witnessday

Ingin Lebih Berbahagia? Yuk Re-Parenting Inner Child-mu!

 

Sebagai seorang konselor, saya selalu menghadapi curhat dari seluruh klien saya. Meskipun masalahnya terlihat itu-itu lagi; masalah dengan pasangan, gak cocok dengan mertua, berantem dengan teman kerja dan sebagainya, ternyata akar dari permasalahan tersebut sangatlah unik dan harus diselesaikan dengan caranya masing-masing. Namun secara garis besar, berbagai permasalahan terjadi karena inner child kita terluka, dengan luka yang berbeda-beda.

Apa itu inner child? Inner child adalah sosok anak-anak yang masih melekat dalam diri kita selama kita hidup. Kenapa anak-anak? Apakah ada hubungannya dengan masa kecil kita?

Ada. Sewaktu kita kecil, itu adalah waktu di mana kita pertama kali berhubungan dengan orang selain diri kita. Kita bersenntuhan dan juga berkomunikasi langsung dengan lingkungan sekitar kita. Masa itu adalah masa di mana kita benar-benar mengenal dan mulai mempelajari sesuatu.

Namun di masa-masa itu juga, seringkali kita mengalami kejadian yang kurang menyenangkan yang mungkin kita sendiri tidak bisa mengingatnya sekarang. Mungkin ada masa di mana orangtua kita melakukan kekerasan kepada kita. Mungkin juga ada masa di mana saudara kita bertengkar di depan kita.

Hal-hal tersebut adalah hal-hal yang diluar kendali kita yang memberikan pengaruh sangat besar pada diri kita. Dan tak jarang kejadian tersebut adalah kejadian yang menimbulkan luka dan trauma. Bukan hanya itu, hal-hal tersebut juga bisa membentuk kita; seperti apakah core belief kita, seperti apakah kita akan tumbuh.

Bayangkan luka, kesedihan, rasa takut, bahkan trauma yang ada pada masa kecil kita, masuk ke dalam memori kita dan tidak terselesaikan hingga saat ini. Tentu tidak heran jika kita bisa bertemu dengan teman-teman yang kurang pede, yang hubungannya abusif.. Karena ada luka pada inner child yang belum sembuh.

Maka dari itu, ada baiknya jika kita mulai untuk melakukan re-parenting kepada inner child kita. Seperti istilahnya, re-parenting adalah metode di mana kita yang saat ini menjadi orang tua bagi inner child kita yang terluka. Dengan begitu perlahan-lahan luka yang dimiliki inner child kita bisa sembuh dan kita bisa hidup berdampingan dengan inner child yang berbahagia.

Namun, bagaimana caranya?

Langkah #1: Coba ‘Pisahkan’ Antara Sisi Dewasa dan Sisi Anak-anakmu

Ketika kita merasakan emosi yang begitu kuat, dan mungkin kita tidak mengenali dari mana asal sebenarnya, bisa jadi itu adalah suara dari inner child kita. Ketika kamu merasakan amarah yang begitu sulit dikendalikan, coba amati sejenak dan perlahan-lahan ‘pisahkan’ teriakan amarah tersebut dari dirimu. Teriakan tersebut adalah inner child-mu, sedangkan kamu saat ini adalah kamu yang sudah dewasa. Dengan dapat membedakan hal tersebut, kamu bisa melakukan metode re-parenting ini.

Langkah #2: Terima Perasaan Inner Child-mu

Saat kamu menjadi aware dengan suara inner child-mu, mungkin kamu akan merasa lelah karena banyak hal yang akan semakin terbuka, akan bertambah banyak hal yang disampaikan. Yang berarti pekerjaanmu akan semakin bertambah. Namun ingatlah, apapun yang inner child kamu rasakan, itu adalah hal yang valid. Ia merasakannya, itu adalah rekaman masa lalu yang berbekas pada mereka dan mereka sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mengatasi perasaan itu.

Semakin kamu tolak perasaan itu, semakin kamu bungkam inner child-mu, maka ia akan berteriak semakin kencang dan itu akan semakin memperngaruhi dirimu. Maka dari itulah sebagai ‘orangtua’ baru mereka, kamu sebaiknya menemani dan membimbingnya agar inner child-mu menjadi seorang yang lebih baik lagi.

Langkah #3: Berkomunikasilah dengan Inner Child-mu

Pernah lihat anak kecil yang sedang tantrum? Misalnya ketika ia sedang merengek ngambek minta mainan. Coba pikirkan, apa yang idealnya kita perlu lakukan ketika menghadapi anak kecil tersebut? Memberikan pengertian? Atau langsung memberikan mainannya? Ataukah malah marah-marah dan mengancam akan memberikan hukuman? Tentu memberikan pengertian, bukan?

Sama seperti inner child-mu. Ketika ia sedang sangat sedih dan kesepian, apakah kamu akan membiarkannya terus merasakan hal seperti itu? Kamu bisa belajar dari anak-anak dan juga bisa gunakan berbagai afirmasi dan juga kalimat positif untuk bisa berkomunikasi, membujuk dan memberikan pengertian kepada inner child-mu.

Inner child adalah sosok yang begitu sensitif. Ia ada di dalam setiap diri kita dan tidak dapat ditolak keberadaannya. Mungkin selama ini kita tidak sadar akan keberadaannya. Salah satu hal yang sebaiknya tidak kita lewatkan adalah untuk meminta maaf karena selama ini tidak menyadari rasa sakit yang masih ia rasakan.

Coba untuk terus komunikasikan bahwa kamu akan menjadi seseorang yang dapat dipercaya sehingga ia akan merasa lebih tenang dan aman sehingga ia bisa berkembang menjadi seorang anak yang bebas berekspresi dan berbahagia. Ingatlah, hanya kamu yang dapat memberikan cinta, kasih dan juga perhatian yang dibutuhkannya. Selamat mencoba!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter