witnessday

Seks & Spiritualitas: Membuka Obrolan yang Dianggap Tabu

Mungkin di antara teman-teman ada yang kaget dan bertanya-tanya, “Kenapa Amel jadi ngomongin tentang seks?”. Mungkin ada yang hanya merasa bingung, mungkin juga ada yang merasa seks adalah topik yang tabu untuk dibicarakan apalagi oleh seorang praktisi spiritual.

Nyatanya tidak ada yang tabu dari seks apalagi ngobrolin tentang seks. Kenapa? Karena sebagai manusia, kita memiliki tubuh dengan fungsi yang sama. Dan kita berhak untuk mengeksplorasi seksualitas kita, sama seperti kita berhak untuk mengeksplorasi dan menggunakan tubuh kita; baik untuk berjalan, membaca, berolahraga, maupun makan.

Di luar sana, banyak yang ngomongin cara membaca, tips berolahraga, cara memasak suatu hidangan. Tapi kenapa saat kita ngomongin seks, banyak sekali orang yang menghindarinya? Malu atau bahkan merasa itu adalah hal yang tabu?

Apalagi ketika ngobrolin seks dengan spiritualitas, pasti banyak yang merasa kedua hal ini saling bertolak belakang. Seks dianggap hal yang sangat kotor, dan terlarang, sedangkan spiritualitas bersifat begitu suci dan kudus. Apa sih yang menyebabkan kita berpikir seperti itu?

Seks sendiri memiliki fungsi utama dalam tubuh dan kehidupan kita. Dan disanalah salah satu energi kreativitas kita mengalir. Dan seks sendiri juga bisa dianggap sebagai salah satu cara kreatif kita untuk mengekspresikan cinta; baik pada diri sendiri dan juga kepada pasangan kita.

Namun sayangnya, masyarakat menabukan seks. Sehingga cara-cara yang tidak sehat pun ditempuh demi bisa menyalurkan besarnya energi tersebut. Salah satunya dengan konten porno. Hal tersebutlah yang semakin menjauhkan seks dari spiritualitas.

Selain itu, kita juga melihat sendiri contoh nyata di mana seks benar-benar dipisahkan dari kegiatan spiritual; ketika seseorang mengambil jalan pembujangan (berkomitmen untuk tidak melakukan kegiatan seksual) selama menjalani kehidupan spiritual/keagamaan-nya.

Alhasil, ada banyak kasus-kasus di mana pelecehan dan juga pemerkosaan yang terjadi justru di dalam institusi spiritual/keagaaman itu sendiri. Sangat disayangkan, bukan?

Di Indonesia sendiri, ada candi yang banyak menggambarkan seksualitas itu sendiri; Candi Ceto yang menggambarkan energi maskulin, dan Candi Sukuh yang menggambarkan energi feminin. Hal ini membuktikan kepada kita, seks menjadi sesuatu yang dianggap penting dan juga sakral secara bersamaan. Nah seperti apakah seks yang sakral itu?

1. Berhubungan dengan Spiritualitas

Kita adalah makhluk spiritual yang sedang menjadi seorang manusia. Dengan begitu, akan menjadi lebih mudah untuk memahami bahwa seksualitas juga menjadi bagian dari pengalaman spiritual secara tidak langsung.

Ketika kita menganggap bahwa segala yang berhubungan dengan seksualitas juga berkaitan dengan spiritualitas, maka kita akan menyalurkannya dengan cara yang baik.

2. Menyadari Bahwa Kita Berhubungan dengan Makhluk Ilahi

Saya, kamu, dia, mereka… Kita semua adalah makhluk dengan benih ilahi. Sehingga segala perbedaan dan tuntutan yang mungkin kita berikan dan juga dapatkan dari pasangan kita, bisa dijadikan latihan untuk saling memenuhi kebutuhan dan juga bentuk pelayanan satu sama lain.

3. Menjalankan Hubungan Seks dalam Kondisi yang Menunjang

Hubungan seks yang sakral bukan hanya sekedar bertemunya kedua kelamin ataupun tercapainya orgasme. Namun hubungan seks yang dilakukan dengan aktifnya seluruh indera dan penuh kesadaran. Sehingga hubungan seks yang sakral juga merupakan seks yang mindful.

Selain itu, seks yang sakral juga tidak dilakukan di sembarang tempat. Namun di tempat yang menunjang terjalinnya keintiman antara pasangan.

4. Terjadi dengan Alamiah dan Intuitif

Seks yang sakral adalah seks yang dilakukan dengan intuisi yang aktif. Tidak dipaksakan. Tidak juga ragu untuk mengeksplorasi segala kegiatan yang ingin dilakukan bersama pasangan. Kedua pasangan saling melayani dan memberikan kenikmatan mengikuti intuisinya.

Hal ini sangat dekat dengan tantric sex, di mana hubungan seks yang dilakukan bukan semata-mata untuk mencapai orgasme, namun untuk merasakan dan menikmati perjalanan dalam hubungan seks itu sendiri. Menikmati keterhubungan tersebut dan bagaimana energi tersebut mengalir, sehingga kita berada pada momen saat ini dengan pasangan.

5. Sendiri pun OK!

Jika kamu masih belum berpasangan, dorongan seksual pun akan tetap ada. Dorongan seksual ini bisa disalurkan sendirian sembari mengeksplorasi diri. Tanpa merasa malu apalagi tabu. Dengan mengeksplorasi diri sendiri secara sekual, maka kita juga akan semakin mengenal diri sendiri dan paham bagaimana cara menyalurkan dorongan seksual meski sendirian tanpa mengganggu orang lain.

Ingat, semakin kita menahan, menekan dorongan seksual, maka energi tersebut akan mengalir ke tempat lain secara berlebihan atau malah menjadi meledak-ledak sehingga berpotensi mengganggu atau bahkan merugikan orang lain.

Selamat mencoba dan semoga kita semua bisa menjadi lebih bijak dalam menyalurkan dorongan seksual kita.

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter