witnessday

Mengenal Lebih Jauh Tentang “Om”

 

Di beberapa kesempatan mungkin kamu merasa familiar dengan lantunan mantra “Om” baik yang dilakukan bersama-sama selagi meditasi atau mungkin pada lagu pengiring di berbagai kegiatan lainnya. Namun, apa sih sebenarnya “Om” itu? Apakah itu mantra? Ataukah itu sesuatu yang gaib dan membahayakan?

“Om” itu sendiri adalah huruf Sanskrit kuno yang ditemukan pada sebuah kumpulan himne Vedic Sanskrit yang dinyanyikan untuk memuja Sang Ilahi di Vedas pada kisaran tahun 1,500-1,200 SM. Pada awalnya, nyanyian tersebut tidak disebarkan secara tertuluis, namun secara verbal hingga kata “Om” diuraikan pada salah satu teks religius di India, Upanishads.

SreeDevi Bringi, seorang sarjana dari Eastern Religions and Yogic Studies di Naropa University, menyatakan bahwa tujuan utama dari “Om” pada teks kuno tersebut adalah untuk merasakan non-dualistic awareness, di mana hal ini juga menjadi tujuan dari seluruh latihan yoga. Maka tidak heran jika melantunkan mantra “Om” menjadi sering dilakukan di dalam kelas yoga; selain untuk mencapai tujuan berlatih yoga, bermeditasi sambil melantunkan “Om” juga bisa menjadi praktik cabang keenam pada yoga, yaitu Dharana. Selain itu, “Om” juga seringkali disebut sebagai suara pertama dari alam semesta.

Seluruh hal di dalam alam semesta berdenyut dan bergetar – tidak ada yang diam tak bergerak. Bunyi “Om” ketika dilantunkan bergetar pada frekuensi 432 Hz, di mana ini adalah frekuensi getaran yang sama yang didapatkan di alam bebas. Sehingga ketika kita melantunkannya, kita secara simbolis dan fisik menyatu ke dalam bunyi dan menyadari hubungan kita dengan seluruh makhluk hidup dan alam semesta.

“Om” biasanya dilafalkan “Aum”. Secara simbolik, “Aum” melambangkan energi ilahi (Shakti) dengan 3 karakteristiknya: penciptaan, kelestarian, dan pembebasan. “Aum” sendiri memiliki 4 bunyi yaitu A, U, M dan bunyi hening.

Bunyi pertama adalah A yang diproduksi dari bagian belakang tenggorokan dan direntangkan. Dengan membunyikan A dengan cara tersebut, kita akan merasakan getaran pada solar plexus dan dada. Selanjutnya bunyi U, dilafalkan secara panjang dengan suara yang bergulung maju secara perlahan menuju bagian langit-langit mulut. Kita akan merasakan getaran pada tenggorokan.

Lalu bunyi M dilafalkan dengan bunyi m yang memanjang dengan posisi gigi depan menyatu perlahan. Kita pun akan merasakan puncak dari getaran tersebut. Terakhir, bunyi hening adalah keheningan mendalam dari sesuatu yang tak terhingga. Kita akan menyatukan bunyi M menuju keheningan.

Semua itu memang hanya teori belaka, boleh percaya, oleh juga tidak. Namun secara sains, pelafalan “Om” memiliki beberapa manfaat nyata. Sebuah studi menyatakan bahwa latihan pernapasan Bhramari dalam yoga dan pelafalan “Om” memberikan peningkatan signifikan pada fungsi paru.

Selain itu, pelafalan “Om” juga terbukti mampu meningkatkan kewaspadaan secara mental meski sedang berada dalam kondisi rileks yang ditandai dengan menurunnya detak jantung. Kita pun bisa menjadi sadar dengan keadaan sekitar karena meningkatnya sensitivitas terhadap transimisi sensorik.

Getaran yang berlangsung ketika melafalkan “Om” juga mampu menstimulasi syaraf ke seluruh tubuh dan berperan besar untuk menonaktifkan syaraf yang ada di sistem limbik, sama seperti pengobatan yang digunakan untuk depresi dan epilepsi. Sehingga melafalkan “Om” juga bisa digunakan untuk pengobatan klinis untuk kondisi tertentu.

Sebagai salah satu simbol atas terhubungnya kita dengan seluruh makhluk hidup, pelafalan “Om” biasanya dilakukan pada pembukaan dan juga penutupan suatu kegiatan sehingga bisa mengingatkan kita akan keterkaitan kita dengan makhluk lain.

Dan bagi kamu yang ingin praktek langsung atau mau tau lebih lanjut seputar mantra “Om”, yuk ikut kelas Sound Healing yang akan diadakan di Loveground, hari Sabtu 24 Agustus 2019 jam 13.00-15.00 nanti. Akhir kata, semoga setelah penjelasan singkat seputar asal usul, filosofi dan juga manfaat dari melafalkan “Om” pada artikel kali ini bisa membantumu untuk memahami dan juga mengenal “Om” lebih dalam.

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter