witnessday

Kata Siapa Perempuan itu Lembut?

 

Tepat 4 hari yang lalu, kita merayakan Hari Kartini. Ketika waktu sekolah dulu, banyak kegiatan khusus perempuan yang dilakukan ketika Hari Kartini. Mulai dari menggunakan baju adat, lomba masak, membaca puisi atau kegiatan lomba lainnya yang diperuntukkan kepada perempuan. Namun sekarang, diskon bertebaran di mana-mana; mulai dari skincare hingga perabotan di rumah. Namun, apakah Hari Kartini cukup dirayakan dengan cara seperti itu?

Hari Kartini melambangkan berbagai perjuangan yang dilakukan kaum perempuan untuk mendapatkan haknya. Sejarah menceritakan bagaimana R.A Kartini berhasil menuntut hak perempuan sehingga muncullah istilah emansipasi perempuan; di mana perempuan menjadi setara secara status ekonomi dan juga sosial. Bukan hanya itu, emansipasi juga memungkinkan para perempuan untuk mendapatkan kedudukan, kesempatan yang sama dengan laki-laki. Namun bagaimana kenyataannya?

Masih banyak perempuan yang menderita berbagai ketidakadilan, mulai dari kekerasan baik saat pacaran maupun dalam rumah tangga. Belum lagi sistem patriarki yang masih mengakar cukup kuat sehingga ada banyak kesempatan di mana perempuan yang tidak sepenuhnya diperlakukan setara dengan laki-laki; ada yang tidak boleh sekolah terlalu tinggi, ada yang mendapatkan upah kerja yang tidak sesuai, dan berbagai ketidakadilan lainnya.

Hal itu memang sangat disayangkan. Namun, yang menarik perhatian saya adalah bagaimana para perempuan saling memperlakukan perempuan lainnya. Di tengah-tengah maraknya kekerasan, ketidakadilan kepada perempuan, nyatanya masih ada saja perempuan-perempuan yang memperlakukan perempuan lainnya dengan tidak baik.

Bullying dan juga body shaming merupakan beberapa hal sederhana yang sering kita temukan, terutama di dunia maya. Jika diperhatikan banyak sekali perempuan yang melontarkan kata-kata kasar, menghina perempuan lain hanya karena mereka memiliki bentuk tubuh atau bahkan preferensi kecantikan yang berbeda. Padahal, cantik itu relatif dan tiap orang memandang kecantikan dengan cara yang berbeda. Di mata orang yang berbeda, budaya yang berbeda, latar belakang yang berbeda – definisi kecantikan pun menjadi berbeda. Kalau melihat ini, rasa-rasanya perempuan tidak se-lembut dan juga se-baik itu, deh..

Tidak berhenti sampai di sana, pilihan berkarir atau berumahtangga pun menjadi salah satu ladang bullying lainnya. ASI vs sufor, lahiran cesar atau vaginal, hijab ataupun tidak.. Semuanya dikomentari dan tak jarang komentarnya menyakitkan. Padahal, apa salahnya untuk menghargai keputusan orang lain meskipun kita memiliki pertimbangan yang berbeda? Tentu tidak perlu menjelek-jelekkan orang lain demi membuat diri sendiri menjadi lebih baik, bukan?

Nah sekarang, apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikannya?

1. Menjadi Lebih Peka

Katanya perempuan adalah makhluk Tuhan yang peka dan sensitif. Namun apa yang kita lihat saat ini sepertinya tidak begitu. Perempuan menjadi kurang sensistif dan peka terhadap keadaan sekitarnya. Perempuan seringkali menjadi egois, ingin merasa lebih baik dari perempuan lain.

Namun, coba tanyakan kembali ke dalam lubuk hati kita sebagai seorang perempuan, apakah benar kita bisa merasa nyaman dengan diri kita yang penuh kebencian seperti itu? Apakah naluri keibuan kita yang begitu penuh cinta dan kasih sama sekali tidak terusik ketika kita menyakiti perempuan lain?

2. Berani Memulai

Sense of achievement mungkin jarang didapatkan oleh perempuan. Berbagai tuntutan lingkungan yang seringkali tidak sesuai dengan keinginan perempuan sebagai individu memberatkan langkah perempuan untuk mengambil tindakan dan memulai sesuatu yang ia sukai dengan segera. Rasanya keragu-raguan selama ini selalu saja mengikuti.

Coba deh dengarkan hatimu dan ikuti passionmu; jika ingin wirausaha, tidak ada salahnya kan coba jualan online terlebih dahulu? Jika ingin menjadi ibu karier, tidak ada salahnya juga untuk mencoba freelance di sela-sela kesibukan.

Mulai dengan apa yang kamu miliki saat ini, dan raih sense of achievement yang selama ini tertunda! Setiap perempuan berhak untuk meraih apa yang diinginkannya.

3. Berkomitmen untuk Mindful dan Aware

Menjadi mindful dan aware dengan diri sendiri dan keadaan di sekitar adalah kunci penting untuk dapat menjalani kehidupan yang selaras dan harmonis. Bayangkan jika kita melakukan sesuatu dengan sadar, bukan karena otomatis begitu disuruh suami, orangtua, ataupun atasan. Dengan begitu kita akan memiliki power atas kehidupan kita sendiri.

Kita akan menjadi benar-benar bertanggung jawab atas hidup kita dan mulai berhenti untuk berada di belakang seseorang.

4. Mempunyai Rasa Empati

Di beberapa kesempatan, pasti kamu sadar ada perempuan yang mungkin nasibnya tidak lebih baik dari dirimu. Mungkin juga perempuan itu terlihat dan berlaku begitu menyebalkan. Milikilah rasa empati. Tidak semua perempuan bisa mendapatkan pengetahuan dan juga memiliki tingkat kebijaksanaan yang sama dengan dirimu.

Daripada menjadi bully atau saling melontarkan kebencian, lebih baik berempati dan simpan energimu untuk berkarya, atau menawarkan solusi bagi perempuan yang kurang beruntung seperti perempuan tersebut.

5. Miliki Keberanian

Dengan banyaknya bullying antar perempuan, tidak ada salahnya kok jika kita berani menegur dan menjelaskan pentingnya para perempuan untuk saling memberikan support dan kritik membangun. Namun, selain keberanian untuk menegur, kita sebagai perempuan juga sebaiknya memiliki keberanian dalam berbagai hal; keberanian untuk mengakui kesalahan, keberanian untuk memulai dan belajar hal baru, serta berbagai keberanian-keberanian lainnya.

6. Kolaborasi

Ketika kita memiliki self-worth dan kepercayaan diri yang baik, rasanya kita tidak akan perlu untuk menjelekkan orang lain untuk bisa merasa cukup baik. Dan kita juga tidak perlu menanggapi komentar miring dari orang lain secara berelebihan. Ketika semua yang membaca artikel ini paham, maka kita bisa memulai menyebarkan prinsip ini kepada perempuan lainnya.

Apalagi jika bisa dijadikan sebuah kolaborasi yang bermanfaat! Tentu kolaborasi tersebut bisa menjadi siklus yang baik bagi perempuan untuk tumbuh dan terus mengembangkan dirinya.

Kata siapa ketika perempuan ngumpul kerjaannya cuma gossip? 😉

Itulah keenam cara yang bisa saya tawarkan untuk merayakan momen Kartini dengan penuh makna. Apakah kamu memiliki cara atau sudut pandang lain mengenai hal ini? Yuk bagikan di kolom komentar!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter