witnessday

Anak lelaki yang meminta Tuhan untuk menunggu sebentar

witnessday

 

Suatu malam ada seorang anak lelaki yang sedang bersiap-siap untuk tidur. Seperti biasa, setiap malam sebelum tidur, di dalam kamarnya ia akan berlutut di kaki ranjang, menangkupkan tangan, dan berdoa kepada Tuhan. Juga malam itu.

Anak laki-laki ini berdoa dengan sangat khusyuknya. Ia bersyukur atas kedua orangtuanya, makanan lezat yang ia santap, teman-temannya di sekolah, dan ia meminta agar malam ini ia dapat tidur dengan nyenyak dan besok ujiannya dapat nilai seratus.

Baru sampai di situ doanya, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk.

Tok tok tok…

Sesudahnya, terdengar suara panggilan. Ternyata Mama yang mau masuk kamar.

Tapi ia sedang serius-seriusnya berdoa kepada Tuhan! Dalam hati, ia bingung. “Apakah sopan kalau saya menghentikan doa saya dan membuka pintu untuk Mama? Tapi, kalau saya tidak menjawab Mama, bukankah itu juga kurang sopan? Nanti Mama bisa mengira ada apa-apa yang terjadi pada saya di dalam kamar. Apa tidak lebih baik kalau saya selesaikan dulu doanya dan membiarkan Mama menunggu sebentar?” batinnya.

Tapi kemudian, anak laki-laki ini membuat sebuah keputusan.

Yang sangat penting untuk keseluruhan hidupnya kelak.

Ia selesaikan doanya untuk sementara. Ia buka pintu untuk Mama yang ternyata membawakan segelas air hangat untuknya. Wajah Mama tersenyum. Ia juga jadi tersenyum. Mereka berpelukan mesra hangat sebelum tidur.

Dalam hati, anak lelaki ini jadi paham. Bahwa Tuhan pasti tidak akan marah kalau Ia perlu menunggu. Tuhan masih ada di dalam kamarnya, dan tadi ada di ketukan pintu kamarnya, juga ada di segelas air hangat yang akan diminumnya kelak.

 

 

Untuk direnungkan:

Kalau kamu jadi anak laki-laki ini, apa yang akan kamu lakukan ketika Mama/ ada orang lain yang mengetuk pintu? Kalau kamu sudah atau akan punya anak, apakah hal yang sama akan kamu ajarkan kepada anakmu kelak? Yuk, mari kita berimajinasi dan saling berbagi cerita. Walaupun terkesan sederhana, bisa jadi pertanyaan ini gampang-gampang susah untuk kita. Tuliskan komentarmu pada kolom di bawah artikel ini.

Terima kasih sudah membaca. Kalau kamu suka cerita pendek ini, kamu bisa bantu saya untuk share tulisan ini ke teman-temanmu.

Semoga dalam perjalanan hidup ini, kita mempunyai cukup kebijaksanaan untuk membuat keputusan dengan tepat dan memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang, dan tidak terkecuali, pada diri kita sendiri. Thank you and I’ll see you soon!

 

 

Love and light,

sign

 

 

 

 

ameliadevina1Amelia adalah seorang penulis dan Intuitive Coach. Misinya adalah membantu orang lain untuk menemukan siapa diri mereka sebenarnya, mengapa mereka ada di sini, dan bagaimana untuk menjadi diri mereka yang sejati. Saat ini Amelia terus berbagi lewat berbagai kelas offline dan online, workshop dan retreat. Ia secara rutin menulis pada blog yang bisa diakses di ameliadevina.com. Amelia bisa dihubungi lewat email hello@ameliadevina.com, halaman facebook Amelia Devina, dan instagram/ twitter @ameliadevina777.

 

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter