Maukah kamu berubah untuk orang yang kamu cintai?

Posted on Posted in witnessday

witnessday

 

Katanya, kalau seseorang benar-benar mencintai kita, dia harus menerima kita apa adanya. Semua kelebihan dan kekurangan kita. Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan kita. Ya, memang ada benarnya sih. Tapi bagaimana kalau, disadari atau tanpa disadari, orang yang kita cintai mengajak kita untuk berubah menjadi lebih baik? Tidakkah kita mau menjadi versi yang lebih baik dari diri kita? Tidakkah secara naturalnya kita ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai? Tidakkah kamu mau menjadi yang terbaik untuk dia?

 

Misalnya, kalau kamu pemalas, keras kepala, dan tidak bisa diberitahu, apa kamu mau terus-menerus punya sifat itu selamanya? (Ini sebenarnya saya lagi ngomongin diri sendiri haha…) Tidakkah kamu mau berubah untuk kebaikan dirimu sendiri? Apalagi kalau dengan begitu kamu bisa membuat orang kamu sayang menjadi senang dan bangga atas dirimu.

 

Terkadang dukungan dari orang yang kita sayangi bisa menjadi motivasi yang bahkan jauh lebih besar untuk kita take action.

 

Terutama kalau orang yang kamu cintai sudah memberikan yang terbaik yang bisa dia berikan untukmu, masa kamu nggak tergerak untuk memberikan yang terbaik juga? Kalau dia rajin, baik hati, sopan, dan begitu banyak kualitas pasangan ideal ada pada sosoknya, apa kamu tidak mau menyeimbangkan diri dengan berusaha menjadi seorang sosok yang ideal, setidaknya ideal menurut pandanganmu?

 

berubah

 

Lagipula, katanya… cinta sejati bisa membuat kita bertumbuh menjadi orang yang lebih baik. Jadi, kalau pasangan kita malah membuat kita makin tenggelam dalam kebiasaan buruk kita, mungkin kita bisa bertanya pada diri sendiri: apa saya sudah bersama orang yang tepat? Apa hubungan ini berdampak baik untuk saya? Atau malah membuat saya menjadi orang yang tidak saya senangi?

 

Untuk apa kamu bersama dengan orang yang tidak bisa memberikan dampak positif dalam hidupmu? Untuk apa kamu mau bersama dengan orang yang membiarkan kamu tetap betah dengan kebiasaan-kebiasaan burukmu? Kalau dia cukup peduli dan menasehatimu atau meneladankan agar kamu mengubah hal-hal yang kurang baik dalam dirimu, kenapa tidak kamu coba untuk mengubahnya?

 

Kalau kamu benar-benar mencintainya dan dia juga benar-benar tulus mencintai kamu, kalian berdua akan saling membantu dan mendukung satu sama lain untuk menjadi lebih baik. Bukankah cinta yang tulus bisa membantu kamu untuk lebih mencintai dirimu sendiri?

 

Kalau kamu bisa mencintai dirimu sendiri, sebenarnya banyak sekali manfaat yang bisa kamu dapatkan. Kamu bisa menjadi lebih percaya diri, kamu dapat menjadi versi terbaik dari dirimu, kamu dapat menjadi pasangan ideal bagi orang yang kamu cintai.

 

Lalu, apakah kamu masih mau keras kepala dan bersikeras memaksa pasanganmu untuk menerimamu “apa adanya”? Apakah kamu masih tidak mau berubah kalau itu bisa membuatmu menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi? Apakah kamu tidak mau memberikan yang terbaik dari dirimu, menjadi sosok yang pantas didapatkan oleh pribadi yang juga spesial? Dan tentu pada akhirnya, semua perubahan ini dilakukan bukan hanya untuk membahagiakan pasangan dan orang-orang tersayangmu, tapi juga demi dirimu sendiri.

 

Ya, seorang pasangan yang tulus mencintaimu tentu akan menerimamu apa adanya. Tapi seorang pasangan yang tulus mencintaimu juga akan secara natural mengajak kamu bertumbuh menjadi sosok terbaik dari dirimu.

 

Besar kemungkinan dia memang akan tetap menerima walaupun kamu malas dan keras kepala. Tapi secara natural ketulusan cinta yang kamu terima akan membuat kamu semakin mencintai dirimu sendiri. Sehingga secara natural juga, tidak ada alasan lagi bagi dirimu selain tumbuh menjadi semakin sempurna.

 

Semoga setiap kita semakin tulus dalam mencintai, semoga kita semakin bisa menginspirasi orang yang kita cintai untuk menjadi sosok yang semakin baik, dan yang terpenting… semoga kita bisa menjadi versi terbaik diri sendiri sehingga pasangan kita pada akhirnya adalah refleksi indah dari apa yang sudah kita miliki di dalam sini.

 

Pernah merasa selalu dapat komplain dari pasangan, orangtua, atau sahabat yang “menuntut” kamu untuk berubah? Pernah dengan sengaja berupaya untuk berubah menjadi orang yang lebih baik karena dukungan cinta dari orang yang kamu sayang? Silakan bagikan pengalamanmu di kolom komentar di sini.

 

Terima kasih telah membaca dan kalau kamu merasa artikel ini berguna, bantu saya dan bagikan artikel ini ke teman-temanmu. Semoga setiap kita semakin tulus dalam mencintai, semoga kita semakin bisa menginspirasi orang yang kita cintai untuk menjadi sosok yang semakin baik, dan yang terpenting… semoga kita bisa menjadi versi terbaik diri sendiri sehingga pasangan kita pada akhirnya adalah refleksi indah dari apa yang sudah kita miliki di dalam sini. Sampai jumpa!

 

Love and light,

sign

 

 

 

 

ameliadevina1Amelia adalah serang Quantum Healing Practitioner & Intuitive Coach. Misinya adalah membantu orang lain untuk menemukan siapa diri mereka sebenarnya, mengapa mereka ada di sini, dan bagaimana untuk menjadi diri mereka yang sejati. Ia melakukannya dengan berbagai cara, mulai dari quantum healing, card reading, chakra wisdom healing, meditasi, dan menyalurkan pesan dari Semesta lewat life coaching. Saat ini Amelia terus melakukan one-on-one terapi dan coaching, juga berbagai kelas offline dan online, workshop dan retreat. Ia secara rutin tetap berbagi ilmu gratis lewat langganan newsletter yang bisa diakses di ameliadevina.com. Amelia bisa dihubungi lewat email hello@ameliadevina.com, halaman facebook Amelia Devina, dan instagram/ twitter @ameliadevina777.

Share the love...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter
  • arianto sutomo

    Hi mbak Amelia,
    Saya seorang introvert (walau masih galau dengan pembagian streotype spt ini), sedang pasangan saya seorang introvert yang bisa berubah menjadi extrovert.
    Pasangan ingin saya lebih terbuka (banyak berbicara / memberikan pendapat,dll) dan menjadi pribadi yang lebih baik.
    Tetapi yang kadang menjadi tantangan adalah, perubahan itu diberikan target waktu dan tetap menjaga semangat untuk selalu lebih baik.

    • Halo Pak Arianto, thank you komentarnya. Sifat dan kepribadian seseorang sebenarnya lebih dari sekedar introvert dan ekstovert. Dan walaupun beda bukan berarti ga bisa nyambung dan ga bisa saling sayang kan? Kalau pasangan sudah langsung kasih tau apa yang dia butuhkan, menurut saya malah itu good sign. Lalu tindak lanjutnya gmn, Pak? Sudah sama-sama bisa lebih beradaptasi?