witnessday

3 Cara (Kedua) untuk Bekerja dengan Penuh Kesadaran

 

Saat kita bekerja untuk mencapai tujuan hidup kita, tentu kita menginginkan agar apa yang kita kerjakan berjalan dengan lancar, dan tanpa hambatan sehingga kita bisa mencapai tujuan hidup kita dengan lebih cepat. Dan tidak sedikit di antara kita yang tergesa-gesa untuk mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya.

 “The good life is a process, not a state of being. It is a direction, not a destination.” – Carl Rogers

Ironinya, di saat yang bersamaan kita lupa bahwa proses dalam mencapai tujuan hidup tidaklah kalah pentingnya dengan mencapai tujuan hidup itu sendiri. Jangan sampai, saking terburu-burunya kita dalam mencapai tujuan hidup kita, kita malah jadi tidak menikmati apa yang ada di depan mata kita sekarang. Salah satu cara untuk menikmati apa yang sedang ada di depan kita saat ini adalah dengan menjalani hidup dengan penuh kesadaran; terutama pada saat bekerja. Mengapa begitu?

Pada artikel sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengapa kita sebaiknya bekerja dengan penuh kesadaran berikut dengan 3 cara untuk mempraktekkannya. Berikut 3 cara lain yang bisa kamu coba:

1. Gunakan Pengingat yang Bisa Membantumu untuk Kembali Sadar

Kata “kesadaran” sendiri memiliki arti untuk mengingat. Kebanyakan di antara kita yang sudah membaca atau menjalani latihan kesadaran mengetahui betul berbagai manfaat dari hidup dengan penuh kesadaran. Meski begitu, kita juga sering lupa untuk menjadi sadar.

Alasan mengapa banyak di antara kita yang lupa untuk menjadi sadar adalah karena mode otak kita yang sudah terbiasa untuk terhanyut dalam pikirannya – fokus dengan berbagai omongan yang muncul di dalam diri. Ketika kita melakukan kegiatan sehari-hari, otak kita secara otomatis menghemat energi sehingga kita tidak benar-benar memperhatikan apa yang sedang kita lakukan. Kita melakukannya begitu saja, secara otomatis.

Menjalankan segala sesuatu dengan otomatis, tanpa berpikir, memang bukan hal yang membahayakan. Bahkan hal ini sungguh-sungguh umum terjadi di antara kita. Penelitian yang dilakukan oleh Harvard University menunjukan bahwa 47% dari keseharian seseorang dihabiskan dengan hilang ‘tenggelam’ di dalam pikirannya. Selain itu, pada penelitian yang sama menunjukkan bahwa melamun dapat memberikan dampak negatif pada kesejahteraan diri.

Menjalankan keseharian dengan mode auto-pilot (otomatis) berarti kita bukan hanya tidak memperhatikan apa yang sedang kita kerjakan, bahkan kita juga melewatkan kesempatan dan pilihan di sekitar kita. Dengan memanfaatkan beberapa bentuk pengingat, kita bisa berupaya untuk menarik kembali kesadaran kita dan mengeluarkan kita dari mode auto-pilot. Beberapa cara yang bisa dicoba adalah:

– Memasang alarm pada handphone

Kamu bisa memasang alarm di jam-jam penting, seperti pada saat jam kerja dimulai, atau di jam-jam saat kamu sudah mulai merasa sulit untuk fokus. Tidak perlu sampai mengeluarkan suara; terkadang hanya getaran saja sudah bisa membantumu untuk kembali fokus, kok 😊

– Manfaatkan kalender yang ada di meja

Bagi kamu yang terbiasa bekerja berdasarkan deadline, kamu bisa mencoba untuk memecah pekerjaan menjadi beberapa milestone dari hari ke hari. Lalu, biasakan diri untuk mengecek kalender. Dengan begitu, kamu bisa menjadi lebih fokus mengerjakan pekerjaanmu satu per satu setiap harinya.

– Letakkan catatan kecil atau gambar di mejamu

Percaya tidak percaya, catatan kecil berupa quotes atau bahkan gambar/foto sederhana bisa membantumu untuk fokus mengerjakan tugasmu. Coba deh pasang gambaran hal atau apapun yang menjadi tujuan utamamu dan coba untuk melihat/memperhatikan gambar tersebut setiap kamu kehilangan fokus saat bekerja. Jangan lupa ceritakan hasilnya, ya!

– Mengasosiasikan aktivitas tertentu dengan kesadaran

Salah satu cara yang mudah untuk mempraktekkan cara yang ini adalah seperti ini.. Jika kamu bekerja menggunakan komputer/laptop, kamu bisa mengasosiasikan kegiatan menyalakan komputer/laptop sebagai pengingat untuk mengembalikan kesadaran tepat sebelum bekerja. Kamu bisa memilih sendiri hal/kegiatan kecil apa yang bisa kamu asosiasikan dengan kesadaran.

– Menggunakan suara lonceng

Pernahkah kamu mendengar lonceng sebagai tanda dimulainya/berakhirnya meditasi atau mungkin kamu pernah mendengar suara lonceng di kuil/vihara? Atau mungkin kamu pernah mendengar suara lonceng/gong yang ada di gereja? Suara lonceng tersebut seringkali digunakan sebagai tanda dimulainya sebuah kegiatan yang membutuhkan kesadaran. Kamu bisa menggunakan suara lonceng ini pada alarm-mu. Setiap kali kamu mendengar bunyi lonceng tersebut, kamu bisa berhenti sejenak untuk menyadari apa yang sedang kamu lakukan dan keadaan di sekitarmu.

Ini semua adalah kesempatan untuk kembali ke momen saat ini, untuk melihat dirimu dan sekelilingmu dengan penuh kesadaran. Kamu bisa mengambil satu langkah mundur dan melakukan refleksi singkat daripada bereaksi begitu saja pada apa yang datang kepadamu dalam berbagai bentuk, kebutuhan, tugas dan juga tantangan.

2. Melamban untuk Melaju Lebih Cepat

Menjaga kesadaraan saat bekerja memang terdengar tidak produktif. Namun, kamu bisa coba mempertimbangkan fakta bahwa dengan menghentikan atau memperlambat apa yang sedang kamu kerjakan, kamu bisa menjadi semakin efisien, produktif, bahagia, merasa puas dan juga sehat saat bekerja.

Bagaimana bisa begitu? Nah, kamu bisa coba bayangkan ketika kamu akan ujian nasional keesokan harinya; di antara teman-teman pasti ada yang mengurangi jam tidurnya untuk belajar. Padahal, tidur adalah istirahat – dan istirahat berarti tidak melakukan apapun. Dengan mengurangi jam tidur, berarti kamu kurang istirahat, dan di saat yang bersamaan, kamu pun tahu bahwa sangat sulit untuk belajar; efisiensimu turun.

Nah, sama seperti menjaga kesadaran. Dengan menjadi sadar, kamu tahu persis kapan mata kamu mulai kelelahan, kapan kamu harus memperbaiki postur tubuh ketika duduk, bahkan kamu bisa menghindari kesalahan dalam pengetikan jika kamu benar-benar sadar dengan apa yang kamu ketik.

Apalagi ketika kamu sedang mendapatkan tugas tambahan yang harus dikerjakan segera. Kecenderungannya kita akan menjadi panik; sedangkan kepanikan malah membuat kita mengambil keputusan kurang bijak. Daripada seperti itu, lebih baik diam sejenak, tarik kembali kesadaran kita,  fokus pada kemampuan untuk mendengarkan, dan mengambil keputusan yang paling bijak setelah mempertimbangkan berbagai aspek.

3. Jadikan Tekanan Sebagai Teman

Penelitan terbaru yang dilakukan oleh University of Wisconsin – Madison adalah menanyakan 30ribu orang pertanyaan yang sama: “Apakah persepsi Anda mengenai ‘tekanan (stress) memberikan pengaruh pada kesehatan’ mempengaruhi Anda?”. Hasilnya sangat mencengangkan.

Peneliti menemukan bahwa orang yang mengalami stress yang tinggi namun percaya bahwa stress baik untuk dirinya, memiliki kecenderungan untuk memberikan tekanan kepada orang lain dengan mudah. Namun, orang dengan stress yang tinggi yang percaya bahwa stress berdampak buruk untuk kesehatannya, memiliki kemungkinan yang tinggi untuk menderita karena penyakitnya. Bagaimana cara kita memandang stress akan mempengaruhi bagaimana stress tersebut memberikan dampak kepada diri kita; jika kita terlalu meremehkannya, maka kita bisa saja merugikan orang lain. Namun jika kita terlalu menanggapinya secara berlebihan, hal tersebut malah bisa menjadi boomerang bagi diri kita sendiri.

“Science and mindfulness complement each other in helping people to eat well and maintain their health and well being.” – Thich Nhat Hanh

Dengan kemampuan untuk melihat stress dari sudut pandang berbeda, kita mungkin bisa menjadi lebih dapat menerima stress tersebut dengan lebih ikhlas. Misalnya, ketika atasan kita di kantor memberikan tekanan lebih besar dengan mengalihkan beberapa tanggung jawab pekerjaan kepada kita, hal ini secara tidak langsung memberikan kita kesempatan untuk melatih kemampuan kita di berbagai aspek yang mungkin tidak akan terlatih jika tekanan tersebut tidak diberikan.

Jika kamu ingin merangkul stress yang muncul, kamu perlu untuk mengubah cara berpikirmu tentang tekanan, maka tubuhmu akan merespon hal tersebut sesuai dengan pola pikirmu.

Kesadaran dapat membantu kamu mencapai perubahan pada berbagai hal; mulai dari pola kerja hingga persepsi. Ketika kamu menghadapi tantangan pekerjaan pada kesempatan berikutnya, sadari bagaimana pikiran dan tubuhmu memberikan respon. Amati respon yang muncul; jika respon yang muncul bersifat reaktif seperti jantung yang berdebar dan juga pikiran yang penuh kekhawatiran, kamu bisa mencoba untuk menarik kembali kesadaranmu dan mencoba memberikan respon terbaik terhadap tantangan tersebut.

Syukuri bagaimana tantangan tersebut malah memberikan kamu energi. Sadari juga bahwa tubuhmu juga sedang ikut mempersiapkanmu untuk menerima tantangan berikutnya dnegan mengirimkan oksigen lebih banyak keseluruh tubuhmu.

Bagaimana pendapatmu mengenai 3 cara yang saya bagikan di atas? Apakah ada yang pernah melakukan salah satu cara di atas? Jika ada, yuk share pengalamannya di kolom komentar!

Share the love...Share on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter