witnessday

5 Cara Menangani Seorang dalam Kondisi Denial

 

Denial (penyangkalan) adalah salah satu mekanisme pertahanan ego yang membuat seseorang menolak realita yang ada meski ia sudah tahu realita sebenarnya. Biasanya kondisi denial terjadi ketika seseorang menghadapi suatu kejadian yang sangat menyedihkan maupun menyakitkan. Saking sedih dan sakitnya, seseorang kemudian menyangkal realita dan bahkan seringkali juga emosi dan perasaan yang mengikutinya.

Misalnya, Nita pernah bertengkar hebat dengan pasangannya karena ia berselingkuh dengan perempuan lain. Pasangannya sudah minta maaf dan mencoba memperbaiki hubungan dengannya. Nita pun berkata ia sudah memaafkannya. Namun demikian, meski suaminya sudah tidak berselingkuh lagi, Nita diam-diam masih mencurigai dan memata-matai suaminya. Setiap kali suaminya merasa risih dan komplain, ia malah berkelit dan memulai keributan dengan menuduh suaminya selingkuh lagi dengan perempuan lain. Hal ini terjadi berulang kali hingga hubungannya dengan suaminya jadi semakin merenggang. Pertanyaannya: apa menurutmu Nita sudah sepenuhnya memaafkan suaminya?

Sebagai salah satu bentuk mekanisme pertahanan ego, sangatlah penting bagi kita untuk menyadari kemunculan denial ini. Dengan mencoba mengamati suatu kejadian melalui sudut pandang lain, kita akan merasa terbantu untuk menghadapi kemunculan denial pada diri kita.

Namun, bagaimana jika denial terjadi pada orang lain, orang yang kita sayangi? Ketika seseorang menolak realita, kemungkinan untuk menjalankan hubungan dan berperilaku kurang sehat akan semakin besar; hal-hal yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain seperti menjadi kasar, berusaha melukai orang lain, atau mencoba mengakhiri hidup juga mungkin terjadi ketika seseorang benar-benar terpisah dari realita.

Sayangnya, tidak banyak dari kita yang menyadari efek membahayakan dari denial ini. Maka dari itu, ketika kamu menyadari bahwa orang yang kamu sayangi sedang berada dalam kondisi denial, kamu bisa coba menjalankan 5 cara berikut:

1. Kumpulkan Informasi

Untuk membantu seseorang yang sedang mengalami denial, kamu harus mengetahui berbagai fakta, kondisi dan kejadian yang sesungguhnya. Dengan begitu, kamu bisa membantunya untuk cross check dengan realita.

Misalnya, Daniel lebih dari seminggu terus menerus mengkonsumsi junk food. Padahal ia biasanya jarang sekali memesan junk food. Perubahan ini mungkin membuat kita bertanya-tanya. Setelah dicari tahu, ternyata itu adalah bentuk denial-nya ketika menghadapi kenyataan bahwa ia divonis menderita kanker stadium akhir.

Untuk mengumpulkan informasi, kamu bisa awali dengan menanyakan mengenai perubahan yang terjadi secara halus seperti, “Kamu sudah ga bawa makanan dari rumah lagi?”, atau “Kamu lagi bosan dengan restoran kemarin ya?” Ketika kamu melihat keadaannya mulai mengkhawatirkan dan jawaban yang diberikan kurang memuaskan, kamu bisa mencoba cari tahu dari orang lain yang cukup dekat dengannya; pasangannya, pacarnya, orangtuanya atau mungkin teman dekat lainnya.

Dari perbedaan informasi yang diterima, kamu bisa mengetahui informasi mana saja yang ia tolak dan kurang lebih apa penyebab ia menolak informasi tersebut sebagai bagian dari realita.

2. Buatlah Rencana

Buatlah rencana untuk menarik dirinya ke realita yang perlu dihadapi secara perlahan. Catat hal apa saja yang sering ia tolak dan tuliskan fakta yang perlu diketahuinya. Coba tuliskan juga rencana yang bisa kamu lakukan, seperti memberikan penjelasan secara perlahan setiap kali ia menolak hal tersebut, atau mungkin terus menerus menceritakan kenyataan yang sebenarnya dalam bentuk cerita atau metafor. Namun, yang perlu diingat adalah tidak ada satu cara yang cocok untuk diaplikasikan ke semua orang. Jadi, jika sebuah rencana yang dijalankan malah menimbulkan masalah baru, lebih baik kamu menghentikannya.

Pada kasus Nita yang saya bahas di paragraf awal, kamu bisa berencana untuk ngobrol santai mengenai hubungannya dengan suaminya ketika memergoki Nita mengecek social media suaminya. Kamu juga bisa meluangkan waktu untuk bertemu suaminya ketika ia menjemputnya di kantor sehingga bisa memberikan pujian mengenai betapa baik dan rajin suaminya untuk menjemputnya setiap hari.

Merawat seseorang yang mengalami denial diperlukan kerjasama dengan orang terdekat lainnya atau keluarganya. Dengan begitu, intervensi bisa langsung dilakukan ketika ia mencoba melakukan kegiatan yang membahayakan atau menyakiti dirinya sendiri dan/ atau juga orang lain.

Kamu juga bisa merencanakan perawatannya jika ia sudah mencapai kondisi yang mengkhawatirkan; sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup seperti bekerja, menjaga kebersihan tubuh, memenuhi nutrisinya, atau ketika sudah beresiko membahayakan dirinya sendiri atau orang lain.

3. Berikan Pertanyaan dan Sajikan Faktanya

Setelah kamu mempelajari tingkah lakunya, memiliki bukti dan informasi lengkapnya, menyadari perbedaan antara kenyataan dengan apa yang ia percayai, berarti sudah saatnya untuk menyajikan faktanya. Jangan biarkan kondisinya merusak hubungan pertemanan, kedekatannya dengan keluarga, dan juga mengganggu hubungan profesional dengan rekan kerjanya.

Kamu bisa mulai dengan memberikan pertanyaan yang menjurus mengenai kondisinya secara halus. Pada kasus Daniel, kamu mungkin bisa bertanya, “Apa kamu yakin kamu boleh makan banyak junk food?”, atau “Apakah kamu merasa baik-baik saja dengan makan junk food?”. Dengan pertanyaan seperti itu, kamu bisa memberikannya ruang untuk memikirkan kembali kejadian tersebut. Secara perlahan, kamu bisa memberikannya fakta sedikit demi sedikit. Berikan ia fakta tanpa penghakiman, tanpa emosi. Mungkin saja dengan begitu ia bisa menjadi membuka diri dan menerima kenyataan tersebut sedikit demi sedikit.

4. Beritahu Kekhawatiranmu

Seseorang yang berada dalam kondisi denial biasanya merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Berhadapan dengannya akan menjadi sangat melelahkan karena ia tidak sadar bahwa ia sedang menutupi kenyataan yang ada dengan hal lain yang dibuatnya. Setiap kali kamu merasa lelah menghadapinya, coba beritahukan kepadanya betapa kamu mengkhawatirkan dan peduli terhadap dirinya. “Aku sedih kamu marah-marah seperti ini terus”, atau “Aku khawatir kalau begini terus, hubungan kalian bisa menjadi semakin rusak.” dan sebagainya.

Cara ini akan membantu menyadarkannya akan masalah yang bisa saja terjadi (atau bahkan sedang terjadi) jika ia terus melakukan hal tersebut. Dan semoga dari cara ini ia bisa mencoba untuk keluar dari kondisi denial tersebut.

5. Berikan Bantuan dengan Tangan Terbuka

Saat berkomunikasi dengannya, berikanlah ia ruang dan kesempatan agar ia merasa aman, nyaman, dan berikan juga dirinya dukungan untuk mengekspresikan perasaannya dan menjadi dirinya sendiri.

Cobalah terima dirinya dengan tangan terbuka, dengan begitu ia akan membuka dirinya perlahan-lahan dan keluar dari penyangkalannya. Biasanya saya menyampaikan, “It is safe for you to feel. You are strong enough to feel. You are strong enough to bear this pain. I am here with you. You are free to express your feeling, thoughts, and emotion.” kepada klien saya yang sedang mengalami denial.

Selain itu, ketika sedang membantunya, cobalah fokus pada intensi kita, alasan mengapa kita melakukannya, dan menjaga setiap niat baik kita agar tetap ada meski hasilnya dan juga reaksinya tidak sesuai dengan harapan kita.

Berhadapan dengan seseorang yang sedang dalam kondisi denial pasti menguras tenaga dan perhatian. Namun, jika kita tetap memberikan perhatian dengan cara yang tepat semoga ia bisa keluar dari kondisi denial lebih cepat, merasa cukup kuat dan percaya diri untuk menerima kenyataan, dan bisa kembali berhubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya.

Apakah saat ini kamu sedang berhubungan dengan seseorang yang sedang dalam kondisi denial? Seberapa parahkah dan langkah apa yang rencananya ingin kamu lakukan? Yuk share ceritamu melalui komentar di bawah ini 🙂

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter