witnessday

Berdamai dengan Toxic Parents dan Menjadi Diri Sendiri

Selama di rumah aja, ada beberapa teman dan juga klien yang berkeluh kesah mengenai hubungan mereka dengan orangtuanya yang semakin memburuk. Istilahnya, toxic parent. Ada yang pernah dengar istilah tersebut?

Sesuai dengan istilahnya, toxic parents mirip dengan toxic relationship, di mana kita terhubung dengan orangtua yang memberikan pengalaman buruk kepada kita; seperti sering memarahi, merendahkan, mengejek, atau bahkan melukai anaknya secara fisik. Namun apakah benar ada orangtua yang seperti itu?

Berdasarkan laporan Global Report 2017: Ending Violence in Childhood, sebanyak 73,7% anak di Indonesia (1-14 tahun) mengalami pendisipliinan melalui kekerasan atau agresi psikologis dan hukuman fisik di rumah. Dan sebagai korban, anak akan masuk ke dalam lingkaran kekerasan di mana ia akan melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri seperti merokok dan mabuk-mabukan, hingga melakukan percobaan bunuh diri.

 

Orangtua Juga Memiliki Masalahnya Sendiri

tua, oran

Sosok orangtua yang idealnya bisa menjadi sosok yang melindungi dan mengasihi anak-anaknya pun seringkali malah membuat kita kecewa dan terluka. Maka dari itu, kita perlu memahami bahwa orangtua juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dan masih bisa melakukan kesalahan. Jadi, sangatlah mungkin juga jika ada sosok orangtua yang jauh dari kondisi idealnya.

Sama seperti kita, orangtua juga memiliki masalah dan membawa luka masa lalunya hingga saat ini. Tidak heran jika mereka hadir tidak sempurna. Ironinya, seringkali apa yang kita anggap kurang baik dari mereka adalah usaha terbaik yang bisa mereka berikan kepada anak-anaknya.

Jalinan karma yang sangat kompleks ini seringkali memaksa kita untuk hidup bersama orangtua kita. Jadi, ada baiknya jika kita bisa membuka pikiran kita akan hal ini dan mencoba mencari jalan keluar yang bukan hanya baik untuk mereka, namun juga baik untuk diri kita sendiri.

 

Mulai Memberikan Batasan yang Sehat

Sebagai anak, kita berhak mendapatkan kasih sayang dan juga perlindungan dari orangtua kita. Tidak ada kesalahan yang boleh ataupun wajar jika dibalas dengan kekerasan ataupun penyiksaan baik dalam bentuk verbal dan non-verbal.

Ketika orangtua tidak memberikan perhatian, kasih sayang dan juga rasa aman kepada kita, maka kita berhak untuk menarik garis tegas agar mereka tidak melakukan sesuatu yang bisa menyakiti kita lebih jauh lagi.

Berbagai cara bisa dicoba seperti memberikan peringatan secara verbal dengan mengingatkan mereka ketika pembicaraan sudah melampaui batas, atau dengan cara pergi meninggalkan ruangan ketika kondisi sudah tidak lagi kondusif. Bahkan, kita bisa meminta tolong bantuan pihak ketiga seperti teman, saudara atau bahkan polisi jika hal yang dilakukan sudah melewati batas wajar.

 

Lakukan Penyembuhan

Luka yang ditinggalkan oleh orangtua akan memberikan bekas yang berbeda dan sangatlah berpotensi untuk membuat kita terjerumus di lubang yang sama. Untuk menghindari hal tersebut, sangatlah penting untuk melakukan berbagai upaya penyembuhan.

 

Di masa ini, Loveground sedang mengadakan online class untuk melakukan berbagai inner work. Dan karena toxic parent ini merupakan salah satu isu penting dan dialami oleh hampir semua orang. Saya encourage semua yang baca artikel ini untuk ikut kelas online bersama saya dan Anastasia Satriyo minggu depan. Untuk info lebih lengkap, silakan hubungi WA berikut.

Seorang anak yang terluka karena toxic parents, bisa tumbuh menjadi seorang dewasa dengan luka yang dalam; depresi, menjalani hubungan yang buruk dengan pasangan dan permasalahan lainnya. Malah kita malah bisa masuk ke dalam lingkaran kekerasan yang sulit untuk diputuskan dan memberikan luka yang sama kepada anak kita nantinya.

Berapapun usiamu saat ini, 20, 30, 40 50 ataupun 60 sekalipun, kita semua sama-sama seorang anak dari kedua orangtua kita. Jadi bisa saja kita masih membawa luka masa lalu kita sampai saat ini. Janganlah ragu untuk meminta pertolongan dan mulai pemulihanmu.

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter