witnessday

Ketimpangan di Sekitar Kita: Apa yang Bisa Diperbuat?

Pada Hari Buruh ini, banyak di antara kita yang menikmati asiknya berlibur. Namun ada juga yang memilih untuk turun ke jalan dan menyuarakan pendapatnya. Tidak ada yang salah ataupun benar di sini. Keduanya sah dan boleh saja dilakukan.
Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa kenyamanan yang kita rasakan saat ini tidak pernah lepas dari perjuangan orang lain di masa lalu. Kenyamanan kita saat ini, adalah hasil dari kerja keras orangtua kita. Kemampuan kita saat ini adalah hasil dari penemu di jaman dulu yang selalu melakukan terobosan di masa lalu.
Kemerdekaan kita saat ini adalah hasil kerja keras pejuang negara di masa lalu, begitupula pekerjaan kita saat ini. Upah yang layak, kondisi kerja yang baik dan juga jam kerja yang manusiawi adalah hasil dari kerja keras para pekerja yang menuntut hak-haknya di masa lalu. Namun sayangnya, tidak semua pekerja mendapatkan apa yang selama ini kita dapatkan.
Artikel hari ini tentu bukan untuk menghakimi teman-teman yang tidak turun ke jalan, ataupun teman-teman yang tidak mengetahui perjuangan pekerja di masa lalu dalam menuntut haknya, karena pada awalnya saya pun tidak mengetahuinya.
Artikel hari ini ingin mengajak teman-teman untuk sadar akan privilege yang dirasakan saat ini dan mensyukuri apa yang telah kita nikmati saat ini dengan cara yang berbeda.

Selama ini, berbagai pihak yang berkecimpung di komunitas spiritual seringkali terlihat pasif. Kurang peka terhadap isu di sekitar; menyerahkan semuanya begitu saja dan berdoa. Namun apakah itu semua cukup?
1. Diam Tidak Selamanya Emas
Seringkali kita mendengar istilah “unattach”, kondisi di mana kita melepaskan ikatan dan menjadi tidak terganggu dengan keadaan di sekitar kita. Pada kadar tertentu, unattachment ini menjadi baik karena kita tidak melulu mengaitkan kebahagiaan kita pada keadaan di sekitar kita. Namun, pada titik tertentu, unattachment ini malah bisa membuat kita menjadi kurang simpati dengan persoalan di sekitar kita.
Misalnya saja, kita boleh menerapkan unattachment ini ketika kita sedang dalam hubungan yang toxic sehingga kita tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada hubungan tersebut. Namun, unattachment tentu menjadi tidak wajar ketika kita diam, membiarkan begitu saja diri dan tubuh kita disakiti dalam hubungan toxic tersebut karena kita sudah unattach dengan keadaan tersebut.
Begitupula dengan ketidakadilan yang ada di sekitar kita. Kita bisa tetap berbahagia dengan kehidupan kita, di kala kita tetap menyadari ada banyak ketidakadilan terjadi pada kehidupan orang lain dan kita tetap peduli dengan menolong orang lain yang mengalami ketidakadilan tersebut.
2. Berdoa Saja Tidak Cukup
Seorang yang sakit tetap harus dibawa ke dokter jika tak kunjung sembuh. Gak mungkin kita hanya tetap membiarkannya di atas ranjang sambil mendoakannya agar cepat sembuh, bukan?
Berdoa adalah hal yang baik, namun sayang sekali, berdoa saja tidak dapat mengubah realita yang ada.
3. Menjaga Jarak Bukan Solusinya


Sebagai seorang konselor, saya tahu persis bahwa menghindar atau menjaga jarak dengan masalah tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan. Setiap klien saya yang memiliki masalah, pasti akan saya bimbing secara perlahan untuk bertemu dengan masalahnya. Berhadapan langsung, dan mencoba untuk mengenal masalah tersebut. Setelahnya, mereka akan saya pandu agar bisa perlahan-lahan berdamai dengan masalahnya sehingga mereka bisa menjalani kehidupan lebih ringan.
Sama seperti kita yang seringkali merasa terganggu dengan demo yang ada di sekitar kita. Saya tidak meminta kamu untuk turun dari mobil dan mendekati mereka. Namun, coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah bijak jika kita terus berkomentar tanpa mengerti duduk permasalahannya?
4. Spiritualisme Tidak Bisa Dipaksakan
Sebagai salah satu praktisi spiritual, saya tentu tidak bisa memaksakan teman-teman, keluarga maupun klien saya untuk menerapkan praktik, ide, pandangan spiritual saya. Ketika saya percaya bahwa apa yang terjadi di dunia ini adalah karma dari perbuatan sebelumnya, tentu saya tidak akan mungkin memaksa orang lain mempercayai hal yang sama.
Karena ketika saya memaksakan hal tersebut, itu berarti saya tidak menghormati perjalanan spiritual mereka. Saya menyepelekan kesulitan yang sedang mereka rasakan, dan merasa bahwa pengalaman spiritual saya merupakan perjalanan yang paling benar dan paling baik untuk semua orang. Padahal, perjalanan spiritual adalah perjalanan yang sifatnya unik dan berbeda setiap orangnya.
5. Jadilah Pendengar yang Berempati
“Ketika kita selalu fokus pada kesulitan yang kita alami, hal tersebut akan menarik berbagai kesulitan lain dalam hidup kita.”, hal itu tidak salah sih. Tapi bisakah kita bayangkan bagaimana jika kita mengucapkan hal tersebut kepada orang yang tidak memiliki privilege seperti kita selama hidupnya?
Lahir di keluarga tidak mampu, tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar seperti kita, tidak punya karir yang bagus, bahkan cenderung didiskriminasi dan tidak dipenuhi haknya selama bekerja. Apakah kita bisa mengatakan hal tersebut ketika mereka sedang mengeluh? Tentu tidak, bukan?
Jadilah pendengar berempati, dan cobalah untuk menawarkan solusi yang lebih dimengerti dan bisa dilakukan oleh mereka.

Menunjukan kepedulian tidak melulu dan juga tidak harus dilakukan dengan cara ikut berdemo dan turun ke jalan. Bisa juga mulai dengan diri sendiri dengan mengetahui asal usul produk yang kita konsumsi, menghindari penggunaan produk dari perusahaan yang tidak memberikan hak pekerjanya dengan layak, hingga memperjuangkan hak-hak karyawan yang berada di bawah tanggung jawab kita.
Selamat Hari Buruh 2019. Semoga semua pekerja bukan hanya dapat menjalankan kewajibannya dengan baik, namun juga dipenuhi setiap hak-haknya.

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter