Inspirationwitnessday

Empat tahap pertumbuhan spiritual manusia

 

witnessday

Beberapa waktu lalu saya belajar dari Michael Beckwith – seseorang  yang kebijaksanaannya dan kontribusinya bagi dunia sungguh membuat saya tersentuh dan terinspirasi, seseorang yang telah menerima berbagai penghargaan internasional atas ajarannya di bidang spiritual dan kemanusiaan.

Di kelas ini Michael berbicara mengenai tujuan hidup. Tapi ternyata bukan sembarang tujuan hidup; ia bukan berbicara soal karir apa yang cocok untuk kita atau bagaimana caranya menemukan pekerjaan yang paling sesuai untuk hidup kita.

Michael berbicara tentang bagaimana pertumbuhan spiritual kita menentukan bagaimana kita memandang kehidupan, dan pada akhirnya, menentukan pilihan kita dalam bagaimana menjalankan tujuan hidup.

Sebagai contoh, ketika kita merasa bahwa kita adalah korban dari takdir karena dilahirkan di keluarga miskin,  tidak ada uang untuk kuliah, dan tidak ada dukungan keluarga, kita cenderung menyalahkan semua hal di luar diri kita ini sebagai alasan ‘mengapa kita tidak sukses’. Orang seperti ini berada di tingkatan pertama perkembangan spiritualnya.

Menurut Michael Beckwith, ada empat tahap pertumbuhan spiritual manusia. Dan saya telah merangkumnya dan mengadaptasinya untuk sama-sama kita renungkan di bawah ini.

 

michaelbeckwith-spiritual-growth

 

Tahap 1: Victim Consciousness

Kata kuncinya: “Life happens to me” – Hidup terjadi padaku

Inilah yang saya sebut sebagai ‘mental korban’. Orang yang berada di tahap ini selalu merasa bahwa hal-hal eksternal/ di luar dirinyalah yang mengendalikan nasibnya. Mereka cenderung menyalahkan pihak luar dan tidak melihat ke dalam, bahwa barangkali ada peran mereka juga sehingga sesuatu hal bisa terjadi. Orang seperti ini seringkali malah merasa bangga sebagai pihak yang disakiti, ia merasa ‘cerita sedih’ ini sebagai identifikasi jati dirinya. Hal yang membuat dia spesial dan punya hak untuk marah/ dendam/ melawan/ gagal/ susah move on. Namun biasanya, di saat orang tersebut sudah muak dan lelah untuk terus menerus merasa lelah dan marah pada hidup, ia kemudian membuka dirinya terhadap kemungkinan lain yang selama ini barangkali berada di luar jangkauan pemikirannya. Di saat itulah ia mulai bertumbuh.

 

Tahap 2: Manifestation Consciousness

Kata kuncinya: “I happen to life” – Saya yang membentuk kehidupan

Di tahap ini seseorang mulai mengambil tanggung jawab. Ia memahami bahwa apapun yang terjadi dalam hidupnya, ada peran dia di dalamnya. Oleh karenanya, ia mulai belajar untuk melepaskan pikiran negatif dan berusaha untuk terus merasa, berpikir, berucap, dan bertindak positif agar demikianlah yang terjadi atau termanifestasi dalam hidupnya. Mereka berusaha untuk hidup berdasarkan kekuatan pikiran, mereka sangat percaya pada apa yang disebut law of attraction. Bagi orang yang berada di tahap ini, slogan mereka adalah “see it in order to achieve it” – lihatlah, maka sesuatu itu akan terjadi padamu.

 

Tahap 3: Chanelling Consciousness

Kata kuncinya: “I am a vessel” – Saya adalah saluran/ wadah

Di tahap ini seseorang tidak lagi merasa harus menciptakan berbagai hal agar terjadi dalam hidupnya, ia merasa bahwa ia berada di sini untuk menyambut kedatangan apapun yang perlu hadir agar bisa termanifestasi melalui dirinya dan hidupnya. Karena, pada ruang dan waktu dengan potensi tanpa batas, segala sesuatu sejatinya sudah ada. Mereka hanya menunggu kondisi yang tepat untuk termanifestasi. Kalau di tahap kedua energinya sangat maskulin, di tahap ini energinya lebih feminin. Melihat yang tak terlihat, mendengar yang tak terdengar.

 

Tahap 4: Being Consciousness

Kata kuncinya: “I am One” – Saya menyatu

Pada tahap ini, seseorang merasa bahwa tidak ada lagi sekat pemisah antara dia dan dunia di sekelilingnya. Hidupnya sudah sempurna apa adanya. Ia merasakan kebersatuan dengan momen saat ini. Ia tidak lagi menyalahkan keadaan (seperti mereka yang berada di tahap 1), tidak lagi berusaha mengendalikan terjadinya sesuatu (seperti mereka yang berada di tahap 2), dan tidak lagi merasa bahwa dirinya terpisah dengan kekuatan alam semesta yang berada di sekitarnya (seperti mereka yang berada di tahap 3). Mereka bersatu dengan kehidupan. Apa yang kamu cari sudah ada di dalammu. Kamu adalah dia yang kamu cari. Kamu dan segala sesuatu adalah satu.

 

unsplash_528b27288f41f_1


Dalam hidup pada dasarnya kita melewati semua tahapan ini secara bergantian, tahap 1, 2, dan 3.
Walaupun seseorang berada di tahap 3, bukan tidak mungkin terkadang ia bisa juga berada di tahap 1 dan 2 ketika sesuatu hal besar terjadi dalam hidupnya, misalnya. Tahap 4 biasanya dialami oleh para makhluk suci dan para guru. Tapi, bukan berarti manusia biasa seperti kita tidak mungkin mencapainya. Seperti kata Sang Buddha, kita semua bisa menjadi Buddha. Di dalam diri kita semua ada hakikat sejati yang sifatnya sama seperti Buddha.

Untuk melihat bagaimana sehari-harinya kita bisa menjalani empat tahap ini sekaligus, mari kita ambil contoh Yesus. Ketika Yesus melakukan penyembuhan dan berbuat berbagai keajaiban, di sana ia sedang mencontohkan tahap spiritual ke-2. Ketika kemudian ia berkata kepada orang-orang yang mau menyalibkan dia: “Bukan saya yang melakukannya, melainkan Bapa lah yang melakukannya.”, dia sedang mencontohkan tahap ke-3. Dan ketika ia berkata bahwa “Aku dan Bapa adalah satu”, ia berada di tahap ke-4.

Begitu juga kita. Saat kita marah besar dan sulit memaafkan karena dikecewakan suami, kita berada di tahap 1. Tapi kemudian kita sadar bahwa dendam tidak menyelesaikan masalah, yang ada hanya membuat kita semakin sengsara. Kita kemudian bertekad untuk hidup lebih baik agar ke depannya suami tambah sayang pada kita dan keluarga kita semakin harmonis – ini tahap kedua. Semakin kita belajar, semakin kita bisa mempraktekkan cinta tanpa syarat dan perasaan ikhlas. Kita menerima semua fenomena yang terjadi pada kita – ini tahap ketiga. Dan kemudian, saat kita sadar bahwa sebenarnya kita, suami, dan semua isi Alam Semesta ini sebenarnya adalah satu, kita merasakan perasaan cinta yang murni dan sangat mendalam – kita berada di tahap keempat. Menarik, kan?

Di bawah ini ada satu puisi indah karya Jalaludin Rumi yang bisa secara luar biasa menjelaskan sekaligus keempat tahapan ini dan bagaimana tiap kita sesungguhnya berevolusi untuk kemudian menyatu dengan sang ketidakberhinggan.

 

“Ketika saya mengejar apa yang saya pikir saya inginkan,
Hari-hari saya terbakar oleh penderitaan dan kekhawatiran.
Tapi jika saya duduk dalam kesabaran,
apa yang saya butuhkan mengalir kepada saya, dan tanpa sedikitpun rasa sakit.
Dari sini saya mengerti bahwa apa yang saya inginkan juga menginginkan saya,
juga mencari saya dan menarik saya.
Ada rahasia besar dari hal ini
bagi siapa saja yang bisa memahaminya.”

 

Nah, ada di tahap pertumbuhan spiritual manakah kamu? Apa yang kamu rasakan? Apa hal baru yang bisa kamu pelajari dari tulisan kali ini? Coba bagikan ceritamu pada saya di sini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan share tulisan ini kepada semua temanmu. Berbagi itu indah. Biarkan semakin banyak orang terpanggil untuk melihat dirinya semakin mendalam, karena apapun yang kita cari sesungguhnya sudah tersedia. Karena dengan mengenal bahwa sesungguhnya tidak ada sekat di antara kita, kita bisa hidup lebih ikhlas dan damai.

Saya doakan agar tiap kita menemukan dan menerima apapun yang paling dibutuhkannya di saat ini. See you soon!

 

Love and light,

sign

 

 

 

 

ameliadevina1Amelia adalah seorang penulis dan Intuitive Coach. Misinya adalah membantu orang lain untuk menemukan siapa diri mereka sebenarnya, mengapa mereka ada di sini, dan bagaimana untuk menjadi diri mereka yang sejati. Ia melakukannya dengan berbagai cara, mulai dari quantum healing, card reading, chakra wisdom healing, meditasi, dan menyalurkan pesan dari Semesta lewat life coaching. Saat ini Amelia terus berbagi lewat berbagai kelas offline dan online, workshop dan retreat. Ia secara rutin menulis pada blog yang bisa diakses di ameliadevina.com. Amelia bisa dihubungi lewat email hello@ameliadevina.com, halaman facebook Amelia Devina, dan instagram/ twitter @ameliadevina777.

 

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter