernikahan. Yang muda memilih untuk menikah telat, mereka tidak mau punya anak, dan yang menikah pun bisa dengan mudahnya memilih untuk bercerai. Apa komentar Rinpoche mengenai tren ini? Mungkinkah sebenarnya kita bisa hidup di pernikahan yang happily ever after (bahagia selamanya)?

 

R: Itu tidak mungkin (sambil senyum  lebar)

 

A: (Ikutan senyum lebar) Jadi apa nasehat yang Rinpoche bisa berikan?

 

R: Kita sering merasa kecewa dalam hubungan karena mempunyai ekspektasi tertentu terhadap pasangan. Kita ingin dia sempurna sesuai keinginan kita dan tidak bisa menerima kekurangannya. Kita ingin terus bahagia dan tidak siap menerima perubahan. Ini tidak mungkin dan akan membuat kita menderita.

 

A: Ya, jadi sebenarnya sebelum kita masuk ke dalam sebuah hubungan atau pernikahan, kita perlu punya pola pikir yang tepat ya. Bahwa memang kita perlu menerima kekurangan pasangan dan perubahan itu sendiri. Dan kemudian memutuskan untuk bertumbuh bersama.

 

R: Ya, bertumbuh bersama. Coba kita bayangkan… Kita mau surfing karena ada ombaknya kan. Tidak ada ombak, tidak ada permainan. Kita malah mencari ombaknya. Sama juga seperti pasar saham. Hanya dengan adanya naik dan turun, kita baru bisa mendapatkan uang dari pasar saham. Kita bisa menjadi pemain yang cerdas.  Hubungan dengan pasangan juga seperti itu.  Kita sebenarnya bisa memutuskan untuk mengikuti permainan ombaknya dan mendapatkan sesuatu yang bernilai dari sana.

 

A: (tercengang mendapat pencerahan)

 

 

Tidak perlu penjelasan panjang lebar, saya rasa kita semua juga bisa mendapat manfaat besar dari hasil percakapan ini.

 

Naik turun dalam menjalani sebuah hubungan adalah hal yang sangat alami. Menolak dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa memang hakikatnya hidup adalah naik turun adalah apa yang membuat kita menderita. Menerima, ikut bermain, dan mendapatkan harta karun berharga dari sana adalah apa yang membuat hubungan kita bertahan dan bahagia.

 

img-20161018-wa0017

 

Saya memang tidak sempurna; punya berbagai kelebihan dan kekurangan. Dan saya memutuskan untuk menjadi pemain yang cerdas; menari seirima dengan ombak, mengikuti pasang surutnya kehidupan berpasang-pasangan. Dan saya telah, sedang, dan akan menerima berbagai keajaiban dari semua pergerakan ini. Dan begitu pula yang saya doakan untuk kamu dan seisi Bumi.

 

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih sudah berbagi kebahagiaan dengan saya. Ingin nonton hasil wawancaranya langsung? Ditunggu rilisnya ya di Buddhazine.

 

Kalau kamu merasa artikel ini bermanfaat dan bisa jadi inspirasi kamu dan teman-teman untuk menjalani hubungan yang lebih sehat dan bermakna, please share artikel ini kepada mereka.

 

Ride along with the wave, my friend. Ride along! And I’ll see you on my way…

 

Love and light,

sign

 

 

 

 

ameliadevina1Amelia adalah seorang penulis dan Intuitive Coach. Misinya adalah membantu orang lain untuk menemukan siapa diri mereka sebenarnya, mengapa mereka ada di sini, dan bagaimana untuk menjadi diri mereka yang sejati. Ia melakukannya dengan berbagai cara, mulai dari quantum healing, card reading, chakra wisdom healing, meditasi, dan menyalurkan pesan dari Semesta lewat life coaching. Saat ini Amelia terus berbagi lewat berbagai kelas offline dan online, workshop dan retreat. Ia secara rutin menulis pada blog yang bisa diakses di ameliadevina.com. Amelia bisa dihubungi lewat email hello@ameliadevina.com, halaman facebook Amelia Devina, dan instagram/ twitter @ameliadevina777.

 

 

Share the love...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter