witnessday

Kelola Ekspektasi dengan Latihan Mindfulness

 

Setiap hari, setiap saat, kita akan berhadapan dengan ekspektasi; baik itu ekspektasi orang lain terhadap kita, ataupun sebaliknya. Ekspektasi ini bukan hanya muncul di tempat kerja, bahkan ada di rumah, dan juga di tempat umum lainnya. Tidak usah membayangkan ekspektasi yang berat-berat, ekspektasi simple seperti, “aku berharap dia bisa lebih peka” atau seperti “harusnya dia lebih inisiatif.” ini, juga termasuk dalam ekspektasi yang akan saya bahas kali ini.

Nah, sekarang sudah bisa membayangkan ‘kan, apa saja hal yang bisa terjadi ketika seseorang tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain terhadapnya? Ada yang merasa kecewa, ada yang marah, ada yang sedih, dan berbaagi perasaan tak mengenakkan lainnya. Dan hal terburuk yang mungkin bisa kita sesali adalah ketika kita kehilangan kendali diri.

Latihan mindfulness ditujukan untuk mengembangkan perhatian. Jika diibaratkan, mindfulness adalah sebuah cermin; di mana kita bisa melihat diri kita secara jelas tanpa mengubah bentuk cermin itu sendiri. Dan ketika kita menjalankan latihan mindfulness, maka cermin kita akan menjadi semakin besar sehingga area yang terlihat pun semakin luas.

Ketika kita melatih mindfulness secara rutin, kita akan menjadi lebih waspada, lebih objektif dalam memandang segala hal dan tentunya menjadi lebih less-judgemental. Maka dari itu, latihan mindfulness akan dapat membantu kita untuk mengelola ekspektasi. Bagaimana caranya?

Pilah Eskpektasi; Mana yang Masuk di Akal dan yang Tidak

Kalau dipikir-pikir lagi, ekspektasi adalah bagian dari hidup yang tidak bisa kita hilangkan. Tanpa ekspektasi, tidak akan ada perubahan. Namun yang lebih parahnya lagi adalah, kita sendiri pun tidak akan berkembang. Maka dari itu, saya tidak menyarankan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan ekspektasi.

Pertama-tama, kita dapat mulai terlebih dahulu dengan mengamati ekspektasi kita dan memilah; mana ekspektasi yang masuk dalam kategori sehat, dan mana yang tidak. Ketika kita mengharapkan anak kita menuruti keinginan kita, tentu itu adalah hal yang wajar. Namun akan menjadi tidak wajar jika kita mengharapkan anak kita untuk selalu menuruti keinginan kita.

Coba kelola ekspektasi dengan bukan hanya sekedar fokus pada apa yang kita inginkan, namun memperhatikan proses mencapai tujuan jangka panjang satu per satu sehingga ekspektasi mungkin untuk tercapai.

Menempatkan Ekspektasi dengan Bijaksana

Seringkali kita menempatkan ekspektasi berlebihan kepada orang lain; Misalnya kita berekspektasi kesempuranaan pada orang tua kita dan juga atasan kita. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang bijak. Kesempuranaan bisa kita tempatkan pada Tuhan, Sang Pencipta ataupun Alam Semesta. Sementara kepada manusia, sangatlah berlebihan jika kita berekspektasi kesempurnaan pada dirinya.

Maka dari itu, perlu bagi kita untuk  menempatkan ekspektasi dengan bijak. Namun tidak berhenti sampai di sana; Kita juga sebaiknya mengkomunikasikan dengan baik mengapa kita menempatkan ekspektasi tersebut kepadanya dan bagaimana keterkaitan antara ekspektasi tersebut dengan dirinya sendiri; Apakah dapat mengembangkan dirinya, atau ada manfaat lainnya.

Kelola Ekspektasi yang Belum Tercapai

Setiap hal di dunia ini berubah. Tak jarang satu dua hal berubah secara tiba-tiba di luar rencana sehingga menyebabkan ekspektasi tidak tecapai. Rasa marah dan kecewa seringkali muncul, namun ketika kita berlatih mindfulness, maka kita akan memilih secara sadar bagaimana kita akan bereaksi terhadap ekspektasi yang belum tercapai tersebut. Tidak semata-mata langsung membiarkan amarah dan kekecewaan mengambil alih dan merusak segalanya.

Ini menjadi salah satu cara untuk menjaga ketenangan diri sehingga bisa mencari solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi.

“Mindfulness enables choice, the opportunity to act instead of react”

 Jika diperhatikan, ketiga cara di atas adalah bagaimana caranya mengelola ekspektasi yang ada pada diri sendiri. Mengapa? Karena kita tidak memiliki cara untuk mengatur ekspektasi orang lain terhadap kita. Jika kamu mulai mengkhawatirkan bagaimana ekspektasi orang lain terhadap dirimu, mungkin ini waktunya bagi kamu untuk mencari tahu mengapa kamu berekspektasi untuk memenuhi ekspektasi orang lain terhadap dirimu?

Selamat mencoba.

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter