witnessday

Sering Marah-marah? Ini Akibatnya pada Tubuh!

Selama beberapa tahun pengalaman saya dalam menjalani profesi sebagai konselor, saya menemukan begitu banyak orang dewasa pada umur 40-an bahkan sampai 60-an yang masih memendam kemarahan begitu besarnya karena trauma di masa kecilnya. Mereka bisa sampai berkonsultasi dengan saya karena saat ini mereka mengalami berbagai permasalahan di dalam hidupnya yang mereka rasa sudah terlampau sulit untuk diselesaikan.

Mulai dari masalah seperti kawin cerai, memiliki anak dengan sifat yang kurang baik, hubungan yang tidak harmonis dengan keluarga, sifat dominan yang berlebihan hingga orang yang terlalu menutup diri. Bahkan saya juga bertemu dengan klien yang bekerja terlalu keras dan juga klien yang memiliki masalah finansial. Dan ini semua, berakar dari kemarahan yang tidak tersalurkan dan terselesaikan dengan baik.

Kemarahan adalah emosi yang sangat kuat. Jika tidak dikelola dengan baik, kemarahan bisa menjadi sangat destruktif; baik pada orang lain, maupun ke diri sendiri. Argumen jadi sulit dihindari, serangan fisik juga semakin mungkin terjadi. Bukan hanya itu, bahkan jika kita memiliki kemarahan dan juga kebencian yang begitu besar kepada diri sendiri, tidak menutup kemungkinan kita jadi memiliki suicidal thoughts (keinginan untuk membunuh diri sendiri) dan hal tersebut tidak mustahil untuk benar-benar terjadi.

National Institute for the Clinical Application of Behavioral Medicine (NICABM) pada tahun 2017 menggambarkan bagaimana kemarahan bisa mempengaruhi otak dan tubuh kita. Ketika kemarahan muncul, ia mengaktifkan amygdala secara tidak kita sadari memberikan signal pada kelenjar pituitary untuk  mengaktifkan kelenjar adrenal sehingga hormon stress seperti cortisol, adrenaline, dan nonadrenaline mengalir pada tubuh. Sedangkan kortisol yang naik menyebabkan kita kehhilangan kemampuan kita untuk melakukan penilaian yang baik; keputusan dan juga perencanaan yang akan disusun menjadi tidak baik. Selain itu, kortisol yang naik juga menyebabkan melemahnya ingatan jangka pendek sehingga memori yang baru masuk tidak terbentuk dengan baik.

“Whatever you resist, persists” – Carl Jung

Ketika kita merasa sangat marah dengan seseorang, menahan kemarahan bisa menjadi solusi untuk sementara waktu. Tentu saja kurang bijak rasanya untuk langsung melempar kemarahan kita pada orang lain begitu saja, bukan? Namun, menahan kemarahan ini sendiri tentu tidak menyelesaikan masalah dan bahkan bisa berakibat fatal jika terus menerus dilakukan. Keadaan bisa menjadi semakin memburuk dan bahkan bisa mencelakakan diri sendiri! Gak percaya? Berikut 7 fakta mengenai bagaimana kemarahan bisa memberikan ancaman pada kesehatan kita:

Fakta #1: Kemarahan Memberikan Resiko Kesehatan pada Jantung

Salah satu organ yang beresiko tinggi ketika kemarahan memuncak adalah jantung. “Dalam waktu 2 jam setelah kemarahan meledak, kemungkinan terjadinya serangan jantung meningkat 2x lipat”, ujar Chris Aiken, MD, seorang instruktur psikiatri klinis di Wake Forest University School of Medicine.

Fakta #2: Kemarahan Meningkatkan Resiko Stroke

Jika kamu mudah untuk ‘menyerang’, berhati-hatilah karena salah satu studi menyebutkan bahwa 2 jam setelah kemarahan memuncak, resiko stroke meningkat 3x lipat karena penggumpalan darah menuju otak atau pendarahan pada otak.

Fakta #3: Kemarahan Melemahkan Sistem Imun

Jika kamu sering marah, kamu akan merasa sering sakit. Salah satu studi yang dilakukan peneliti Harvard University menemukan bahwa dengan mengingatkan orang sehat akan pengalaman yang membuat mereka marah bisa menyebabkan turunnya antibody immunoglobulin A (sel urutan pertama yang bertarung melawan infeksi) selama 6 jam.

Fakta #4: Kemarahan Meningkatkan Kecemasan

Jika kamu mudah cemas, sadari bahwa kecemasan dan kemarahan bisa muncul berdampingan. Pada studi yang diterbitkan jurnal Cognitive Behavior Therapy pada tahun 2012, peneliti menemukan bahwa kemarahan bisa meningkatkan gejala Generalized Anxiety Disorder (GAD), sebuah kondisi yang bercirikan kecemasan yang berlebihan dan tidak terkontrol yang bersinggungan dengan kegiatan sehari-hari.

Fakta #5: Kemarahan Juga Terhubung dengan Depresi

Berbagai studi menhubungkan depresi dengan agresi dan juga kemarahan yang meledak-ledak. “Pada depresi, kemarahan yang bersifat pasif di mana kamu memikirkan hal tersebut namun tidak melakukan tindakan apapun sangat sering ditemukan”, ucap Aiken.

Fakta #6: Kebencian Bisa Melukai Paru-paru

Orang yang sering marah, berseteru, bisa menyebabkan paru-parunya terluka. Sebuah grup peneliti di Harvard University meneliti 670 orang lebih dari 8 tahun menggunakan metode skala penilaian kebencian untuk mengukur tingkat kebencian dan mengamati perubahan pada fungsi paru-paru mereka. Orang dengan tingkat kebencian paling tinggi memiliki kapasitas paru-paru yang buruk sehingga meningkatkan resiko masalah pada pernafasan.

 Fakta #7: Kemarahan Bisa Memperpendek Umur

Sebuah studi pada University of Michigan yang dilakukan dalam 17 tahun menemukan bahwa pasangan yang saling menahan emosinya memiliki umur yang lebih pendek daripada pasangan yang dengan siap mengungkapkan kemarahannya.

Sesuai dengan apa yang Carl Jung sampaikan, semakin kita tahan-tahan, malah semakin menjadi-jadi. Entah orang yang membuat kita marah malah semakin berulah, atau malah kemarahan kita semakin menjadi-jadi di dalam hati sehingga berakibat buruk pada kesehatan kita.

Saya sendiri sudah merasakan dan melihat akibat dari kemarahan yang dipendam terlalu lama. Jadi apakah kamu tetap ingin terus menyimpan, memendam kemarahanmu?

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter