witnessday

Membangun Batasan Sehat dengan Orangtua

Ketika kita berbicara mengenai keluarga, rasanya sulit untuk memisahkan banyak hal yang ada pada diri kita dengan keluarga; adik, kakak, ibu, ayah, tante, paman, bahkan hingga kakek nenek. Setiap kali ada hal penting dalam hidup kita, pasti pertimbangan akan kondisi, perasaan, penilaian mereka masuk dalam pertimbangan kita. Misalnya, ketika membeli properti, ketika memilih jurusan kuliah, ketika memilih pasangan, dan berbagai keputusan penting lainnya.

Padahal, itu semua adalah urusan pribadi kita yang berkaitan dengan masa depan diri kita sendiri. Mengapa kita malah jadi terlalu banyak melibatkan perasaan, kondisi dan penilaian keluarga kita?

Sedari kecil, orangtua kita seringkali mengabaikan batasan antara diri mereka dan kita. Waktu bayi, kita merengek setiap 2 jam sekali sehingga orangtua kita tidak memiliki me time. Mereka sibuk secara bergantian mengasuh kita. Begitu menginjak masa sekolah, mereka masih saja mengutamakan kepentingan anaknya dibanding dirinya sendiri. Dan sayangnya, hal ini terus terjadi hingga kita beranjak dewasa.

Hal ini agak berbeda dengan budaya barat di mana ketika seorang anak beranjak dewasa, ia akan keluar dari rumah dan mulai mencoba hidup mandiri sehingga orangtuanya bisa fokus menjalani kehidupannya kembali seperti sebelum memiliki anak. Jadi memang selama ini banyak di antara kita yang tidak mengenal batasan sehat karena orangtua kita pun tidak memberikan dan mencontohkan bagaimana batasan sehat bekerja.

Tentu tidaklah heran jika masih banyak anak yang masih menghadapi orangtua yang diktator meski anak tersebut sudah beranjak dewasa. Apakah kamu salah satunya?

Diktator hanya salah satu contoh dari banyak hal toxic yang mungkin orangtua lakukan kepada kita. Berikut saya tuliskan beberapa hal mengenai batasan sehat yang bisa kamu terapkan dalam hubunganmu dengan orangtua:

1. Ciptakan ruang hanya untuk dirimu sendiri

Seringkali orangtua merasa tidak ada informasi yang boleh disembunyikan oleh anak. Apapun itu. Apakah kita sedang berselisih dengan teman, ataukah ketika kita sedang dekat dengan lawan jenis, ataupun ketika kita merasa sedih dan sedang ingin sendirian.. Orangtua seringkali ingin tau, hadir, bahkan kalau perlu ikut berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada dirimu.

Padahal, setiap orang pasti butuh waktu untuk memproses beberapa hal sendirian, bukan? Selain itu, masing-masing dari kita juga pasti memiliki rahasia yang mungkin hanya kita dan Tuhan yang mengetahuinya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk memiliki personal space, ruang untuk diri sendiri. Entah itu di kamar kita, diary, laptop ataupun handphone. Kita perlu memiliki ruang di mana hanya kita saja yang bisa mengaksesnya.

Ciptakan ruangan ini dan jangan sungkan untuk menegur, siapapun – termasuk orangtuamu – ketika mereka ingin memasuki ruang pribadimu.

2. Tegas bukan berarti tidak sayang

Batasan yang sehat dalam sebuah hubungan tidaklah merenggangkan hubungan tersebut, namun malah memperkuatnya. Bagaimana bisa?

Ketika batasan sehat dilanggar, akan ada pihak yang terluka. Misalnya kamu tidak ingin mendengar curhatan dari orangtua mengenai betapa buruknya hubungan mereka karena hal tersebut sangat mempengaruhi hubunganmu dengan pasanganmu. Namun ketika mama atau papamu tetap memaksa untuk curhat kepadamu, akhirnya hubunganmu dengan pasangan menjadi terkena dampaknya dan kamu malah menjadi semakin menunjukan keberpihakan dalam keluarga yang akhirnya membuat keadaan semakin kacau.

Bayangkan jika kamu bisa tegas untuk tetap menjaga batasan tersebut. Bukan hanya hubunganmu dengan pasangan yang tetap harmonis, hubungan kamu dengan kedua orangtuamu pun juga akan tetap baik dan tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti kamu bisa membantu mereka menyelesaikan masalah.

3. Lakukan sesuatu karena cinta, bukan karena kewajiban

“Kalau kamu sayang mama dan papa, seharusnya kamu nurut apa kata orangtua!”, akhirnya karena kamu merasa sebagai anak wajib untuk menuruti kata orangtua, maka kamu akhirnya melakukannya.

Siapa nih yang sering berada pada posisi ini? Saya pun pernah mengalaminya dan banyak klien saya yang juga berada pada posisi ini, terbebani dengan apa yang sering dianggap kewajiban sang anak kepada orangtua.

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, apalah arti kewajiban jika kita tidak melakukannya atas dasar cinta dan kasih sayang? Alhasil malah jadi perhitungan dan penuh tuntutan balas budi di kemudian hari. Bayangkan jika kita melakukan segala sesuatu untuk orangtua secara ikhlas dan didasari oleh cinta, tentunya hubungan juga akan menjadi lebih harmonis dan jauh dari saling menyakiti.

4. Cinta tidak hanya didapatkan dari keluarga

Tak sedikit di antara kita yang berada dalam lingkungan keluarga sangat toxic. Penuh dengan makian, pukulan dan juga kata-kata yang menyakitkan. Mau dilihat dari sisi manapun, sulit untuk menemukan titik terang dari hubungan tersebut.

Saya ingin bilang bahwa cinta bukan hanya ada pada keluarga. Cinta juga ada di luar rumah; dari teman kerja, dari pasangan, dari teman kuliah dan dari orang-orang lainnya. Jadikan mereka sebagai bagian dari support system kamu sehingga kamu paham bahwa cinta juga bisa diberikan oleh orang-orang yang tidak memiliki ikatan darah denganmu.

Toxic ataupun tidak, memiliki batasan sehat dengan orangtua sama pentingnya dengan memiliki batasan sehat di berbagai hubunganmu dengan orang lain. Jika kamu merasa sulit untuk mengatur batasan sehat dengan orangtua, kamu bisa coba ikut kelas online Berdamai dengan Toxic Parents & Menjadi Dirimu Sendiri bersama saya dan Anastasia Satriyo, Kamis 28 Mei 2020 jam 8-9 malam di Zoom. Melalui online class tersebut, saya dan Anas akan menjelaskan hubungan antara toxic parenting dan implikasinya ke kehidupan kita sehari-hari serta hubungan kita dengan orang di sekitar kita. Silakan daftar di sini untuk ikut serta.

 

Sampai jumpa!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter