Bagaimana memaafkan (tanpa permintaan maaf sekalipun)

Posted on Posted in card reading, witnessday

witnessday

 

Pernahkah kamu menyimpan dendam yang begitu dalam sehingga kamu tidak bisa berpikir jernih? Pernahkah seseorang melakukan sesuatu yang buruk kepadamu sampai kamu menyimpan dendam dan sangat membencinya? Tapi pernahkah kamu menyadari bahwa membenci itu sangat melelahkan? Tidakkah kamu mau menyudahinya saja?

 

Dan saya yakin kamu tahu bagaimana rasanya ketika kamu terus menunggu datangnya permintaan maaf dan maaf itu tidak pernah datang? Dan kamu terus bertanya pada dirimu, “Bagaimana seharusnya saya menyikapi kejadian seperti ini? Mengapa dia belum juga minta maaf? Akankah dia minta maaf? Dan bagaimana tanggapan orang kalau saya memaafkan tanpa menerima permintaan maaf yang pantas?” Nah, di sini kamu menjawab pertanyaanmu sendiri; ini mengenai pengakuan. Ini adalah cara kita memuaskan ego kita sendiri. Kalau dia menyakitimu tapi dia meminta maaf, setidaknya kamu akan merasa dia menghargaimu walaupun sedikit. Dan itulah yang sebenarnya kamu inginkan; pengakuan.

 

Kamu mau dia menyesali apa yang telah dia lakukan padamu. Kamu mau dia mengakui kesalahannya, dan percaya atau tidak, kamu mau dia untuk memberikan pengakuan terhadap kamu. Kamu mau dia mengenali kamu sebagai seseorang yang dia sakiti, seseorang yang dia hutangkan permohonan maaf. Tapi bagaimana kalau permintaan maaf itu tidak pernah datang? Haruskah kita merasa lebih tersakiti? Haruskah kita merasa diacuhkan?

 

Menyimpan amarah itu seperti menggenggam batu bara yang panas dengan tujuan melemparkannya pada orang lain; tetapi kamu sendirilah yang terbakar.

 

Kita semua tentu tidak asing dengan persoalan sakit-menyakiti. Kita pernah menjadi orang yang disakiti dan kita pernah menjadi seseorang yang menyakiti orang lain, dengan sengaja atau tidak. Kita semua adalah manusia; kita berbuat salah, kadang berulang kali. Memaafkan tidak selalu berarti kamu melupakan semua yang terjadi. Hampir tidak mungkin sebenarnya. Tapi kalau kita memutuskan untuk melihat rasa sakit kita dari pandangan yang berbeda, kita bisa menerima, memaafkan, dan mengikhlaskannya – dan karena itu, berdamai dengan diri kita dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

 

Jadi teman-teman, kalau kamu mencari waktu yang tepat untuk memaafkan, saya rasa inilah waktunya. Sekarang adalah waktunya. Inilah tujuh cara praktis yang dapat kamu langsung praktekkan untuk memaafkan dan menjalani hidup yang lebih baik:

 

1. Pikirkan dirimu sendiri
Kamu hanya menyakiti dirimu sendiri kalau kamu terus membenci orang lain. Membenci itu melelahkan, tidak hanya untuk pikiranmu, tapi juga tubuhmu. Tidakkah kamu tahu bahwa penyebab dari begitu banyak penyakit sebenarnya datang dari pikiran yang tidak mau menerima?

 

2. Kamu tidak membutuhkan permintaan maaf sebagai bukti
Kamu tidak perlu membuktikan kepada siapapun bahwa kamu adalah orang yang patut dihargai, kuat, dan kebal terhadap rasa sakit. Mereka yang menyakitimu tidak akan peduli, dan mereka yang menyayangimu tidak membutuhkannya karena mereka tahu betapa berharganya kamu. Jadi, kamu sebaiknya juga harus menghargai dirimu sendiri.

 

3. Terimalah bahwa permohonan maaf itu tidak akan datang
Berhenti merasa seperti seseorang berhutang permohonan maaf padamu dan berhenti berpura-pura seperti kata maaf akan datang suatu hari. Terimalah bahwa tidak semua orang meminta maaf dan tidak semua orang mendapatkan permintaan maaf. Mengapa kamu tidak menjadi seseorang yang lebih berjiwa besar, sehingga kamu dapat melanjutkan hidupmu.

 

4. Menyadari egomu
Jadi, dua poin di atas sebenarnya menunjukkan kebutuhanmu akan pengakuan. Sadari bahwa kebutuhanmu akan pengakuan sebenarnya adalah perwujudan dari egomu. Kebutuhan ini tidak datang dari cinta, ini datang dari rasa takut untuk tidak dicintai atau tidak pantas dicintai. Sekali kamu menyadari bahwa ini hanyalah egomu yang mencoba “mengganggumu”, kamu dapat dengan segera melenyapkan pikiran tersebut.

 

5. Tempatkan dirimu di posisi mereka
Jangan terlalu cepat menilai sebelum kamu tahu mengapa alasannya. Untuk mengerti sebuah situasi, pahamilah apa yang mereka lakukan padamu atau alasan dibaliknya. Posisikan dirimu di tempat mereka dan lihat cara berpikir mereka. Ketika kamu menyadari bahwa mereka melakukan apa yang mereka lakukan karena mereka juga tersakiti, perasaan welas asih itu akan tumbuh di dirimu dan kamu tidak akan bisa membenci lagi, kamu hanya bisa menyayangi.

 

6. Berhenti memposisikan dirimu sebagai korban
Semua terjadi karena sebuah alasan. Berhenti menyalahkan orang lain dan berhenti menganggap dirimu sebagai korban. Ingat, apa yang kamu terima adalah akibat dari sebuah sebab yang kamu lakukan. Sekali kamu menyadari bahwa hidup adalah sebuah permainan yang kita mainkan dan semua “orang jahat” hadir hanya untuk memberikan kamu sebuah pelajaran, kamu bisa segera naik kelas dan tumbuh bijaksana.

 

7. Relakan dan lepaskan
Kamu tidak perlu bertemu dengan mereka secara langsung, tapi secara energi kamu bisa mengatakan ini kepada orang tersebut, “Saya memaafkan kamu dan saya menerima kamu apa adanya. Saya maafkan semua kesalahanmu, saya membiarkan kamu pergi dengan cinta, dan sekarang saya bebas”. Sekarang, kamu bisa lepaskan semua bebanmu dan berbahagialah dengan semua yang telah terjadi dalam hidupmu. Hidupmu itu terlalu indah untuk dihabiskan dalam kesedihan.

 

IMG_4114

 

Jadi itulah tujuh cara yang kamu bisa langsung lakukan untuk memaafkan orang lain, atau bahkan dirimu sendiri. Mungkin kamu akan berkata “Tapi, ini tidak semudah yang dikatakan”. Ya, saya pikir juga demikian. Tapi untuk mengubah sebuah batu menjadi berlian memakan waktu dan tekanan, kan? Dan saya bersedia melakukan prosesnya kalau pada akhirnya saya dapat menyembuhkan diri sendiri dan meningkatkan kematangan hidup saya,

 

Sekarang, lepaskan semua beban yang selama ini kamu pikul. Ini waktunya kamu berdamai dengan dirimu. Ceritakan pengalaman pribadimu tentang memaafkan dan mengikhlaskan di kolom komentar di bawah ini.

 

Kalau kamu sedang berusaha untuk memaafkan orang lain, atau bahkan dirimu sendiri, dan kamu butuh bantuan, kamu selalu dapat mengandalkan saya dan kamu bisa hubungi saya di sini.

 

Terima kasih telah membaca dan saya harap artikel ini dapat membawa sebuah perubahan yang indah dan baik dalam hidupmu. Dan… kamu tidak mau menyimpan sesuatu yag sangat baik hanya pada dirimu, kan? Bagikan artikel ini kepada teman-temanmu untuk menunjukkan rasa peduli dan sayangmu kepada mereka. Terima kasih sekali lagi dan sampai jumpa!

 

 

Love and light,

sign

 

 

 

 

 

ameliadevina1Amelia adalah serang Quantum Healing Practitioner & Intuitive Coach. Misinya adalah membantu orang lain untuk menemukan siapa diri mereka sebenarnya, mengapa mereka ada di sini, dan bagaimana untuk menjadi diri mereka yang sejati. Ia melakukannya dengan berbagai cara, mulai dari quantum healing, card reading, chakra wisdom healing, meditasi, dan menyalurkan pesan dari Semesta lewat life coaching. Saat ini Amelia terus melakukan one-on-one terapi dan coaching, juga berbagai kelas offline dan online, workshop dan retreat. Ia secara rutin tetap berbagi ilmu gratis lewat langganan newsletter yang bisa diakses di ameliadevina.com. Amelia bisa dihubungi lewat email hello@ameliadevina.com, halaman facebook Amelia Devina, dan instagram/ twitter @ameliadevina777.

Share the love...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter
  • Henny Novita

    Ini artikel luar biasa, mungkin karna saya sendiri pernah mengalami kali ya.. Saat itu saya pernah terpaku di semua point yang di sebut Kak Amel. Hingga jalan terakhir yang saya ambil adalah Merelakan & Melepaskan. Dari semua point yang ada, saya merasa point no. 7 itulah yang paling berat. Waktu itu saya justru harus mengalahkan diri sendiri dulu untuk bisa sampai pada tahap rela & lepas.

    Namun, setelah saya merelakan & melepaskan dan semua berjalan seperti apa adanya. Saya menjadi lebih enjoy menjalani hidup saya sendiri. Sekalipun tanpa ada permintaan maaf dari orang yang saya rasa menyakiti saya. Ketika sudah sampai di tahap rela dan lepas, kata maaf dari orang lain tidaklah menjadi hal yang penting lagi karna saya juga tidak ingin membebani diri sendiri.

    Sekali lagi thanks atas artikel ini Kak Amel. 🙂