witnessday

Melatih Kesadaran dalam Setiap Kebaikan

Istilah mindfulness sering disebutkan di berbagai media massa hingga pidato di berbagai tempat. Banyak orang yang sudah mengerti mengenai mindfulness dan berbagai turunannya; mindful living, mindful working, dan berbagai kegiatan yang dilakukan dengan mindful lainnya. Namun pertanyaan berikutnya adalah, “setelah menjadi mindful, lalu harus bagaimana lagi?”. Pada artikel sebelumnya, saya sempat membahas mengenai kindfulness, istilah yang diperkenalkan oleh Ajahn Brahm.

Mindfulness pada dasarnya adalah kesadaran tanpa penghakiman pada momen saat ini. Namun, ketika mindfulness digabungkan dengan kebaikan (kindness), maka keadaan akan berubah drastis. Dengan mengembangkan kindfulness, kita bukan hanya menemukan keheningan dalam meditasi, namun juga mengembangkan kebaikan, kebijaksanaan, kebahagiaan, dan juga kedamaian secara bersamaan.

 

“I think rather than using the word mindfulness, perhaps kindfulness is better—it reminds you to be forgiving and friendly as you practice.” – Ajahn Brahm

 

Coba bayangkan, mindfulness tanpa kindness mungkin akan menjadi sesuatu yang membosankan, dingin, dan juga individualistik. Sedangkan kindness tanpa mindfulness adalah sesuatu yang sulit untuk dibayangkan; bagaimana caranya menjadi baik tanpa kamu menyadarinya?

Nah, bagaimana cara mengembangkan kindfulness? Coba bayangkan ketika kita pulang dari lembur dan harus menghadapi anak yang sedang bermasalah di sekolah; rapor anak yang jelek ditambah dengan surat panggilan dari guru di sekolahnya. Pasti rasanya kesal sekali, kan? Udah capek habis kerja, masih harus menghadapi kelakuan anak yang menguji kesabaran kita. Di saat tersebut, kita bisa mengembangkan kindfulness dengan cara:

 

Langkah Pertama: Mulai dengan Mindfulness

Coba tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang membuat saya stress?”, dan “Apakah saya merasakan tekanan di sekitar bahu? Ataukah saya merasakan sakit pada kepala?”. Itu adalah pertanyaan yang dapat mengembangkan kesadaran akan perasaan dan sensasi yang terjadi pada fisik. Dengan melakukan tanya jawab tersebut dengan diri sendiri, kita jadi mengerti keadaan kita dan diri kita pada saat itu.

 

Langkah Kedua: Kembangkan Kebaikan

Berikutnya, cobalah kembangkan empati kepada Si Kecil. Apakah ada hal yang kurang? Apakah Si Kecil mengalami masalah di sekolah? Apakah ia memiliki keluhan yang selama ini belum disampaikan kepada kita?

Selanjutnya, bayangkan momen di mana kita ingin memberikan kebaikan, kehangatan, perhatian, dan juga penerimaan pada setiap tekanan yang kita hadapi tersebut; mulai dari rasa lelah pada tubuh kita sendiri, hingga apa yang anak kita butuhkan saat itu. Cobalah kembangkan cinta kasih dan kebaikan seperti saat kita menggendong bayi, atau ketika sedang melihat boneka beruang yang lucu. Kita akan memberikan perhatian dan cinta kasih meski kita sedang dalam keadaan lelah.

Perhatikan sensasi-sensasi tersebut dengan perasaan kita, dan cobalah cara ini sambil mempraktekkannya terus menerus.

 

Langkah Ketiga: Akhiri dengan Mindfulness

Sadari berbagai usaha dan hasil dari usaha yang sudah dilakukan. Ketika kita tetap mengajak si kecil ngobrol santai meski sudah lelah sehabis lembur, dengan sadar sambil mencurahkan cinta kasih dan juga perhatian; apa yang kita rasakan setelah mempraktekannya? Merasa lebih baik atau lebih buruk?

Dengan cara tersebut, kita akan menyadari, sikap seperti apa yang bisa membantu kita menjadi seseorang yang lebih baik? Dengan kata lain, kita akan belajar hal baru melalui hal tersebut.

Kindfulness bukan hanya bisa dipraktekkan ketika kita sedang menghadapi stress. Sama seperti mindfulness, kindfulness juga bisa diaplikasikan pada kegiatan sehari-hari; meditasi, yoga, jalan kaki, berlari, cuci piring, bekerja, meeting dan lain-lain. Kapanpun kita melakukannya, pastikan kita menyadari apa yang kita rasakan setelahnya.

Jika kita merasa hangat, nyaman, tenang, rileks dan bahagia dengan diri sendiri, itu adalah pertanda bahwa kita berhasil mempraktekkan kindfulness.

 

Namun, jika kita merasa nyaman karena kita bisa berhenti bermeditasi, itu adalah tanda bahwa kita berusaha terlalu keras dan lupa untuk menjadi baik kepada diri sendiri. Ketika kita merasa seperti ini, kita bisa mencoba untuk meletakan tangan di dada dan tersenyum saat bermeditasi. Ingatlah bahwa ini adalah waktu yang mindful untuk kita, bukan penyiksaan sehingga tidak perlu untuk menjadi tegang, dan kaku.

 

Jika masih merasa sulit untuk mengembangkan kindfulness saat bermeditasi, mungkin kita bisa mencoba untuk bermeditasi sambil memeluk boneka beruang sambil melembutkan nada dan juga tutur kata ketika berbicara kepada diri sendiri. Atau bisa juga bermeditasi dengan objek berbagai kesulitan yang selama ini kita hadapi. Dengan begitu, kita bisa mempraktekan kindfulness kepada diri sendiri juga.

Nah bagaimana dengan kamu? Apakah kamu punya pengalaman dalam mempraktekan kindfulness? Atau mungkin kamu sudah merencanakan untuk melatih kindfulness? Yuk share ceritamu di kolom komentar!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter