witnessday

Pengakuan: Langkah Awal Pembebasan

 

Seringkali kita menghabiskan waktu kita untuk bersikap ngotot akan sesuatu; bersikeras bahwa kita dalam posisi benar, yakin 100% bahwa kita adalah korban, menolak dengan lantang bahwa kita melakukan kesalahan. Sekarang, coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apa hasil dari keras kepala tersebut dan bagaimana hal tersebut bisa mengubah hubungan dengan orang-orang di sekitarmu?

Ada pepatah yang mengatakan bahwa, “tidak akan ada asap, jika tidak ada api” yang berarti segala sesuatu yang terjadi pasti ada penyebabnya. Bagaimana jika pepatah tersebut diaplikasikan pada kehidupan kita? Apapun yang terjadi pada kehidupan kita pasti ada penyebabnya.

Misalnya saja ketika kamu ditipu orang, penyebabnya tentu bisa berbagai macam; Apakah kamu kurang waspada, apakah kamu salah menilai orang, ataukah ini karma yang sedang berbuah? Namun yang perlu digaris-bawahi di sini adalah apapun yang terjadi padamu, penyebabnya juga pasti ada hubungannya dengan dirimu.

Namun karena ego kita yang begitu besar, kita mati-matian membela diri. Meskipun kita ditipu karena kurang waspada, kita memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain secara membabi-buta. Kita tidak memberikan ruang berkaca untuk diri kita sendiri, sehingga sebagai manusia, kita tidak berkembang.

Nah, bagaimana sih caranya melakukan pengakuan yang benar? Seperti apa sih pengakuan yang mampu memberikan kita rasa lega sekaligus dapat mengembangkan diri?

1. Menghindari Penilaian (Berlebihan)

Ketika melakukan pengakuan, kita coba merunut ulang kejadian sebelumnya. Ingat, yang perlu dilakukan adalah merunut, bukan menghakimi. Hindari kata-kata yang menghakimi seperti “bodoh”, “nakal”, dan sejenisnya untuk membiasakan diri kita melihat kejadian apa adanya.

2. Evaluasi dengan Sehat

Jika memang apa yang dilakukan sebelumnya masih kurang sempurna, coba susun langkah perbaikan yang mungkin untuk dilakukan sehingga proses evaluasi berjalan sehat; tidak melulu menyalahkan orang lain saja, atau hanya menyalahkan diri sendiri.

3. Gunakan Media yang Tepat

Ada orang yang bisa duduk berdiskusi dengan temannya, namun ada juga orang yang lebih memilih untuk melakukannya sendiri sambil menuliskan di atas kertas. Apapun media yang kamu pilih, pastikan kamu bisa mengeluarkan uneg-uneg tanpa membuatmu menjadi toxic.

Dengan ketiga cara tersebut, kamu setidaknya mengakui bahwa kamu punya andil terhadap permasalahan yang terjadi di sekitarmu dan itu sudah meringankan bebanmu sehingga memudahkanmu untuk move on menjadi lebih baik.

Di sisi lain, ada orang yang saking sering berkaca, ia terus menerus menyalahkan dirinya. Setiap kesalahan yang terjadi selalu disalahkan ke dirinya sendiri sehingga membuat dirinya menjadi minder, penakut, kecil hati dan sebagainya. Ini pun bukanlah hal yang baik.

Dosis berkaca yang sehat dan juga objektif sangat diperlukan dalam hal ini. Ketika melakukan pengakuan, kita sebaiknya menghindari judgement subjektif yang berlebihan. Cukup akui saja bagaimana bagianmu dan bagaimana kita bisa mengembangkannya menjadi lebih baik.

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter