witnessday

Menyambut Nyepi, Menghadapi Pandemi

 

Setiap tahunnya, umat Hindu menjalankan Nyepi untuk merayakan tahun baru Saka. Perayaan ini berbeda dengan perayaan pada umumnya yang penuh acara dan keramaian. Nyepi itu sangat sunyi. Setiap umat Hindu menjalankan Nyepi dengan tanpa melakukan apapun, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh mendengar hiburan, bahkan masak dan menyalakan lampu pun tidak diperbolehkan.

Saat Nyepi, umat Hindu dianjurkan untuk mengamati hidup dengan tenang, melakukan kontemplasi. Tepat esok harinya, umat Hindu akan ‘merayakan’ tahun barunya dengan keluarga tercinta. Pertemuan keluarga yang hangat dan pastinya akan ada sesi di mana satu sama lain saling meminta maaf dan memaafkan.

Bagaimana denganmu? Di saat masa isolasi ini, apa saja yang kamu lakukan di rumah?

Karena sedang mengisolasi diri, saya sekarang jadi sering scrolling media sosial. Banyak yang bilang udah bosen di rumah, mau sampai kapan dan lain-lain. Ya memang saat ini adalah masa yang sulit. Kita yang sudah ketergantungan dengan aktivitas dan kebiasaan sehari-hari merasa tersiksa karena saat ini kita tidak dapat melakukannya seperti biasa. Sekarang kita dipaksa untuk berdiam di dalam rumah dan menikmati segala keterbatasan yang ada.

Belum lama, ada teman yang mengingatkan begini, “Anything that is not built with love needs to be destroyed.” Jika diterjemahkan, artinya ”Apapun yang tidak dibangun atas dasar cinta perlu dihancurkan.” Atau bisa saya katakan, perlu dilepaskan. Atau, kalau tidak dilepaskan pun, pada akhirnya alam yang akan membuat dia lepas dan hancur.

Seumur hidup kita sudah dibesarkan dengan tata cara yang disuapkan ke depan muka kita: bagaimana pemerintah, uang, sistem ekonomi, pendidikan, kesehatan, makanan, agama, bahkan hubungan bersosial dan personal kita diatur tanpa kita sadari. Tapi saat ini, semua sistem ini sedang hancur, sedang berubah.

Berdoa sekarang terasa berbeda, makan dan minum juga terasa berbeda. Belanja keperluan sehari-hari kini terasa begitu mencekam. Bertemu dengan teman dan orang terkasih pun rasanya janggal karena kita perlu menjaga jarak. Kita, sebagai manusia yang sudah mengikuti pola yang sama sedemikian lamanya, perlu mengizinkan untuk membiarkan ini terjadi.

Saat ini, kita sedang menyaksikan bagaimana Alam Semesta bekerja. Sehingga akan jadi lebih mudah jika kita mengizinkan diri sendiri untuk melepas yang sudah usang dan perlu berganti. Sekat agama hancur. Semua suku bangsa jadi melebur. Manusia bahu membahu untuk saling menolong. Cara kita berinteraksi, cara kita memakai uang, melihat negeri, makan, minum, belajar, dan hidup dalam sendiri. Agar kita bisa lahir kembali menjadi manusia baru. Menuju Bumi yang baru.

Kita semakin menghargai kebebasan menginjakkan kaki ke luar rumah, atau bahkan sekedar jabatan tangan dan pelukan dengan teman. Uang tidak bisa lagi untuk hanya hura-hura, karena kemudian kita akan belajar membeli bukan hanya karena keinginan melainkan untuk yang penting saja. Sekolah, tempat ibadah, kantor, cara kita berkegiatan ternyata tidak lagi selalu harus bertemu muka, semakin mirip dengan dimensi lebih tinggi di mana semua bisa dilakukan semudah telepati. Figur otoriter, figur penguasa semua menjadi sama rata di mata Corona. Makan minum kita menjadi lebih baik. Kita jadi semakin mengenal diri sendiri.

Lalu sekarang tibalah saatnya Nyepi. Orang mengheningkan diri. Yang Kristiani berpantang dan dalam sebulan Ramadhan datang lagi. Kantor tutup, sekolah tutup, bioskop tutup – tapi hati kita semakin terbuka lagi. Dan belum pernah terjadi dalam sejarah bumi, bahwa kita bukan lagi berperang negeri antara negeri, atau dengan peluru atau bom bunuh diri. Seluruh umat manusia mesti merawat lukanya dengan berani, lalu bersama berperang melawan tirani, pola lama yang membohongi, dan virus mematikan yang memaksa kita untuk berjumpa diri sendiri.

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter