Siapa itu Higher Self?

Posted on Posted in witnessday

 

wpid-2015-04-12-01-01-42_deco.jpg

 

Sejak kecil, saya selalu merasa bahwa saya lebih besar dari yang apa yang saya lihat, apa yang saya punya saat ini. Saya merasa begitu mampu, begitu hebat, dan saya bisa menjangkau seisi dunia. Ada suatu titik di mana saya merasa seakan saya ini sombong; kok bisa ya saya berpikir seperti itu? Saya kan hanya satu titik debu yang keciiiiiilllll sekali di Alam Semesta ini. Mana boleh menganggap diri besar dan hebat?

 

Namun kemudian seiring tumbuh dewasa saya memahami suatu perasaan yang sangat ajaib: saya tahu saya hanyalah satu titik yang teramat kecil, tapi di sisi lain, saya tahu bahwa di saat yang bersamaan, saya juga adalah suatu bola yang teramat sangat besar. Kemudian, saya pahami, bahwa ternyata selama ini tanpa saya sadari hakikat sejati saya selalu memanggil-manggil saya untuk ingat siapa diri saya sebenarnya. Hari ini, itu persis yang akan saya lakukan kepada kamu!

 

Di tulisan sebelumnya mengenai Past Life dan Past Life Regression, saya membahas sebuah perjalanan jiwa; bahwa jiwa adalah energi yang tidak bisa dilenyapkan dan menggunakan bentuk yang berbeda-beda untuk menjalani pengalaman sebagai manusia, salah satunya.

 

Pertanyaannya: apa kita sudah betul-betul memahami siapa sebenarnya jiwa kita ini?

 

Saya tubuh saya, saya pikiran saya

Untuk memahami konsep jiwa, kita perlu menyadari bahwa walaupun pikiran, tubuh dan jiwa saling terhubung, tapi ketiganya juga berdiri sendiri-sendiri. Ketika meninggal, otomatis tubuh akan terurai dan ia bukan lagi menjadi bagian dari diri kita. Ia terpisah dari kita. Begitu juga dengan pikiran; ia datang dan pergi tanpa bisa kita kendalikan. Kalau ia memang adalah kita, tentu kita bisa mengendalikan dia sepenuhnya seperti kita mengendalikan apa yang kita mau lakukan pada isi dompet kita. Tapi kita paksa agar pikiran kita diam pun tidak bisa, karena itu pikiran ≠ kita. Sedangkan jiwa, jiwa adalah energi bahan dasar yang berada di pusat kehidupan kita. Ia adalah apa yang kita sebut hakikat sejati kita.

 

Istilah Higher Self

Umumnya dipakai dalam Bahasa Inggris untuk menggambarkan istilah ‘jiwa sejati’, ia juga sering disebut: Higher Consciousness, Oversoul, atau Christ Consciousness. Dalam Bahasa Indonesia bisa kita sebut: jiwa sejati, hakikat sejati, atau kesadaran tertinggi. Higher = lebih tinggi. Self = diri. Kata ini mau menjelaskan bahwa ada “diri” yang sehari-hari kita kenal dan membantu kita makan, bekerja, dan melakukan banyak hal yang sifatnya otomatis. Namun, selain “diri” yang itu, ada diri kita yang lain yang mempunyai tingkat kesadaran lebih tinggi. Ialah jiwa sejati ini.

 

Jiwa kita tak lain adalah citra Tuhan di dalam diri

Saya suka sekali mengutip ayat Al-Quran yang mengatakan bahwa Allah meniupkan Roh-Nya ke dalam diri kita. Pertanyaannya: kalau Roh Allah ada di dalam diri kita, maka kita = …?

 

Alkitab juga menggunakan kalimat yang serupa. Dikatakan bahwa manusia diciptakan berdasarkan citra Tuhan. Tapi kalau kita lihat kelakuan kita sehari-hari, kok masih beda jauh ya sama gambaran kelakuan Tuhan? Lalu, di mana sebenarnya letaknya citra Tuhan tadi?

 

Ajaran Buddha sering menyebutnya sebagai hakikat sejati atau hakikat kebuddhaan. Salah seorang guru saya, Dharma Master Cheng Yen, sering mengatakan: manusia lupa bahwa di dalam dirinya ada hakikat sejati yang sama seperti Buddha. Tugas kita adalah untuk mejernihkan batin kita untuk kembali pada hakikat diri sejati.

 

wpid-1439215482044.jpg

 

Ke mana hilangnya Tuhan di dalam diri?

Tuhannya tidak hilang ke mana-mana. Ia tepat ada di sini, di dalam jiwa sejati kita. Di artikel sebelumnya saya menjelaskan bagaimana amnesia akan hakikat diri dan cara bermain di Bumi adalah bagian dari tantangan kita di sini. Di sisi lain, ada dua faktor penting mengapa jiwa sejati ini seakan terkubur di dalam keseharian kita. Kembali ke awal, alasannya terletak pada tubuh dan pikiran; dua hal yang membuat pengalaman kita sebagai manusia menjadi lengkap.

 

Tubuh terdiri dari indera dan indera inilah penghubung kita ke pikiran. Lewat adanya indera, kita terekspos oleh segala hal di luar diri kita. Lewat adanya indera, pikiran membuat respon, tindakan apa yang kita akan ambil selanjutya. Pikiran/ ego, yang sering disebut kegelapan batin, adalah kualitas diri yang masih harus kita perbaiki dalam perjalanan hidup kita, misalnya: sifat kemarahan, keserakahan, ketidakpedulian, dll. Karena adanya rangsangan yang diterima tubuh dari dunia luar dan kondisi batin yang kurang jernih, hakikat sejati kita pun terlupakan.

 

Kembali pada Hakikat Diri Sejati

Tulisan ini dibuat agar kita ingat SIAPA DIRI KITA SEBENARNYA. Kita yang kita kenal selama ini jauh lebih kecil dibanding siapa kita sebenarnya. Jiwa kita yang sejati memang betul serupa dengan Tuhan: Maha Pengasih, Maha Pemaaf, Maha Bijaksana. Ia bisa melakukan banyak hal yang ajaib, menyembuhkan segala rintangan dan mental dan fisik bahkan secara instan. Itulah diri kita yang sebenarnya… Kita yang telah ada sejak awal mula sampai masa tak terhingga, kita yang bisa bergerak melintasi ruang, waktu, alam dan dimensi. Kita yang adalah satu kesatuan dengan para malaikat, roh pembimbing, para nabi dan para kudus. Kita yang bisa memberikan jawaban atas segala pertanyaan dan memahami rahasia Alam Semesta.

 

Saya merasa sangat sangat rendah hati dan bersyukur karena bisa menjadi saksi kebesaran jiwa sejati kita lewat sesi Quantum Healing yang saya jalankan. Lewat komunikasi dengan jiwa sejati para klien, saya betul-betul yakin bahwa apa yang selama ini tertulis di berbagai kitab itu benar.

 

Kita adalah jiwa sejati yang punya kualitas yang sama dengan Tuhan. Kita adalah bagian dari Tuhan. Percikan cahaya Tuhan. Tuhan adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Tuhan ada samudera dan kita semua adalah air yang berada di dalamnya.

 

Semoga sharing sederhana ini membuat kita semua paham bahwa ada sesuatu yang murni dan ilahi di dalam diri kita. Sekarang saatnya mendengar dari kamu: Apa yang paling berkesan dari artikel ini menurutmu? Apa ada perubahan dari cara kamu melihat dirimu sendiri saat ini?

 

>> Kalau kamu tertarik untuk berkomunikasi dengan jiwa sejatimu melalui sesi Quantum Healing, kamu bisa klik di sini.

 

>> Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang proses Quantum Healing, kamu bisa lihat videonya di sini.

 

Terima kasih karena telah membaca artikel ini. Telah menjadi misi hidup saya untuk mengingatkan semua orang siapa diri mereka yang sejati, dan kamu bisa membantu saya mewujudkannya dengan berbagi tulisan ini ke seluruh sahabat kamu. Cintai dirimu karena kamu sungguh-sungguh luar biasa! Sampai jumpa.

 

 

Love and light,

Amelia Devina

 

 

Share the love...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter