witnessday

Being Vulnerable Is Strong

 

 

Selain menulis artikel-artikel di website, setahun belakangan saya sering menulis tentang perjalanan hidup saya sendiri di social media. Dan banyak komentar yang bilang kalau tulisan saya dianggap jujur dan apa adanya. Yang membaca merasa sangat bisa relate, sangat manusia banget, dan somehow keberanian saya untuk membuka diri dan menjadi vulnerable membuat yang membaca merasa jadi kuat dan ikut berani juga. Well, thank you for that!

Sebenarnya aslinya saya orang yang sangat self-conscious dan sangat ingin kelihatan bagus (walaupun ya nggak bagus-bagus amat juga sih hehehe…). Tapi ternyata menjadi sempurna itu mustahil. Menyenangkan hati semua orang mustahil. Selalu jadi orang yang baik, sabar, dan lembut juga mustahil. Akibatnya, tiap kali saya jadi orang yang kasar, galak, dan seleboran saya jadi marah sama diri sediri. Setiap ada yang mengkritik, saya jadi defensif dan nggak terima. Akhirnya saya tambah menderita dan masuk ke lingkaran setan.

Melindungi diri sendiri

Kenyataannya, tidak ada orang yang ingin terlihat tidak bagus. Tidak ada orang yang ingin menderita. Tidak ada orang yang nyaman dengan perasaan sakit, marah, benci, sedih, dan kecewa. Bahkan, sejak dulu sampai sekarang, kita hidup di masyarakat yang cenderung mengecilkan dan menyembunyikan semua perasaan nggak enak itu. Tidak heran, ketika kita merasa sakit, kita berusaha agar orang lain tidak sampai tahu. Kita berpura-pura, dan somehow kepura-puraan itu ikut membuat kita membohongi diri kita sendiri. Pas difoto sih senyum, tapi sesudah itu hidup berlanjut kacau dan uring-uringan. Pas ditanya kabar sih jawabnya baik, tapi dalam hati rasanya mau jerit.

Tapi kemudian kita kembali sibuk dengan pekerjaan, gadget, keluarga, belanja, dan kesenangan sesaat kita sendiri. Berbagai alasan dan upaya kita lakukan untuk menyembunyikan dan menghindari perasaan yang sebenarnya, dikenal sebagai ego defense mechanism atau mekanisme pertahanan ego. Kita menjalankan mekanisme tersebut untuk melindungi diri/ego kita dari perasaan gelisah ataupun perasaan bersalah yang muncul setiap kali kita merasa terancam. Mekanisme ini muncul untuk melindungi untuk ego kita yang lemah dan ia hidup di alam bawah sadar kita. Pada dasarnya, kita hanya ingin melindungi diri kita sendiri dan ini adalah hal yang natural. Tapi, perasaan sakit yang semakin lama dipendam tidak akan membuat kita semakin sehat. Yang ada kita akan semakin membenci diri sendiri, semakin berjarak dengan perasaan kita, kehilangan rasa sakit tapi sekaligus juga perasaan bahagia.

Aman untuk merasakan

Saya hanya bicara lewat pengalaman saya sendiri, karena saya tau dengan sangat jelas… semakin saya tidak mau melihat perasaan nggak enak itu, dia akan semakin menghantui saya. Berpura-pura dia tidak ada hanya memperparah keadaan. Semakin kita peduli pendapat orang ini hanya menandakan kita yang tidak menerima diri kita sendiri. Di saat seperti ini, jalan yang bisa kita tempuh adalah untuk membuka diri dan mengakui semua perasaan dan apapun yang kita anggap sebagai kelemahan di diri.

Bagi banyak orang ini bukanlah hal yang mudah. Seperti yang saya tulis di atas, kita hidup di masyarakat yang ingin terlihat sempurna. Waktu kecil orangtua kita bilang, “Udah gede nggak boleh nangis. Jangan cengeng!” Atau, “Anak mama nggak boleh marah. Ga sopan di depan orang, bikin malu aja!” Tidak heran, semakin kita dewasa, kita bahkan tidak bisa mengenali perasaan kita sendiri dan berhadapan dengan mereka. Jadi, selalu dan selalu saya bilang kepada para klien saya, “It is safe for you to feel. Being vulnerable is strong.” Terserah orang mau bilang apa, tapi di depan saya dan di ruangan ini, kamu boleh dan bebas menjadi diri kamu apa adanya. I am here with you, it is safe for you to feel. 

Bukankah kita semua sebenarnya hanya ingin merasa diterima? Bukankah semua perasaan nggak enak di dalam sini juga hanya ingin diakui dan diterima keberadaannya? Dan ajaibnya, seiring para klien ini membuka diri untuk boleh merasakan semua rasa sakit , mereka meruntuhkan benteng pertahanan mereka dan mulai mengizinkan diri mereka untuk berani merasakan. Hidup mulai bergulir kembali, bagian yang tadinya dibuang mulai dipeluk kembali. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam proses ini. Buat saya, meditasi dan menulis menyembuhkan. Mungkin kamu juga bisa mencoba cara yang sama.

Memeluk bagian gelap dalam diri

Perubahan saya sendiri juga dimulai saat saya bersedia menerima dan memeluk bagian-bagian diri saya yang gelap. Dan saya belajar… ia yang menolak dan tidak sanggup untuk melihat kenyataan dirinya sendiri, sesungguhnya adalah makhluk yang lemah. Ia yang kuat adalah ia yang sanggup dan berani untuk merasa lemah. Ia yang berani untuk mengakui dan menunjukkan sisi-sisi dirinya yang mungkin dianggap orang kurang bagus, kurang pantas, kurang bermartabat. Dan tidak apa-apa. Terserah apa kata orang. Kata guru saya, Thich Nhat Hanh, menjadi cantik adalah menjadi diri sendiri. Kamu tidak perlu diterima oleh orang lain. Yang penting adalah kamu menerima dirimu sendiri.

Hanya ketika kita menerima keseluruhan diri kita, hidup menjadi utuh. Karena tidak ada lagi emosi, perasaaan, dan pikiran yang disangkal dan dihindari. Semuanya hanya disaksikan dan diterima tanpa penghakiman. Bagi saya, ini adalah meditasi. Yes, being vulnerable is strong. I’m still a work on progress. But embracing both the light and shadow within me, i’ve never felt so much alive!

Apakah sambil membaca artikel ini kamu jadi sadar bahwa ada bagian dari dirimu yang kamu tidak sukai, kamu tutupi atau mau buang? Apa kamu mulai ngeh bahwa selama ini kamu banyak menghindar? Apa kamu benci dirimu sendiri dan berharap ada pil ajaib yang bisa menghapus semua perasaan tidak nyaman ini dan hidup dalam sekejap akan jadi bahagia? Well, my friend, kabar buruknya tidak ada yang instan dalam proses penyembuhan diri. But, please please, don’t run away anymore. Karena kabar baiknya, penderitaan itu adalah pilihan dan kamu berhak bahagia. Please share your story here, forward this article to all your friends who are in need, and look for professional help if you need one. My love and prayers are with you.

 

 

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter