witnessday

Alam Semesta Bekerja Seperti Cermin: Lalu Kita Bisa Apa?

 

Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, kita selalu menghadapi masalah. Selesai satu, muncul yang lain. Kadang masalah kecil, kadang juga masalah besar. Rintangan pun juga begitu; datang silih berganti. Rasanya mustahil untuk hidup tanpa masalah! Namun sayangnya, banyak di antara kita yang merasa bahwa kita sendiri yang memiliki masalah, sedangkan orang-orang lain seperti orang yang good looking, orang kaya, orang yang berprestasi, sama sekali tidak memiliki masalah.

Selama ini banyak orang yang berkata, “Enak ya jadi Amel, kerjanya hanya dengerin orang curhat. Gak perlu kerja 9-5.” Bisa jadi salah satu dari kamu juga berpikiran hal yang sama. Padahal dibilang enak banget, ya engga juga. Mendengarkan kisah orang lain bukan hal yang mudah, lho! Apalagi sebagai seorang praktisi, saya harus bersikap objektif dan juga supportive secara bersamaan.

Bukan hanya itu, banyak juga orang-orang di sekitar saya yang begitu menuntut agar saya bisa menjadi tempat curhat yang sempurna; selalu bisa dihubungi, selalu dapat mendengarkan dengan baik, selalu bisa untuk memberikan alternatif solusi yang sesuai. Padahal saya ini manusia biasa seperti teman-teman yang juga butuh istirahat, yang juga butuh mengerjakan hal lain, bahkan juga butuh curhat seperti teman-teman di sini!

Suatu hari pernah ada seseorang yang terus menghubungi saya. Keadaannya saat itu sedang kurang baik, dan ia merasa ia butuh seseorang untuk mendengarkan kisahnya. Dia chat saya, dan kebetulan di saat yang sama saya sedang bertemu klien lain seharian sehingga chat-nya tidak terbaca. Alhasil, dia marah. Dia mengungkapkan kekecewaannya, ia merasa bahwa saya kurang responsif, kurang peduli terhadap keadaannya.

Pada saat itu saya merasa kesal. Saya merasa saya sudah sangat maksimal dalam membalas semua chat yang masuk. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, kejadian ini tidak hanya terjadi sekali. Namun, dari kejadian tersebut saya jadi menyadari sesuatu; saya adalah seseorang yang ingin tampil sempurna. Kenapa begitu?

Sebenarnya saya bisa saja maklum dan tidak perlu merasa kesal dengan kekecewaan yang disampaikan orang tersebut. Lagipula, saya sudah mencoba yang terbaik dan saya kan juga bisa saja meminta pemakluman darinya. Toh tidak ada appointment sebelumnya, dan klien yang lain pun juga sedang menghadapi masalah lain yang tidak kalah penting untuk saya bantu.

Namun dari hasil berkontemplasi inilah saya baru menyadari bahwa saya tidak nyaman ketika ada seseorang yang merasa saya kurang sempurna, saya kurang cukup baik di mata orang lain. Makanya saya merasa terganggu. Dan semakin saya merasa bahwa saya perlu tampil sempurna, percaya ga percaya akan muncul semakin banyak hal yang menunjukkan bahwa saya tidak se-sempurna itu.

Nah apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi hal tersebut?

1. Sadari Reaksi Diri

Sama seperti cermin, fungsi dari kemunculan masalah tersebut membantu kita untuk berkaca. Ketika kita berhadapan dengan hal yang membuat diri tidak nyaman, jangan lewatkan kesempatan untuk menyadari bagian apa persisnya yang membuat kita merasa tidak nyaman.

Coba untuk tidak berhenti sampai di sana. Sadari juga reaksi diri ketika kita merasa senang dan puas; kata-kata apa, keadaan seperti apa yang membuat kita menjadi puas? Terus berkaca, dan kenali diri sendiri.

2. Menerima Kondisi Diri

Setelah berkaca, tentu akan menajdi lebih bijak jika kita bisa menerima apa yang cermin tersebut tampilkan. Ini adalah fase yang sulit. Tentu akan sulit bagi kita ketika melihat adanya bitnik jerawat dan juga kerutan yang mulai muncul ketika bercermin. Mungkin kita akan merasa kesal, namun apakah kita akan terus merasa seperti itu?

Sama seperti saat kita berjerawat, daripada terus mengeluh dan membenci penampilan kita, tentu akan lebih baik jika kita menerima kenyataan bahwa kita sedang berjerawat dan rutin menggunakan obat jerawat, bukan? Begitupula ketika kita berkaca pada masalah yang dihadapi; ketika kita tahu bahwa kita kurang tegas, apa iya kita mau terus menyerukan betapa dominannya orang lain sehingga membuat kita menjadi tak berdaya?

3. Lebih Bersemangat Menyelesaikan Rintangan

Asap akan terus muncul jika api tidak kunjung padam. Kita juga tidak akan naik kelas jika kita tidak lulus ujian. Sama seperti masalah; masalah akan terus muncul jika akar masalahnya tidak dicabut/diperbaiki. Dan percaya gak percaya, jika kita memilih untuk kabur atau menghindar, kita akan bertemu lagi dengan masalah serupa meski dengan orang yang berbeda.

Maka dari itu, jadikanlah kesempatan ini sebagai penyemangat dalam menyelesaikan akar permasalahan.

Nah, di antara teman-teman yang membaca, apakah ada yang merasa bahwa dalam kehidupan ini, seringkali dihadapkan dengan masalah yang serupa? Jika kamu salah satunya, yuk ceritakan pengalamanmu di kolom komentar!

 

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter