Menerima Minoritas Sebagai Bentuk Self Love dan Self Acceptance

Posted on Posted in witnessday

 

Belakangan ini isu mengenai pergulatan kaum mayoritas dan minoritas sangat sering terdengar di telinga kita. Berbagai komentar, pembelaan, dan dukungan saling beradu. Perseteruan tersebut juga seringkali menguras tenaga dan emosi teman-teman karena adanya perasaan kedekatan ataupun kesamaan, sehingga timbul dukungan, baik ke kubu mayoritas maupun ke kubu minoritas.

Bagi teman-teman yang belum mengenal saya secara personal, saya ingin menceritakan sedikit latar belakang saya agar bisa menjelaskan bagaimana konsep mayoritas dan minoritas ini bekerja. Saya adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Jakarta, keturunan Chinese, bersekolah dan dibesarkan secara Katolik, di lingkungan orangtua yang latar belakangnya Kong Hu Cu, lalu kemudian saya menjadi relawan di yayasan  Buddhis, dan saat ini aktif untuk sharing dengan menggunakan paham universal.

Dengan latar belakang saya, apakah saya mayoritas? Ataukah saya minoritas? Saya adalah mayoritas dan minoritas itu sendiri. Mengapa?

Saya menjadi minoritas dalam keluarga saya ketika berbicara mengenai agama. Namun, saat keluarga saya menemani saya ke gereja misalnya, maka saya menjadi mayoritas dan keluarga saya menjadi minoritas saat itu. Namun, ketika ditarik lebih jauh lagi, ketika saya hidup bermasyarakat di Indonesia, saya dan keluarga saya akan bersama-sama menjadi minoritas karena kami keturunan Chinese.Tapi bahkan jika seseorang yang menganggap dirinya mayoritas di Indonesia pergi ke… nggak usah jauh-jauh deh.. ke Ambon atau Bali misalnya, maka mereka bukan lagi mayoritas di dua tempat itu. Mereka seketika itu juga jadi minoritas. Apalagi kalau ke negara orang seperti Afrika Selatan yang mayoritas Kristiani dan India yang mayoritasnya Hindu. Cukup rumit, namun hal ini mudah dipahami, bukan?

Setiap orang adalah mayoritas sekaligus minoritas. Kalau kamu tipe pendiam di kelas dan suka baca buku sendirian, kamu menjadi minoritas di kelas waktu sekolah. Kalau kamu pecinta binatang dan seorang vegetarian, kamu menjadi minoritas di kalangan teman-teman yang bangga menjadi karnivora. Kalau kamu suka spiritualitas, meditasi, yoga, percaya reinkarnasi, pergi ke pembaca kartu Tarot, dan suka hal-hal sejenisnya, kamu sudah menjadi minoritas – bahkan di dunia ini. Tapi, uniknya, entah kamu mayoritas atau minoritas, setiap dari kamu pasti ingin hidupnya bahagia dan tidak ingin menderita. Setiap dari kita sebenarnya tahu apa rasanya jadi minoritas, dan tahu betapa tidak enaknya hidup sebagai minoritas.

Setiap orang pasti memiliki sisi di mana dirinya enggan untuk menunjukkan sesuatu yang tidak sepaham dengan banyak orang karena takut akan penolakan. Apalagi dengan berbagai kejadian yang sedang ramai dibicarakan saat ini, pasti banyak di antara kita yang menjadi semakin khawatir akan penolakan atas keberadaannya atau atas pemikirannya.

Namun, dengan memahami bahwa posisi mayoritas dan minoritas akan selalu berubah, maka akanlebih baik jika kita dapat menerima dan memahami teman-teman yang berbeda dengan kita, bukan? Dengan berbesar hati menerima orang yang memiliki pendapat, kepercayaan, ataupunlatar belakang yang berbeda dengan kita, maka kita sudah mempraktekkan self-love dan self-acceptance itu sendiri.

Ia yang tidak menerima orang lain berarti masih belum sepenuhnya menerima dirinya sendiri. Belum mengakui ‘keberadaan dirinya yang lain’ yang ia lihat dari wajah sesamanya. Ketika kita tidak lagi merasa kurang dan merasa berkecukupan, maka pihak luar tidak lagi bisa mengganggu kita. Bagaimana mungkin kita berharap agar kita dicintai orang lain kalau kita tidak mencintai orang lain, apalagi mencintai diri sendiri?

Buat yang merasa mayoritas, tidak perlu berbangga diri. Buat yang merasa minoritas, tidak perlu berkecil hati. Kita semua adalah mayoritas. Kita semua adalah minoritas. Perlahan-lahan kita akan semakin berani untuk mengungkapkan pendapat kita,  bahkan kita akan mampu menempatkan diri kita sama pentingnya dengan orang lain.

Bayangkan, jika dunia berisikan orang yang penuh dengan cinta kasih dan pengertian kepada setiap orang yang berbeda dengannya, maka kita tidak perlu takut lagi akan penolakan dan kita dapat berkembang dengan lebih cepat dan hidup jauh lebih bahagia.
Yuk rangkul perbedaan dan bersiaplah untuk menerima cinta kasih lebih banyak lagi.

Share the love...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter