witnessday

Apa Itu Kindfulness?

 

“Mindfulness without kindness becomes dry, boring and cold.”- Shamash Alidina

Di berbagai kesempatan sebelumnya, saya seringkali membahas mengenai mindfulness; apa itu mindfulness, bagaimana hidup dengan mindful, apa manfaat menjalankan hidup dengan mindful, bahkan bagaimana menjalankan hubungan dengan mindful. Namun ternyata, ada hal yang menurut saya tidak kalah pentingnya untuk dikembangkan, yaitu dengan menjadi baik (atau bisa disebut dengan kindfulness).

“But when you switch the focus to ‘kindfulness’, it reminds you to be forgiving and friendly as you carry out mindfulness, so you’re able to get the very best out of it.”

Banyak guru meditasi yang menyarankan kesadaran yang dipenuhi kehangatan, kebaikan dan keramahan. Namun, untuk memudahkannya, kita bisa menggunakan kata kindfulness; mengingatkan kita untuk menjadi lebih baik setiap kali kita mempraktekannya.

Ajahn Brahm sendiri pernah menjelaskan kindfulness di salah satu bukunya. Ia menjelaskan beberapa nilai yang bisa kita pelajari bersama dari istilah kindfulness ini:

– Kebaikan (virtue)
Nilai kebaikan adalah pengembangan dari pemberian rasa aman, kebaikan, kemurahan hati dan perhatian melalui bahasa tubuh, ucapan dan juga pikiran. Nilai ini juga bisa dijadikan acuan untuk mengembangkan diri menjadi seseorang yang memiliki moralitas dan kebiasaan yang baik. Dengan memegang teguh nilai kebaikan ini dan terus melatih diri, kita bisa menjadi seseorang yang semakin baik setiap harinya.

– Kondisi Meditatif (unification of mind)
Pada artikel sebelumnya, saya pernah menjelaskan manfaat dari meditasi. Yang ingin saya tekankan di sini adalah kondisi meditatifnya; di mana pikiran, ucapan dan tindakan kita selaras dalam keheningan dan kedamaian. Dengan berada di dalam kondisi meditatif, kita bisa terhindar dari berbagai khilaf ataupun tindakan yang didasarkan oleh emosi semata.

– Kebijaksanaan (wisdom)
Kebijaksanaan adalah kondisi di mana kita bisa melihat dunia dengan jelas tanpa gangguan. Kondisi di mana kita mengerti secara mendalam mengenai kondisi manusia dengan pikiran yang damai. Dan kebijaksanaan ini sendiri bisa terlahir dari kesunyian dan ketenangan, dengan hati yang terbuka, menerima dan tidak bias. Dengan kebijaksanaan ini, kita bisa menjadi lebih bebas dan bisa mencintai dan mengasihi semua orang di sekitar kita.

Mungkin beberapa di antara kamu ada yang bingung dan bertanya-tanya, “Jadi sebenarnya apa bedanya kindfulness dengan sekedar berbuat baik?”. Misalnya, saat ini kamu sedang stress menghadapi tuntutan boss terhadap target bulanan sedangkan kamu harus menghadapi istri yang kelelahan dan terus meminta bantuanmu untuk menjaga Si Kecil.

Ketika kamu sekedar berbuat baik, kamu akan menjaga Si Kecil ala kadarnya. Hanya sekedar menunggu sampai istri selesai berbenah dan istirahat. Kamu mungkin tidak akan memperhatikan apa yang harus disediakan untuk Si Kecil, apakah popoknya sudah terpasang dengan benar dan sebagainya. Atau mungkin, kamu akan melakukannya sambil menggerutu dalam hati.

Sedangkan, jika kamu membantu menjaga Si Kecil dengan kindfulness, kamu bukan hanya membantu istri mengulur waktu, namun juga memperhatikan seluruh kebutuhan Si Kecil; baik popok, makanan, menyiapkan baju dan tempat tidurnya dan berbagai hal bukan hanya untuk kebaikan Si Kecil, namun juga untuk membantu meringankan beban istri.

Menurutmu, yang mana yang akan membuat istri lebih bahagia? Apakah yang sekedar berbuat baik? Atau yang menjalankannya dengan kindfulness? Apakah jika istri bahagia, kamu juga akan merasakan kebahagiaan tersebut? Yuk share jawabanmu di kolom komentar! Jangan lupa bagikan juga pengalamanmu mengenai kindfulness.

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter