Suka berjalan kaki? Saya juga! Temukan alasan mengapa berjalan bisa membuat hidup lebih hidup

Posted on Posted in witnessday

 

wpid-2015-04-12-01-01-42_deco.jpg

 

Oke, ini adalah cerita yang personal buat saya.

Saya sangat suka berjalan dan melakukannya membuat saya merasa hidup.

Apa kamu juga suka berjalan?

 

Setiap kali saya merasakan adanya energi yang berlimpah di dalam diri atau di sekitar saya, saya merasa dibimbing, atau seringkali bahkan didesak, untuk berjalan. Saya kemudian merasa bahwa saya menerima begitu banyak berkah dari kebiasaan ini. Begitu ajaib sehingga saya merasa harus berbagi dengan kamu di sini. Jika saya menyukainya dan mendapatkan begitu banyak manfaat dari berjalan kaki, maka mungkin kamu juga akan bisa merasakannya. Hari ini, saya ingin berbagi mengapa dan bagaimana kamu dapat terhubung ke kebijaksanaan batinmu (inner wisdom) saat kamu berjalan.

 

Pertama, kamu dapat melepaskan stres, ketegangan dan rasa sakit saat berjalan. Kita tahu bahwa berjalan merupakan suatu bentuk olah raga. Kamu dapat melakukannya kapan saja dan di mana saja tanpa kesulitan. Berjalan sangatlah mudah, itulah sebabnya saya menyukainya. Ketika berjalan, tubuhmu bergerak dan berkeringat. Faktanya adalah, berjalan melibatkan PERGERAKAN dan PELEPASAN dan inilah hal-hal yang sangat kita butuhkan. (Terutama jika kamu seperti saya: menghabiskan sebagian besar waktu kerja dengan duduk!!). Saat berjalan, tubuh melepaskan endorfin — dan kita tahu bahwa endorfin adalah obat alami untuk melepaskan stres, ketegangan dan rasa sakit. Kamu melepaskan kelebihan energi, energi lama yang tidak kamu perlukan dari dalam dirimu dan sekelilingmu. Kamu akan terkejut ketika tubuhmu terasa jauuuuuh lebih ringan setelah berjalan kaki!

 

Tenangkan pikiranmu saat berjalan. Rasakan keberadaan alam di sekitarmu. Saya bukannya mengatakan kamu tidak boleh berbicara dengan teman-temanmu saat berjalan, namun saya mendapatkan begitu banyak kebijaksanaan saat berada dalam keheningan — sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan jika saya sibuk berbicara dengan teman berjalan saya. Jika kamu lebih suka ditemani, boleh-boleh saja. Tapi, saya sarankan agar kamu berdua berbicara sangat sedikit, atau malah tidak bicara sama sekali ketika berjalan. Tenangkan pikiranmu, amati hal-hal kecil di sekitarmu, kagumilah alam yang ada di depan matamu. Katakan terima kasih. Bersyukurlah untuk setiap hal yang ada, sekecil apapun. Jika kamu sama seperti saya, mungkin kamu juga ingin menyapa atau bercakap-cakap dengan pohon-pohon, bunga, kucing dan kupu-kupu yang ada di sana.

 

Mulailah untuk berbicara dengan dirimu sendiri. Ini adalah obat terbaik! Oke, saya tahu kedengarannya saya mengatakan hal yang bertentangan. Saya tadi menyarankanmu untuk tidak berbicara dengan orang lain, namun YA, sekarang saya menyarankanmu untuk berbicara kepada dirimu sendiri. Mari saya beritahu suatu rahasia kecil yang ajaib: Saat tubuhmu melepaskan racun, endorfin dan energi berlebih, pikiranmu mulai fokus pada langkahmu dan lingkungan sekelilingmu — kamu hadir, berada di sini dan di saat ini – penuh kesadaran. Kamu merasa senang, kamu merasa damai. Itulah sebabnya, ini merupakan waktu terbaik bagimu untuk terhubung kepada kebijaksanaan batinmu atau hakikat sejatimu! Kamu dapat dengan mudah melakukannya dengan mendengarkan bimbingan yang terasa dalam batinmu, suara hatimu. Apakah pesan untukmu hari ini? Bertanyalah, dengarkan atau menjawablah dengan spontan (blah – tak tertahan seperti orang muntah). Kamu akan merasa banyak manfaatnya dan bisa-bisa ketagihan!

 

Ssst .. Saya biasanya lebih suka jalan di malam hari untuk melakukan hal ini!

 

wpid-1443420933172.jpg

 

Kunci untuk melakukan berjalan kaki kontemplatif ini adalah PERCAYA dan LAKUKAN SAJA. Tidak adayang benar atau salah, lakukan apapun yang cocok untukmu. Dengarkanlah tubuhmu. Dari pengalaman saya, biasanya setelah 20 menit berjalan, saya akan mendapatkan pemahaman tertentu dan kata-kata akan keluar dari mulut saya begitu saja. Kadang-kadang saya membalas pesan dari Alam Semesta di dalam hati saya, dan kata-kata kebijaksanaan mereka keluar langsung dari mulut saya. Kadang-kadang terjadi yang sebaliknya. Biarkan saja mengalir. Secara alami. Bermain-mainlah.

 

Kamu akan tahu bahwa kebijaksanaan batinmulah yang sedang berbicara jika ia penuh kasih, penuh cinta, tidak menghakimi (bahkan kepada diri sendiri) dan obyektif (ada suatu jarak antara suara ini dan pemikiranmu sendiri). Jika kamu ingin membaca lebih lanjut tentang topik ini dan melakukan percakapan seperti ini setiap hari dalam hidupmu, kamu dapat membaca artikel saya sebelumnya di sini.

 

Sekarang, saatnya bagi saya untuk mendengar dari kamu! Jika kamu tinggal di Indonesia, bagaimana kalau kita mengatur waktu untuk melakukan jalan kaki yang meditatif dan kontemplatif ini bersama saya? Saya sangat membutuhkan bantuanmu untuk menjawab tiga pertanyaan ini:

  1. Tolong beri saya saran di mana tempat yang cocok untuk kita berjalan kaki.
  2. Apakah kamu lebih suka melakukannya di hari kerja atau akhir pekan?
  3. Pagi atau malam hari?

Betapa menyenangkannya jika kita semua dapat duduk bermeditasi, melakukan jalan kontemplatif ini, mendengarkan musik yang menggugah jiwa, sambil bernyanyi dan saling berbagi kebijaksanaan yang kita terima saat berjalan. Bukan begitu?

 

Jika kamu berada di luar Indonesia, saya tetap ingin mendengar darimu.

  1. Jika kamu telah melakukan ini sebelumnya, apa pengalaman jalan kontemplatif terbaikmu?
  2. Jika ini adalah hal baru bagimu, cobalah untuk melakukannya sekali dan berbagilah pengalamanmu bersama kami di sini.

 

Oke, terima kasih banyak untuk membaca Witnessday. Saya sangat senang dapat terhubung dengan kamu setiap minggunya. Bagian terbaik dari hal ini adalah saya dapat mendengar pendapatmu. Saya berharap kamu bisa merasakan keajaiban dalam berjalan kaki dan kebijaksanaan batinmu/ hakikat sejatimu berbicara kepadamu dengan suara besar dan jelas. Saya tunggu ceritamu. Sampai ketemu lagi!

 

 

Love and light,

Amelia Devina

 

Share the love...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter
  • Putu

    1. tempat yang cocok untuk berjalan kaki di taman Kota 😀

    2. Jalan Kaki di Akhir pekan

    3. waktu pagi hari lebih segar

    • Thank you untuk sarannya, Putu. Ada masukan taman kotanya di mana? 🙂

  • Stephen Ang

    Pagi Amel, salam semangat.

    Mungkin yang saya cerita ini agak out of topic, tapi bagus juga untuk dibagikan.
    Mengenai jalan kaki di saat yang santai dan rileks tentu melatih kita untuk menyadari kondisi di sekitar kita. Baik dari alam maupun batin pikiran kita. Namun jalan kaki yang satu ini juga cukup seru.

    Tahun 2007, sekitar akhir Januari saya lupa tanggal persisnya. Hujan begitu deras membasahi kota Jakarta, langit mendung. Saya pun sedang kerja di Tebet, Jakarta Selatan. Cukup khawatir saat itu, lalu telepon ke rumah katanya air got mulai naik dan masuk ke rumah. Mengingat banyaknya kabel elektronik dan barang, saya pun meminta orang rumah untuk pindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Setelah itu saya ijin dengan Bos untuk pulang.

    Sekitar jam 1 siang saya naik taksi. Perjalanan begitu macet baik di jalan biasa maupun tol. Saya berpikir lebih baik lewat jalan biasa karena masih bisa cari banyak alternatif, daripada tol tidak bisa keluar. Namun sepanjang perjalanan terlihat begitu sesak, suara terompet mobil dan motor bergantian dibunyikan oleh penumpang. Ntah bagaimana kami ambil rute melewati Kemanggisan, berharap bisa tembus ke arah Tanjung Duren. Ternyata bukan solusi yang tepat juga.

    Hari menjelang sore dan masih di dalam Taksi berputar, sampailah kami di Pesing. Air pun cukup tinggi di sekitar pasar, apalagi Taksi yang mobilnya pendek. Driver Taksi mulai khawatir takut mogok, tapi dengan penuh ketelitian dan konsentrasi kami berhasil menerobos titik parah tersebut dan sampailah di sebuah jalan yang kering. Karena sudah jam 6 malam saya mengajak Driver Taksi untuk makan bersama di warung terdekat. Selesai itu saya pun memberikan bayaran sesuai argo + tambahan lagi, karena saya melihat hati baik dan bertanggung jawab dari seorang Driver Taksi ini. (Beliau sempat khawatir jika ada masalah di mobilnya maka dia yang harus ganti rugi kerusakan).

    Lalu saya pun berpikir bagaimana untuk bisa pulang….

    Akhirnya ketemu sebuah Bus Angkutan Umum yang lewat (Biasanya Bus ini tidak lewat Pesing, mungkin sedang kondisi khusus). Walau harganya lebih mahal daripada biasanya, saya pun tetap naik ke Bus tersebut, ternyata penumpang sudah full. Sambil menelurusi Daan Mogot banyak sekali mobil pribadi yang mogok. Tibalah saya di Citraland dan banyak sekali kendaraan yang parkir di jalanan karena tidak bisa diteruskan.

    Menjelang jam 8 malam, Saya memutuskan untuk jalan kaki dari Citraland, kemudian berhenti di sekitar Latumenten (Season City), lalu naik angkot dan turun di Megamall (Pluit Village). Saya jalan kaki lagi sampai ke Muara Karang (tempat tinggal saya). Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Akhirnya saya sampai juga ke rumah, tanpa terasa sudah puluhan jam. Air sudah surut, tinggal keesokan harinya membersihkan rumah.

    MENJAWAB PERTANYAAN AMEL:
    1. Jalan kaki di manapun tidak ada masalah, yang terpenting kondisi batin pikiran kita. Bisa di sekitar komplek rumah, taman kota, pantai
    2. Tentu di akhir pekan lebih menyenangkan
    3. Sore hari menjelang malam

    Tapi tetap saja kita perlu memperhatikan keselamatan terutama tempat yang sepi dan jarang dilalui kendaraan atau orang, perlulah kita aware.

    (Masih ada lagi kisah jalan kaki ketika banjir, hahaha pengalaman jalan kaki lebih banyak pas banjir).

    Thanks.

    • Hahahaha.. lol.. luar biasa pengalaman jalan kakinya saat banjir. Tak terlupakan seumur hidup pasti. Semoga tidak perlu terulang lagi ya.

      Setuju, di manapun berjalan kakinya, yang penting adalah kondisi batinnya. Tapi, di Jakarta, untuk dengan nyaman berjalan kaki (apalagi sambil dalam keadaan meditatif dan bisa sambil merenung dan ngobrol sama diri sendiri) memang perlu dicari tempat khusus. Secara pribadi, harusnya di dekat komplek rumah masing-masing masih bisa memungkinkan.

      Thank you sarannya!

  • Sari Imawati

    1. Kalau menurut saya, berjalan kaki harus lihat lingkungan juga, usahakan jngn yg bnyk polusi karena selain kita mau mencari ketenangan juga yg pasti mau sehat juga.
    Saran saya, cari tempat yg bnyk pohon2 rindang ; pegunungan
    Kalau saya karena di kompleks bnyk mobil2 berlalu lalang, maka saya cari kebelutualn dekat rumah ada joging track di daerah citra 6 – ada pepohonan dan danau buatan. jadi bisa cuci mata sekalian Sj…

    2. Karena kesibukan, biasanya saya lakukan akhir Pekan Sj, lebih santai waktunya.
    Sambil jalan – relax – sehat – kl laperrr langsung cari makann dech

    3. Kl Pagi ok juga – sore jelang senja pun sebenarnya gak masalah soal waktu
    Tp lebih baik pagi sich karena buat hirup udara masih seger bngt, sirkulasi darah menjadi baik, ada matahari bisa serap vitamin D yg baik untuk tulang dan biar gak gampang sakit

    Gan en Sj atas kesempatan yg diberikan untuk berbagi …

    • Halo Sj Sari, terima kasih untuk sarannya. Wah, beruntung ya.. di dekat komplek rumah ada tempat yang cukup sesuai bisa jalan kaki. Biasa jalannya sendiri atau sama keluarga, sj?

      Jalan kaki pagi hari bagus karena terkena sinar matahari. Jalan kaki malam hari bagus karena terkena sinar bintang dan bulan 🙂

  • Dimas Wibisono

    1. Waktu berjalan kaki yang terbaik menurut saya adalah di pagi hari antara jam 6-8 pagi, karena udara relatif lebih bersih dibandingkan siang hari ataupun malam hari. Bahkan berjalan malam hari kurang begitu baik, karena udara malam akan merusak kondisi tubuh.
    2. Lokasi berjalan kaki yang terbaik menurut saya adalah, di lokasi yang memiliki suhu udara ralatif lebih sejuk. Dalam hal ini alam pedesaan ataupun pegunungan lebih baik dibandingkan berjalan kaki di daerah per kotaan. Selain itu juga alam pedesaan dan pegunungan, baik untuk dijadikan sarana meditasi yang dapat memberikan inspirasi bagi ketenangan batin seseorang (terutama diri saya pribadi).
    3. Daerah Lembang Bandung dan Puncak Bogor, menjadi salahsatu pilihan saya di waktu akhir pekan minggu pertama dan terakhir setiap bulannya.

    • Halo Dimas, terima kasih untuk sarannya.

      Jalan kaki pagi hari bagus karena terkena sinar matahari. Jalan kaki malam hari bagus karena terkena sinar bintang dan bulan. Moon light itu magical dan energinya sangat bagus sebenarnya untuk pertumbuhan spiritual kita dan menyeimbangkan energi di dalam. Jadi, menurut saya, baik pagi atau malam, semua positif.

      Wah, asik ya Dimas. Akhir pekan minggu pertama dan terakhir tiap bulannya khusus bersantai dan jalan kaki di daerah Lembang/ Puncak. Boleh tau resort favoritnya di sana? 🙂