Melihat LGBT secara spiritual

Posted on Posted in Inspiration

Artikel ini sebenarnya adalah status update dari facebook saya yang direspon oleh cukup banyak orang. Karenanya, saya merepost ulang tulisan ini di sini. Beberapa minggu yang lalu, sebelum isu LGBT hangat diperbincangkan, dalam sebuah perjalanan beberapa teman coach & trainer bertanya apa pendapat saya mengenai LGBT. Mungkin beberapa dari mereka kecewa atau tidak setuju ketika saya menjawab bahwa saya bukanlah orang yang bisa menghakimi dan menyatakan benar atau salah. Tapi, sebagian besar dari mereka dengan tegas menentang perilaku LGBT, dan kebanyakan kemudian mendasari diri dengan referensi agama atau kitab.

 

Tulisan saya di sini sama sekali bukan ingin memperdebatkan, membela, dan menentukan mana yang benar dan salah. Saya hanya ingin berlaku adil dan berbagi apa yang saya tahu, terutama berdasarkan apa yang saya temukan dalam diri banyak orang di lini pekerjaan saya sebagai konselor, terapis, atau apapun orang menyebutnya.; Menyebut bahwa LGBT adalah akibat dari trauma dan merupakan gangguan jiwa terasa begitu sempit sekali. Ada banyak anak lelaki yang bermasalah dengan ayah atau ibunya, tapi apa kemudian mereka serta merta menjadi gay? Lagipula, siapa sih dari kita yang sama sekali tidak punya masalah dengan orangtua atau keluarga kita? Saya yakin persentasenya kecil sekali.

 

be kind

 

Ada banyak faktor yang lebih dari sekedar hanya trauma yang bisa menghasilkan perilaku LGBT. Sebagai terapis past life regression dan quantum healing di mana saya berbicara dengan hakikat sejati, jiwa yang paling murni dalam diri tiap orang, saya menemukan bahwa hidup ternyata lebih dari sekedar hitam putih. Ada banyak faktor pendukung yang sangat kompleks dan sulit dipahami oleh otak manusia; Alam Semesta bekerja dengan cara yang sangat misterius dan ajaib.

 

Salah satu faktor pendukung perilaku LGBT adalah ikatan karma, yang bisa berasal dari kehidupan masa lampau.

 

Saya tidak hendak mengarahkan pembaca untuk harus menyetujui apa yang saya tuliskan, tapi seringkali memang seseorang terlahir menjadi penyuka sesama gender karena mereka pernah memiliki janji dengan seseorang yang sangat mereka cintai di kehidupan sebelumnya. Pernahkah kita mendengar, atau bahkan kita sendiri, berjanji “aku akan selamanya menjadi kekasih/ pasanganmu?” Di kehidupan kali ini sih enak, yang satu laki-laki, satunya lagi perempuan. Bagaimana kalau kemudian di kehidupan selanjutnya dua orang yang berjanji ini bertemu sebagai sesama perempuan? Ini salah satu penyebab perilaku LGBT akibat ikatan karma.

 

Karena kita kemudian memahami bahwa evolusi jiwa kita mengambil bentuk beraneka rupa, gender, lokasi, agama, dan latar belakang, kita tahu dalam setiap perjalanan ini, ada memori yang tersimpan di gudang kesadaran dan secara natural membentuk alam bawah sadar kita — yang mana alam bawah sadar ini turut andil membentuk karakter kita, kebiasaan, cara berbicara, dan selera. Termasuk karakter maskulin/feminin dan selera dalam berpasangan. Pernah kan lihat laki-laki yang lembut atau perempuan yang tomboy? Perilaku LGBT juga bisa terjadi akibat terbawanya karakter dominan seseorang melewati berbagai masa kehidupan.

 

Mungkin ada yang bisa terkaget-kaget juga kalau saya bilang bahwa seseorang bisa mengambil peran LGBT karena itu merupakan bagian dari tujuan hidupnya. Why??? Karena dengan menjadi transgender misalnya, dia belajar tentang bagaimana ia harus sabar dihina dicacimaki direndahkan orang. Karena dengan ia menjadi seorang transgender keluarganya perlu belajar menerima dan mencintai seorang anak apa adanya. Karena dengan demikian sebuah bangsa bisa belajar untuk memperlakukan orang lain dengan penuh kasih dan setara. Ini adalah sebuah contoh, tetapi ini juga apa yang terjadi kepada sekian banyak orang tanpa disadari.

 

Lalu kemudian ada trauma.
Lalu kemudian ada tren. Orang ikut-ikutan. Dan ini memang tidak bisa dipungkiri.

 

Tapi, sekali lagi, siapalah saya sehingga saya bisa menentukan seseorang itu benar atau salah? Layak atau tidak layak? Waktu SMP saya pernah ditaksir seorang sahabat perempuan, dan kita masih berteman baik sampai sekarang. Waktu kuliah, saya berteman baik dengan seorang transgender yang bekerja sebagai simpanan lelaki expat. Dan sampai sekarang saya bersahabat dengan macam-macam lelaki gay yang sangat baik dan penyayang. Semuanya adalah manusia. Dan semua manusia sama-sama bisa merasakan pahit manis seperti yang kita juga sedang rasakan.

 

Seperti apa yang dikatakan Higher Self (hakikat sejati) dalam sesi Quantum Healing saya, LGBT justru semakin marak karena semakin ingin ditentang orang. Whatever you resist, persist. Semakin diusik, ditakuti, ingin dibuang, dibenci, justru energi yang terlimpah untuk hal itu semakin besar. Semakin berkembanglah dia. Inilah hukum energi dan inilah kekuatan pikiran. Pikiran yang mengarah ke sana menarik hal tersebut untuk semakin terjadi. Sama seperti kalau ada anak kecil yang nakal, kalau kita omelin dan pukulin, kira-kira anak itu akan makin nakal dan memberontak nggak? Tapi kalau kita berikan pengertian dengan lembut dari hari ke hari, apakah kira-kira lebih besar kemungkinan anak ini akan menjadi lembut dan penurut?

 

Semoga tulisan ini bisa membuka pikiran dan hati kita untuk melihat hidup dan manusia dari berbagai perspektif dan jauh melampaui tubuh fisik saja. Semoga kita sesama manusia (apalagi) bisa saling menerima dan menyayangi bukan karena apa-apa, tapi karena kita hanya sama-sama manusia saja, dan pada dasarnya, kita adalah satu.

Terima kasih. Bless you, beautiful soul. Love you!

 

Amelia Devina
Quantum Healing Practitioner & Intuitive Coach

Share the love...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter