witnessday

Mendapatkan Firasat Buruk: Apa yang Harus Kulakukan?

 

Pernahkah kamu mendapatkan firasat buruk yang akan terjadi pada keluarga atau teman? Seperti memimpikan anggota keluarga, ayah atau ibu barangkali, yang berbaring di rumah sakit atau usaha teman yang tiba-tiba bangkrut lalu jatuh miskin. Hal-hal seperti itu seringkali membuat kita merasa panik dan juga takut; kita benar-benar merasa khawatir akan hal buruk yang mungkin saja terjadi pada mereka. Pada momen tertentu, mungkin saja kita jadi bertanya-tanya, “Apa yang harus saya lakukan agar hal buruk itu tidak terjadi?” atau “Bagaimana agar hal tersebut bisa digagalkan?”

Saya mengerti, bahwa perasaan khawatir dan takut ketika firasat buruk hadir sulit untuk diabaikan. Hal tersebut sangatlah alamiah, saya pun pernah merasakannya. Tetapi, bukankah akan menjadi lebih baik jika kita bisa menenangkan diri kita sejenak sebelum memberitahu dengan gegabah mengenai firasat buruk ini?

Seperti artikel yang sudah saya bagikan sebelumnya, menuliskan berbagai pertanda yang muncul pada sebuah jurnal bisa menjadi cara yang baik untuk mengetahui apakah firasat yang muncul adalah sebuah pertanda, ataukah hanya sebuah manifestasi dari kekhawatiran kita saja. Dengan membaca kembali jurnal tersebut, kita bisa jadi menilai kembali apakah firasat buruk yang muncul kali ini merupakan pertanda yang dapat membantu kita?

Jika ya, maka kita harus memperhatikan hal-hal berikut ini sebelum memberitahu perihal firasat buruk ini kepada yang bersangkutan:

1. Firasat yang muncul bukanlah sebuah gambaran masa depan yang absolut
Masa depan adalah gambaran yang tercipta dari apa yang sudah kita lakukan dari masa lalu. Apakah bisa diubah? Pada beberapa hal, bisa. Karena jika kita berhasil memanfaatkan saat ini dengan berbuat kebaikan atau melakukan perubahan, maka ada kemungkinan masa depan akan berubah.

2. Temukan cara yang tepat untuk memperingatkannya
Tidak semua orang siap untuk mendengarkan sebuah kabar buruk. Maka dari itu, akan lebih baik jika kita mencari cara yang tepat untuk memperingatkannya. Misalnya, jika kamu memiliki firasat bahwa temanmu akan bangkrut dalam waktu dekat karena dikhianati oleh partner bisnisnya, maka sebaiknya kamu bisa memberikan berbagai nasihat agar ia mau memperbaiki hubungan dengan partner bisnisnya sehingga hubungannya bisa menjadi lebih baik. Dengan cara penyampaian seperti itu, bukankah akan lebih baik daripada memberitahukannya secara gamblang dan membuat hubungannya dengan partner bisnisnya semakin buruk?

Saya jadi teringat tentang kejadian di mana teman saya merasa sangat khawatir dan tidak tenang karena diramalkan meninggal dalam waktu dekat oleh seseorang yang kebetulan saya kenal juga. Kenalan saya yang meramal itu bukanlah seorang peramal profesional, namun ia mengaku bahwa ia mendapatkan penglihatan yang begitu jelas sehingga teman saya menjadi begitu khawatir dan tidak fokus dalam menjalankan aktivitasnya.

 

Bayangkan betapa besarnya dampak yang diakibatkan hanya karena memberitahukan dengan gamblang firasat yang dirasakan. Orang yang mendengarnya pun belum tentu siap. Boro-boro bisa membantu mengubah nasib, yang ada malah memperburuk keadaan dan membuat orang tersebut tidak bisa berbuat baik dan being present.

Alangkah bijaknya jika kita, sebagai orang yang mendapatkan firasat, bisa berpikir lebih tenang sembari memperhatikan kondisi si penerima kabar juga. Dengan begitu, kita bisa coba untuk mencari ide bagaimana caranya agar ia bisa berubah menjadi lebih baik sehingga firasat buruk tersebut tidak terjadi.

 

 

Namun, perlu diketahui bahwa ada beberapa kejadian di mana firasat buruk tidak dapat dihindari. Apapun usahanya, hal buruk tetap saja terjadi dan seringkali hal ini membuat kita menjadi merasa bersalah dan merasa tidak cukup baik sehingga gagal untuk menolong mereka.

Ingatlah, setiap orang memiliki perjalanannya masing-masing. Ada saat di mana hal besar akan terjadi (dan tidak bisa dihindari) dalam hidup seseorang sehingga mereka bisa belajar dan juga menjadi titik perubahan besar dalam hidupnya. Dengan mengerti hal ini, yang selanjutnya bisa kamu lakukan adalah mengikhlaskannya. Sadarilah bahwa kamu sudah berusaha sebaik mungkin dan kejadian tersebut memanglah hal yang harus dilewatinya untuk bertumbuh.

Nah, bagaimana dengan kamu? Apakah kamu pernah mendapatkan firasat buruk mengenai keluarga atau teman dekat? Bagaimana kamu menghadapinya saat itu? Feel free untuk share di kolom komentar 😊

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter