witnessday

6 Langkah untuk merasa damai dengan diri sendiri dan orang lain

 

wpid-2015-04-12-01-01-42_deco.jpg

 

21 September diperingati sebagai Hari Perdamaian Dunia Internasional. Semua orang menginginkan perdamaian, setiap kepala negara dalam konferensi PBB sampai tiap kontestan Miss Universe membicarakan mengenai perdamaian dunia. Namun, pemikiran tentang perdamaian dunia seakan telah menjadi umum bahkan dikomersialkan, dan kita lupa bahwa untuk mencapai ‘perdamaian dunia’, kita harus kembali pada hal paling mendasar yang akan saya tanyakan kepada kamu saat ini: Apakah kamu telah merasa damai dengan dirimu sendiri? Karena, perdamaian dunia hanya dapat diwujudkan jika kita mampu berdamai dengan diri kita sendiri dan satu sama lain.

 

Saya teringat pada masa ketika saya berusia dua puluh dua. Saya memiliki apa yang saya sebut “sindrom Peterpan”. Saya tidak ingin menjadi tua, saya ingin tetap muda selamanya. Orang-orang mengatakan bahwa dengan bertambahnya usia, kamu harus mengorbankan idealisme, memiliki pekerjaan kantoran, dan menjadi “normal”; tentu saja, saya tidak suka pemikiran tersebut. Belum lagi kesan bahwa orang tua menginginkan kita untuk cepat “sukses”; hidup tiba-tiba menjadi beban. Saya pernah membenci orang tua saya, membenci hidup, dan saya benci pada diri saya sendiri karena saya merasa sangat payah. Saya benar-benar tidak merasa damai dengan orang lain, dan terutama, tidak dengan diri saya sendiri.

 

Jadi, bagaimana caranya sehingga perempuan berusia dua puluh dua tahun tadi berubah menjadi diri saya yang seperti sekarang ini? Seorang perempuan yang bersemangat untuk menyongsong hari baru dan tahu bahwa hari hidupnya makin berkurang di bumi tapi bisa tetap senang. Perempuan yang melakukan pekerjaannya tanpa harus mengorbankan satu pun idealismenya. Apa rahasia dari kedamaian dan kepuasan batin ini? Jawabannya terletak pada 6 langkah sederhana yang akan saya bagikan dengan kamu di sini.

 

 

Merangkul dan mengendalikan emosi dengan indah.

Seringkali dalam hidup kita menyesali hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan – seperti berlaku kasar atau tidak sopan. Semakin kamu tunduk pada kemarahan/ketakutan/rasa bersalah, semakin kamu terbiasa dengannya. Kemudian, sebelum kamu menyadarinya, hal tersebut telah menjadi karaktermu. Mungkin kamu pernah mendengar apa yang dikatakan oleh Anabel Jensen, seorang pakar kecerdasan emosional tingkat dunia, tentang konsep Six Seconds.

Berikan dirimu enam detik untuk memutuskan bagaimana kamu akan menanggapi suatu situasi, daripada langsung bereaksi impulsif. Kamu dapat menggunakan enam detik ini untuk memusatkan perhatian pada nafas atau menarik nafas panjang, mengulang sebuah mantra, bersyukur atas apa yang diberikan di balik situasi tersebut, segera tersenyum, atau kembali pada akal sehatmu. Ketika emosi seperti ini datang, tidak perlu menghukum dirimu sendiri. Cukup sadari perasaanmu, rangkul dan biarkan diri kembali tenang. Kedamaian batin adalah hasil latihan dari hari ke hari. Berlatihlah sehingga akhirnya ia menjadi karaktermu.

 

Memahami bahwa setiap orang memiliki kesulitannya masing-masing.

Ada sebuah pepatah populer: “Semua orang yang kamu temui sesungguhnya sedang berjuang mengatasi suatu pertempuran yang tidak kamu ketahui sama sekali. Berbaik hatilah.” Itu benar! Kadang-kadang, kita mengharapkan orang lain untuk berlaku seperti dewa-dewi tanpa cacat. Tapi coba kita pikirkan, jika kamu memiliki masalah, orang lain pun pasti punya masalahnya masing-masing! Toh tidak mungkin mereka akan berlari ke sana ke mari memberitahumu apa saja masalah mereka, kan? Pahamilah bahwa setiap orang, termasuk kamu, sedang menjalani proses untuk bertumbuh. Dan jalan menuju pertumbuhan seringkali dipenuhi rasa sakit dan ketidaknyamanan. Berbaik hatilah kepada diri sendiri dan satu sama lain.

 

Cobalah bersikap baik kepada orang yang telah menyakiti kamu.

Relatif mudah untuk bersikap baik kepada orang yang juga bersikap baik kepada kamu. Semua orang bisa melakukannya. Tapi kamu tidak seperti semua orang, kamu istimewa! Jadi cobalah untuk bersikap baik kepada orang-orang yang telah menyakiti kamu. Ada alasan ajaib mengapa Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu!” Praktek ini akan memperbesar kasih sayang kamu, memperluas pikiranmu, melebarkan hatimu, dan mengajarkan kamu untuk fleksibel. Regangkanlah otot toleransi kamu! “Jadilah orang yang tidak mudah terluka oleh hal-hal sederhana yang dikatakan orang lain”, hal ini berulang kali diajarkan oleh guru saya yang bijak, Dharma Master Cheng Yen. Ketika tidak ada hal-hal di luar diri yang dapat dengan mudah menyakiti kamu secara emosional, kamu mencapai keseimbangan batin. Kamu stabil, kamu kuat. Rasakan kedamaian batin itu dalam dirimu.

 

Menerima dirimu (dan orang lain) apa adanya.

Banyak orang yang marah dengan hidupnya dan orang lain karena mereka tidak bahagia dengan diri mereka sendiri. Mereka butuh orang lain untuk mengatakan bahwa mereka cukup baik, cukup pintar, cantik, kaya, atau mengagumkan. Tapi Hugh McLeod mengatakan, “Cara terbaik untuk mendapatkan persetujuan adalah dengan tidak membutuhkannya.” Kamu tidak perlu hal-hal di luar dirimu untuk mengisi lubang atau kekosongan yang kamu miliki di dalam. Kamu hanya perlu memahami bahwa sesungguhnya kamu itu utuh. Kamu lengkap apa adanya. Yang kamu butuhkan sudah ada di dalam dirimu! Terimalah dan cintailah diri sendiri apa adanya.

Lakukan juga hal ini kepada orang lain di sekitarmu, terutama mereka yang paling dekat dengan kamu: pasangan, anak-anak, orang tua. Ketika kamu mengatakan bahwa kamu mencintai mereka apa adanya, kamu harus menerima segala sesuatu yang datang bersama mereka sebagai satu kesatuan paket. Masa lalu, masa kini, masa depan. Pikiran, ucapan dan tindakan. Mimpi, rasa takut, kekuatan dan kelemahan. Tubuh, pikiran dan jiwa. Saya selalu ingat apa yang guru meditasi saya, Pak Gede Prama, katakan: ketika kamu menerima diri sendiri apa adanya, kamu akan melihat dirimu mekar seperti bunga.

 

Praktek berkesadaran atau meditasi.

Suka tidak suka, meditasi adalah obat yang dapat kamu minum kapan saja setiap hari. Ini adalah pengobatan super untuk kamu! Bukan berarti kamu perlu duduk diam selama berjam-jam, tidak! Hidup penuh kesadaran, atau berlatih meditasi, hanya berarti bahwa kamu dapat beristirahat pada saat ini, di sini dan sekarang. Tidak menghakimi. Tanpa perlu usaha. Kamu bahkan tidak perlu mengosongkan pikiran kamu. Lagipula, bagaimana kamu dapat melakukannya? Pikiran selalu datang dan pergi tanpa kamu suruh, benar kan? Jadi, setiap kali pikiran datang dalam benak kamu, sadari saja dan katakan “hai”. Kemudian, dengan lembut sekaligus tegas, kembali ke titik tengah atau kepada nafasmu.

Itu sebabnya kamu dapat bermeditasi kapan saja di mana saja. Ketika kamu membuka pintu, mengangkat telepon, melihat layar ini, sebelum kamu berbicara, ketika kamu berjalan atau saat kamu berkendara – sadarilah nafasmu! Ini adalah alasan yang tidak begitu rahasia mengapa orang-orang suci selalu terlihat dengan senyum di wajah mereka, mereka terlihat begitu damai, muda dan cantik (walaupun tanpa riasan apapun)!

 

Memahami bahwa pada akhirnya kita semua adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda-beda.

Ini adalah apa yang saya ingin kamu pahami. Mengapa memikirkan banyak hal dengan terlalu serius? Mengapa terus membandingkan dan tidak merasa puas? Kita semua adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Kita tidak sama, tapi kita adalah elemen dari tubuh yang sama. Ketika anak kamu sakit, apakah kamu bisa bahagia? Ketika pasangan kamu merasa terluka, akankah kamu tidak merasa terluka juga? Praktek ini tidak hanya untuk orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kamu, tapi berlaku untuk semua orang. Jika kamu ingin bahagia, buatlah orang lain merasa senang. Jika kamu ingin hidup damai, berikan rasa damai kepada orang lain di sekitar kamu. Hanya dengan begitu maka kamu bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan sejati!

 

Jadi bagaimana dengan kamu? Mana satu dari enam langkah ini yang paling kamu suka? Apakah kamu sendiri memiliki tips untuk memperoleh kedamaian batin? Berbagilah dengan saya di sini. Saya ingin sekali mendengarnya dari kamu!

 

wpid-1440147248173.jpg

Apakah kamu suka kutipan ini? Ingin melihat yang lain? Kunjungi dan klik ‘like’ pada halaman facebook saya.

 

Saya harap cerita dan pengalaman yang saya bagikan di sini meyakinkan kamu bahwa kamu tidak pernah sendirian. Kita adalah manusia yang sedang belajar untuk kembali ke hakikat diri kita yang sejati; kita membuat kesalahan, kita menyembuhkan diri, kita menjadi lebih dan lebih baik lagi. Dan yang paling penting, ingat, perdamaian dunia bukanlah suatu teori saja. Perdamaian dunia adalah kumpulan dari kedamaian batin saya dan kedamaian batin kamu. Hal ini tergantung dari kita berdua: saya dan kamu. Jadi, mari kita mengupayakannya bersama-sama! Jika saya bisa melakukannya, kamu pun dapat melakukannya! Adalah berkah bagi saya karena bisa menjadi seorang Intuitive Counselor sehingga dapat menemani kamu dalam perjalanan yang disebut kehidupan ini.

 

>> Lihat informasi mengenai sesi Intuitive Counseling saya.

 

Terima kasih banyak sudah membaca tulisan ini. Jika kamu tahu bahwa ada seseorang yang mungkin bisa mendapatkan manfaat dari membaca artikel ini, silakan berbagi. Bagian terbaik dari menuliskan Witnessday adalah membaca pemikiran kamu setelahnya, jadi silahkan ke bagian komentar dan katakan apa yang kamu pikirkan. Saya harap kamu dapat hidup dalam damai dengan diri sendiri dan dengan satu sama lain; itulah doa saya untuk kamu hari ini. Sampai jumpa!

 

 

 

Love and light,

Amelia Devina

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter