witnessday

Sudah Tahu Apa yang Kamu Inginkan dalam Hidup?

 

Seumur hidup, kita selalu dibuat untuk mendengar dan bahkan mengikuti apa yang diinginkan orang lain. Misalnya, sejak kecil, kita harus nurut pada apa yang diajarkan orangtua kita. Begitu pula ketika kita sekolah; kita mendengar informasi yang diberikan guru dan buku pelajaran. Di tempat ibadah, kalau tidak tunduk pada ajaran maka kita disebut berdosa. Tidak berhenti di sana, di saat bekerja, kita pun masih harus mendengarkan apa yang menjadi keinginan atasan dan juga teman kerja kita. Belum lagi serangan dari periklanan dan media massa – information overload dan semua menuntut tempat untuk didengar. Begitu banyaknya programming dan conditioning yang kita alami sedari lahir, tentu tidaklah mengherankan kalau saat dewasa kita jadi bingung: sebenarnya apa sih yang kita inginkan? Do you know what you really want in life?

Seringkali kita merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki saat ini. Kata orang ketika kita memiliki pekerjaan yang stabil dan menghasilkan banyak uang, maka kita akan bahagia. Setelahnya, kita akan ‘dituntun’ untuk berumah tangga dan memiliki anak, karena kata orang rasanya kurang sempurna kebahagiaan jika kita belum berumah tangga. Belum lagi berbagai kritik yang datang menghampiri ketika kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan apa kata orang lain. Bukan hanya rasa tidak puas yang kita dapatkan, kita pun menjadi semakin jauh dengan diri kita sendiri.

Jadi, tidaklah heran jika kita seringkali bertemu dengan seseorang yang sudah punya “segalanya” namun masih merasa hampa dan kekurangan. Dan ketika ditanya apa yang sebenarnya ia inginkan, ia tidak benar-benar mengetahuinya.

Lalu, bagaimana cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya kita inginkan?

Langkah Pertama: Gali Terus Kepercayaanmu

Kepercayaanmu adalah sudut pandang yang kamu miliki tentang kehidupan, orang lain dan dirimu sendiri yang kamu anggap sebagai kenyataan. Padahal, kepercayaan tersebut sesederhana sebuah kepercayaan yang kamu pilih sendiri untuk kamu percayai dalam kehidupan ini.

Kepercayaan ini biasanya timbul sedari kecil, yang diturunkan oleh keluarga. Misalnya, sedari kecil kita sering dinasihati agar tidak pulang larut malam karena berbahaya. Maka ketika kita dewasa, kita cenderung menghindari keluar di malam hari karena beranggapan bahwa malam hari adalah waktu berbahaya untuk keluar rumah.

Itu adalah contoh kecil dari bagaimana kepercayaan bisa mempengaruhi keputusan kita. Bagaimana jika kepercayaan-kepercayaan seperti, “di dunia ini tidak ada yang bisa dipercaya selain diri sendiri” tertanam sedari kecil dan terus ada hingga kita dewasa dan mempengaruhi pengambilan keputusan kita?

Sebelum kita menyadari apa-apa saja yang kita percayai selama ini, kepercayaan tersebut bekerja di alam bawah sadar kita dan memutuskan berbagai hal. Kepercayaan kita menghalangi kita untuk mendengar diri kita sendiri. Terutama bagi kamu yang memiliki kepercayaan yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Jadi, bayangkan jika kita tidak sadar bahwa selama ini kita mempercayai suatu hal yang bertentangan dengan apa yang menjadi keinginan kita. Konflik di dalam diri pasti sulit untuk diatasi.

 

Langkah Kedua: Amati Nilai-nilai yang Selama Ini Kamu Pegang

Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, selama ini apa saja nilai-nilai yang kamu pegang teguh? Apakah nilai-nilai yang kamu percayai tersebut membuatmu semakin bersemangat, ataukah membuatmu menjadi begitu lelah? Apakah benar nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang memang kamu percayai?

Untuk menemukan nilai-nilai tersebut, coba perhatikan hidupmu dan juga berbagai pilihan yang kamu ambil untuk merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Jika nilai tersebut adalah kekayaan, coba tanyakan kepada dirimu, apakah kamu akan melakukan apa saja demi mendapatkan kekayaan? Yakinkah kamu akan nilai tersebut?

Nilai-nilai tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam hidupmu. Ia akan mengarahkan pola pikir dan juga keputusan yang akan kamu ambil. Coba bayangkan jika nilai yang kamu percayai selama ini bukanlah nilai yang bisa membuatmu benar-benar berbahagia. Bukankah hidupmu akan menjadi menyedihkan?

 

Langkah Ketiga: Lakukan Deconditioning

Setelah mengetahui betapa tidak sesuainya, tidak sehat dan betapa bertentangannya antara kepercayaan dengan nilai-nilai yang kita pegang, maka langkah berikutnya adalah langkah untuk membentuk ulang kepercayaan dan nilai-nilai yang kita pegang agar menjadi selaras.

Pada langkah ini, kita mengubah false belief menjadi belief baru yang sehat dan juga bermanfaat untuk kita. Jika kita selama ini kita berkeyakinan bahwa, “semua laki-laki jahat”, atau “semua perempuan matre”, maka akan lebih baik jika kita mengubahnya menjadi, “saya ada adalah orang yang baik sehingga akan menarik laki-laki/perempuan yang juga baik, berkualitas..” dan sebagainya.

Seringkali kita salah mengartikan, merasa bahwa kalimat-kalimat yang muncul dalam kepala kita adalah keinginan kita yang sebenarnya. Padahal, bisa saja kalimat-kalimat tersebut adalah hal yang muncul setelah bertahun-tahun kita diajarkan bagaimana kita harus berpikir, dan bagaimana sewajarnya kita hidup.

Setelah membaca artikel ini, adakah hal yang kamu sadari bahwa hal tersebut bukanlah hal yang sebenarnya kamu inginkan? Jika ya, silakan berbagi pengalamanmu di kolom komentar!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter