witnessday

Meditasi dalam Seks, Mungkinkah?

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja post mengenai posisi sex di social media saya dan saya tiba-tiba diunfollow oleh puluhan akun. Saya bertanya-tanya, apakah saya yang sering membicarakan hal-hal yang berbau spiritual tidak diharapkan untuk berbicara tentang hal yang berbau seks? Dan dari situ saya tersadar bahwa masih ada banyak orang yang memisahkan antara seks dan spiritualitas.

Masih banyak orang yang menganggap bahwa seks adalah sesuatu yang tabu, sesuatu yang ‘jorok’, menjijikkan, jauh dari ketuhanan. Berbeda dengan saat-saat kita membicarakan tentang spiritualitas dan juga meditasi yang terasa begitu suci dan ‘tinggi’.

Padahal, kita tercipta dengan anggota tubuh dan indera yang memungkinkan kita merasakan sensasi. Padahal, meditasi pun seringkali menggunakan anggota tubuh dan indera untuk berlatih fokus dan kesadaran. Lalu kenapa seks menjadi hal yang tabu? Bukankah seks juga menggunakan anggota tubuh dan juga fokus pada sensasi?

Atau mungkin kita bisa coba memikirkan sudut pandang ini: Jika kita bisa menggabungkan meditasi dan makan, kenapa kita tidak boleh menggabungkan meditasi dengan seks? Kita sama-sama berbicara tentang kenikmatan, kita juga membahas perihal memenuhi kebutuhan. Apa yang salah dari itu?

Ketika meditasi saat makan, kita akan fokus pada seluruh indera yang digunakan saat makan. Mulai dari hidung yang menghirup aroma makanannya, mata yang meilhat penyajiannya, lalu bagaimana kita menggerakkan alat makan dengan kedua tangan kita untuk menyajikan makanan tersebut hingga masuk ke dalam mulut. Tidak berhenti sampai di sana, kita bukan hanya mengunyah dan menelannya, tetapi juga mengecap setiap rasa pada makanan tersebut. Begitupula dengan rasa kenyang yang dirasakan setelah sendok demi sendok makanan yang masuk melalui mulut kita. Dengan meditasi saat makan tersebut, kita bukan hanya menjadi kenyang namun juga sangat puas karena menikmati proses makannya juga.

Bagaimana dengan seks?

Selama ini kita selalu memandang seks sebagai pelampiasan, pemuasan nafsu saja. Kita jarang sekali memandang seks dengan lebih mindful. Seks seringkali dianggap sebagai suatu hal yang rendahan dan kotor, jauh dari ketuhanan.

Padahal seks sama saja seperti makan; sama-sama memenuhi kebutuhan dan sebaiknya tidak dilakukan sembarangan ataupun asal-asalan agar setiap kali kegiatan seks yang dilakukan bisa membawa manfaat yang luar biasa dalam kehidupan kita. Salah satunya adalah membuat hubungan kita semakin intim sebagai pasangan.

Harus mulai dari mana?

Jika selama ini kita terburu-buru untuk melakukan seks, kita selalu buru-buru untuk bisa menikmati klimaksnya. Namun, saat meditasi seks ini, cobalah untuk membuatnya sedikit lebih lambat. Sadari setiap sentuhan yang kita berikan dan kita terima. Tidak perlu buru-buru untuk mencapai klimaks, yang terpenting adalah menikmati setiap perjalanannya.

Perhatikan setiap tarikan dan hembusan nafas kita setiap kali pasangan menyentuh tubuh kita. Rasakan juga detak jantung kita yang naik ataupun turun mengikuti gerakan pasangan. Nikmati prosesnya bersama pasangan dan rasakan perbedaannya!

Pada intinya, meditasi ditujukan untuk melatih kesadaran kita. Semakin kita berkesadaran baik di segala aktivitas, maka kondisi tersebut juga baik untuk spiritualitas kita, meditasi baik saat kita sedang mandi, makan, bermain, belajar, membaca maupun sedang melakukan aktivitas seksual juga memiliki manfaat yang baik bagi perkembangan diri.

Namun jika kita terus memberikan penghakiman kepada kegiatan yang kita lakukan; misalnya kita menganggap kegiatan mencari uang, aktivitas seks sebagai kegiatan yang buruk, dan melakukan penghakiman-penghakiman lainnya pada aktivitas dan kebutuhan kita, maka kita jadi sulit untuk berkembang secara spiritual di berbagai aspek kehidupan kita.

Yuk sadari bagaimana pandanganmu dan penghakimanmu terhadap hubungan seks, dan ceritakan pengalamanmu di sini!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter