witnessday

Tahun Baru, Ketakutan Lama

 

Dari ramainya perayaan dan seluruh hiruk pikuk menjelang tahun baru 2018, ada berapa banyak di antara kita yang merasakan sedikit ketakutan di dalam dirinya? Baik rasa takut yang muncul karena kondisi kehidupannya yang tidak menjadi lebih baik, rasa takut yang muncul dari banyaknya halangan yang terus berdatangan, atau bahkan rasa takut untuk menghadapi perubahan yang akan datang di dalam hidup?

Memang tak bisa kita pungkiri bahwa rasa takut seringkali menjadi peringatan untuk kita agar tetap berjaga-jaga sehingga kita tetap aman. Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa rasa takut juga memberikan tekanan dan juga mempengaruhi kesehatan baik fisik dan juga mental. Sebagai respon emosional dari berbagai hal yang kita anggap ancaman, tentu rasa takut perlu kita kenali lebih lanjut, atau bahkan jika mungkin, kita kendalikan.

 

 

Saya sampai hari ini juga masih memiliki beberapa ketakutan, dari yang sederhana hingga yang besar. Banyak dari ketakutan ini pun masih dalam proses berdamai. Namun, saya ada satu cara unik yang pernah diterapkan selagi kecil dan ternyata berhasil.

Dulu waktu saya masih SD-SMP, saya takut sekali dengan anjing. Saya selalu menghindar dan lari tiap kali melihat anjing. Pada saat itu saya sadar bahwa ada yang aneh karena anjing adalah hewan yang selalu dianggap lucu (dan saya setuju, mereka memang lucu). Hingga akhirnya saya memutuskan untuk belajar hidup damai bersama anjing.

Lalu akhirnya saya bilang ke salah satu teman yang memiliki banyak anjing bahwa saya ingin memelihara salah satunya. Pada minggu-minggu pertama saya memeliharanya, saya masih merasa aneh. Tapi lama kelamaan karena terbiasa dan adanya bonding, saya jadi bisa merasa sayang, bermain bersama, bahkan bisa mengurusnya.

 

 

Pada salah satu penelitian yang dijalankan oleh para ilmuwan di National Institute of Mental Health, berhasil menyimpulkan bahwa rasa takut adalah wujud dari reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Setelah para ilmuwan menyuntikan substansi kimia tertentu, subjek mulai merasakan perasaan takut yang menimbulkan tekanan dari dalam dirinya. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa reaksi kimia bisa terjadi kapan saja terhadap apa saja; reaksi tersebut tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi atau ditakuti. Hanya kita yang tahu, apa yang sebenarnya kita takuti.

 

“Courage is resistance to fear, mastery of fear, not absence of fear” – Mark Twain

 

“Courage” atau yang biasa kita kenal dengan keberanian, berasal dari bahasa Latin “cor” yang berarti “hati”.  Kemampuan yang berasal dari dalam hati untuk menghadapi sesuatu yang kita takuti ini sangat penting untuk menghadapi setiap rasa takut yang hadir dalam kehidupan. Namun, hal penting pertama yang perlu kamu lakukan adalah mengenali berbagai hal yang ditakuti. Kamu bisa memulai dari membuat daftar hal apa saja yang menimbulkan rasa takut.

Ada banyak? Jangan khawatir. Hal tersebut sangatlah manusiawi 😊 Setidaknya, dengan mengetahui apa saja hal yang dapat menimbulkan rasa takut, maka kamu sudah maju satu langkah lebih dekat untuk mengembangkan keberanian.

 

Lalu, cara berikutnya yang bisa kamu lakukan untuk mengembangkan keberanian adalah dengan menerima segala hal yang kamu takuti dengan sepenuh hati. Dengan begitu, kamu bisa menjadi lebih jujur terhadap dirimu sendiri dan menyadari bahwa tidak perlu menghindari hal yang ditakuti tersebut. Misalnya kamu takut untuk berbicara di depan umum. Dengan menerimanya dengan tangan terbuka, kamu tidak perlu sampai menolak atau menghindari kesempatan tersebut.

Jika kamu akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melawan rasa takut tersebut, kamu bisa coba untuk menggunakan logika. Seringkali rasa takut muncul karena berbagai pemikiran buruk mengenai apa yang mungkin terjadi berikutnya. Padahal, apa yang kita ramalkan ini bisa saja tidak terjadi. Benar begitu, bukan?

 

 

Kembali pada contoh sebelumnya di mana ketakutan akan berbicara di depan umum tersebut muncul. Begitu kamu berhasil menerimanya, kamu bisa coba untuk memikirkan secara logis apa saja yang ditakutkan dari berbicara di depan umum? Apakah semua hal yang ditakutkan akan benar-benar terjadi? Jika tidak, mengapa harus takut?

Atau kamu bisa mencoba untuk sedikit mendorong diri agar menjadi lebih baik dengan cara bertanya kepada dirimu sendiri, “Jika saya menjadi versi terbaik dari diri saya ini, maka apa yang akan saya lakukan dalam situasi ini?”, atau “Apa yang akan saya rasakan atau apa yang bisa saya lakukan jika saya berhasil terbebas dari rasa takut ini?”.

 

“My comfort zone is like a little bubble around me, and I’ve pushed in different directions and made it bigger and bigger until these objectives that seemed totally crazy eventually fall within the realm of the possible.” – Alex Honnold

 

Dengan terus mempraktekkan cara tersebut, kamu akan merasakan bahwa sedikit demi sedikit zona nyamanmu semakin luas. Kamu akan merasa tidak terganggu di berbagai keadaan yang biasanya selalu mengganggumu. Bahkan tidak mustahil juga jika suatu hari kamu malah merasa nyaman pada keadaan tersebut.

Yuk kita mulai dari mencari tahu apa saja hal yang membuat rasa takutmu muncul. Sediakan waktu untuk merenungkannya sejenak dan tulis di atas kertas. Apa saja yang menjadi ketakutan terbesarmu? Jangan lupa untuk membaca semuanya kembali; apakah ketakutan yang satu dengan yang lainnya berhubungan? Jika ya, maka kita akan dapat menemukan salah satu akar ketakutan kita. Dengan begitu, kita akan dapat memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan; apakah akan berusaha mengatasinya, atau menghubungi profesional untuk membantumu?

Semoga apa yang saya bagikan hari ini bisa bermanfaat untukmu. Selamat mencoba 😊

Share the love...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter